Industri Logistik Percepat UMKM Naik Kelas
Kamis, 31 Desember 2020 - 23:55 WIB
loading...
A
A
A
Berbagai inovasi teknologi telah dibuat oleh perusahaan penyedia jasa logistik dan kurir agar kiriman terdistribusikan lebih cepat dan efisien. Penyedia jasa logistik, membuat sistem tracking kiriman mandiri, menetapkan tarif kompetitif, serta meningkatkan coverage, mencakup semua wilayah nusantara hingga mancanegara.
"Industri logistik bisa berperan lebih luas lagi mendorong pelaku UMKM dengan terlibat pada konsolidasi proses pemerolehan bahan baku, terutama yang didapat melalui impor. Begitupun mendukung proses ekspor produk jadinya," kata dia, Selasa (29/12/2020).
Menurut Setijadi, kesiapan infrastruktur membawa industri logistik berperan besar dalam mendorong recovery ekonomi akibat pandemi. Walaupun sempat terkontraksi, namun sektor logistik dan jasa kurir mampu menjadi penopang ekonomi di awal pandemi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), SCI mencatat sektor logistik tumbuh sebesar 1,27% (yoy) sampai triwulan 1/2020. Tak jauh beda dengan pencapaian semester I/2019 sebesar 5,45%.
Menurut dia, sektor logistik berkontribusi terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) triwulan I/2020 sebesar 5,17%. Hanya terkoreksi beberapa poin, jika dibandingkan dengan pencapaian triwulan I/2019 sebesar 5,53%. Sektor logistik, kata dia, mencakup sub sektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir.
Pertumbuhan tersebut, lanjut Setijadi, memberikan indikasi awal pemulihan sektor transportasi dan logistik. Indikasi lainnya adalah kenaikan nilai ekspor pada September 2020, tercapai USD14,01 miliar, mengalami kenaikkan 6,97% dibanding Agustus 2020. Sedangkan impor, mampu menembus angka USD11,57 miliar atau naik 7,71%.
"Jasa transportasi dan jasa logistik secara umum berperan penting, karena efisiensi logistik akan berdampak terhadap daya saing produk dan komoditas, maupun tingkat kesejahteraan masyarakat, terutama saat pandemi," kata Setijadi.
Transformasi Teknologi
Upaya bersama meningkatkan akses UMKM terhadap teknologi juga ditopang komitmen kuat penyedia jasa logistik dan kurir. Industri logistik secara sukarela menginvestasikan dananya agar distribusi barang lebih efisien, cepat, dan terjangkau.
Komitmen itu, ditunjukkan oleh PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) pada 13 Agustus 2020 lalu. Perusahaan ini melakukan topping off pembangunan mega hub atau gudang raksasa di kawasan pergudangan Bandara Mas, Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Fakta ini menandai akan dimulainya keandalan industri logistik secara infrastruktur, jaringan, teknologi dan sumber daya manusia (SDM).
Menurut Direktur Utama JNE, M Feriadi, pembangunan infrastruktur ini merupakan salah satu langkah JNE mewujudkan misi menjadi perusahaan rantai pasok global terdepan di dunia. Mega hub yang dibangun sejak 2018 itu, dibuat untuk menjawab peluang bisnis e-commerce yang berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.
"Langkah strategis ini merupakan bentuk komitmen kami memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan, sehingga JNE bisa mengantarkan kebahagiaan ke seluruh Indonesia, sesuai tagline kami #connectinghappiness,” jelas Feriadi.
Mendukung keandalan infrastrukturnya, JNE melengkapi mega hub ini dengan mesin sortir otomatis berteknologi tinggi. Perusahaan yang telah berkiprah selama tiga dekade ini, bekerjasama dengan Damon, perusahaan penyedia alat pendukung operasional logistik dan supply chain yang berpusat di Shanghai, China.
Menurut Feriadi, Mega Hub JNE dibangun di atas lahan seluas 4 hektare, dekat Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mesin otomatisasi canggih nantinya mampu menangani sekitar 30 juta paket per bulan, setara dengan 48.000 paket per jam. Lewat mega hub ini, JNE menjamin keandalan rantai pasok ke seluruh nusantara dan 250 negara dunia.
JNE, lanjut dia, akan terus berkomitmen memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Apalagi, pertumbuhan penjualan online secara daring memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. "Kami ingin UMKM bisa mengalami pertumbuhan yang baik, sehingga berdampak positif kepada perekonomian Nasional," ujar Feriadi.
"Industri logistik bisa berperan lebih luas lagi mendorong pelaku UMKM dengan terlibat pada konsolidasi proses pemerolehan bahan baku, terutama yang didapat melalui impor. Begitupun mendukung proses ekspor produk jadinya," kata dia, Selasa (29/12/2020).
Menurut Setijadi, kesiapan infrastruktur membawa industri logistik berperan besar dalam mendorong recovery ekonomi akibat pandemi. Walaupun sempat terkontraksi, namun sektor logistik dan jasa kurir mampu menjadi penopang ekonomi di awal pandemi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), SCI mencatat sektor logistik tumbuh sebesar 1,27% (yoy) sampai triwulan 1/2020. Tak jauh beda dengan pencapaian semester I/2019 sebesar 5,45%.
Menurut dia, sektor logistik berkontribusi terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) triwulan I/2020 sebesar 5,17%. Hanya terkoreksi beberapa poin, jika dibandingkan dengan pencapaian triwulan I/2019 sebesar 5,53%. Sektor logistik, kata dia, mencakup sub sektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir.
Pertumbuhan tersebut, lanjut Setijadi, memberikan indikasi awal pemulihan sektor transportasi dan logistik. Indikasi lainnya adalah kenaikan nilai ekspor pada September 2020, tercapai USD14,01 miliar, mengalami kenaikkan 6,97% dibanding Agustus 2020. Sedangkan impor, mampu menembus angka USD11,57 miliar atau naik 7,71%.
"Jasa transportasi dan jasa logistik secara umum berperan penting, karena efisiensi logistik akan berdampak terhadap daya saing produk dan komoditas, maupun tingkat kesejahteraan masyarakat, terutama saat pandemi," kata Setijadi.
Transformasi Teknologi
Upaya bersama meningkatkan akses UMKM terhadap teknologi juga ditopang komitmen kuat penyedia jasa logistik dan kurir. Industri logistik secara sukarela menginvestasikan dananya agar distribusi barang lebih efisien, cepat, dan terjangkau.
Komitmen itu, ditunjukkan oleh PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) pada 13 Agustus 2020 lalu. Perusahaan ini melakukan topping off pembangunan mega hub atau gudang raksasa di kawasan pergudangan Bandara Mas, Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Fakta ini menandai akan dimulainya keandalan industri logistik secara infrastruktur, jaringan, teknologi dan sumber daya manusia (SDM).
Menurut Direktur Utama JNE, M Feriadi, pembangunan infrastruktur ini merupakan salah satu langkah JNE mewujudkan misi menjadi perusahaan rantai pasok global terdepan di dunia. Mega hub yang dibangun sejak 2018 itu, dibuat untuk menjawab peluang bisnis e-commerce yang berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.
"Langkah strategis ini merupakan bentuk komitmen kami memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan, sehingga JNE bisa mengantarkan kebahagiaan ke seluruh Indonesia, sesuai tagline kami #connectinghappiness,” jelas Feriadi.
Mendukung keandalan infrastrukturnya, JNE melengkapi mega hub ini dengan mesin sortir otomatis berteknologi tinggi. Perusahaan yang telah berkiprah selama tiga dekade ini, bekerjasama dengan Damon, perusahaan penyedia alat pendukung operasional logistik dan supply chain yang berpusat di Shanghai, China.
Menurut Feriadi, Mega Hub JNE dibangun di atas lahan seluas 4 hektare, dekat Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mesin otomatisasi canggih nantinya mampu menangani sekitar 30 juta paket per bulan, setara dengan 48.000 paket per jam. Lewat mega hub ini, JNE menjamin keandalan rantai pasok ke seluruh nusantara dan 250 negara dunia.
JNE, lanjut dia, akan terus berkomitmen memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Apalagi, pertumbuhan penjualan online secara daring memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. "Kami ingin UMKM bisa mengalami pertumbuhan yang baik, sehingga berdampak positif kepada perekonomian Nasional," ujar Feriadi.
Lihat Juga :