Semburan Lumpur Gunung Anyar, Warisan Geologi di Kota Surabaya
Jum'at, 08 Januari 2021 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan data kementerian ESDM menunjukkan, ada ratusan jumlah sumur bor minyak yang ada di lapangan KutiAnyar ini. Kedalaman bor pada zaman Belanda tidak sampai 300 meter. Laporan ini juga menyebutkan adanya semburan lumpur di Lidah dan semburan minyak di Semolowaru.
(Baca juga: PSBB, Kapasitas Pengunjung Resto dan Warkop di Surabaya Dibatasi Maksimal 25% )
"Ini berarti semburan lumpur Gununganyar sudah ada sejak tahun 1888, atau bahkan mungkin sebelumnya. Sebab semburan lumpur termasuk salah satu fenomena atau manivestasi adanya sumber daya minyak dan gas di kawasan tersebut," katanya.
Belanda melakukan eksploitasi minyak di kawasan ini atas dasar munculnya semburan lumpur di beberapa tempa di kawasan Gununganyar dan Kutisari. Seperti disebutkan sebelumnya, teknologi pengeboran waktu itu hanya kedalaman 300an meter, padahal semburan lumpur lapindo terjadi pada kedalaman 3000an meter.
"Oleh karenanya semburan Gununganyar tidak ada hubungan dengan semburan lumpur lapindo," tegas dia. (Baca juga: Gunung Anyar, Gunung dengan Semburan Lumpur di Tengah Perkampungan Surabaya )
Menurut Amin, Semburan Lumpur Gununganyar merupakan warisan Geologi karena memiliki nilai lebih. Disebut warisan karena menjadi rekaman yang pernah atau sedang terjadi di bumi karena nilai ilmiahnya tinggi, langka, unik, dan indah. Sehingga dapat digunakan untuk keperluan penelitian dan pendidikan kebumian.
(Baca juga: PSBB, Kapasitas Pengunjung Resto dan Warkop di Surabaya Dibatasi Maksimal 25% )
"Ini berarti semburan lumpur Gununganyar sudah ada sejak tahun 1888, atau bahkan mungkin sebelumnya. Sebab semburan lumpur termasuk salah satu fenomena atau manivestasi adanya sumber daya minyak dan gas di kawasan tersebut," katanya.
Belanda melakukan eksploitasi minyak di kawasan ini atas dasar munculnya semburan lumpur di beberapa tempa di kawasan Gununganyar dan Kutisari. Seperti disebutkan sebelumnya, teknologi pengeboran waktu itu hanya kedalaman 300an meter, padahal semburan lumpur lapindo terjadi pada kedalaman 3000an meter.
"Oleh karenanya semburan Gununganyar tidak ada hubungan dengan semburan lumpur lapindo," tegas dia. (Baca juga: Gunung Anyar, Gunung dengan Semburan Lumpur di Tengah Perkampungan Surabaya )
Menurut Amin, Semburan Lumpur Gununganyar merupakan warisan Geologi karena memiliki nilai lebih. Disebut warisan karena menjadi rekaman yang pernah atau sedang terjadi di bumi karena nilai ilmiahnya tinggi, langka, unik, dan indah. Sehingga dapat digunakan untuk keperluan penelitian dan pendidikan kebumian.
Lihat Juga :