Mengenang Arif Yoshizumi, Tokoh Intel Jepang Binaan Tan Malaka yang Gugur di Blitar

Jum'at, 18 Desember 2020 - 05:00 WIB
loading...
A A A
Mulai saat itu, dalam pergerakannya Yoshizumi memakai nama Arif Tomegoro Yoshizumi. Pada permukaan salah satu nisan penghuni Taman Makam Pahlawan (TMP) Raden Wijaya Kota Blitar, nama itu (Arif Tomegoro Yoshizumi) masih terbaca cukup jelas.

TMP Raden Wijaya berada di pinggir Jalan raya Syodanco Soeprijadi, Kota Blitar. Dari Monumen PETA yang berlokasi di seberang jalan, hanya berjarak 100 meter. TMP ini merupakan satu satunya komplek peristirahatan terakhir para pahlawan di Blitar.

Saat melangkah masuk ke ruang lebih dalam, membentang dua area komplek makam yang berukuran lebar. Makam makam yang berjajar rapi dan bersih. Namun terlihat jarang diziarahi. Pada komplek sisi barat terdapat 466 makam. Kemudian komplek timur sebanyak 462 makam.

Diteduhi pohon cemara yang rindang serta deretan tanaman puring yang tumbuh subur, makam Arif Tomegoro Yoshizumi berada di komplek barat. Yakni, pada deret kelima dari monumen perjuangan (dalam TMP), dengan arah mata angin sebelah utara. Pada daftar nama penghuni TMP yang tertempel pada dinding berbingkai kaca, nama Arif Tomegoro Yoshizumi berada pada urutan 141. Ada keterangan tambahan berpangkat letnan kolonel, beragama Islam, dan wafat tahun 1948.

Dalam catatan buku hariannya, Shigeru Ono alias Rahmat, rekan Yoshizumi di Pasukan Gerilya Istimewa pro republik, menyebut Arif (Tomegoro Yoshizumi) meninggal dunia pada 10 Agustus 1948. Yoshizumi gugur saat bergerilya di Gunung Sengon, kawasan Wlingi Kabupaten Blitar. "Dia dimakamkan di makam Angkatan Darat sekitar Blitar," tulis Shigeru Ono alias Rahmat.

Yoshizumi merupakan komandan Pasukan Gerilya Istimewa. Pasukan yang sebagian besar beranggotakan Kempeitai dan bekas tentara Jepang. Mereka adalah orang orang Jepang yang memilih bersimpati pada republik sekaligus melawan sekutu beserta Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.

Tomegoro Yoshizumi lahir tahun 1911 di Oizumimura Nishitagawa, Prefektur Yamagata, Jepang. Yoshizumi pertama kali masuk ke Pulau Jawa sebagai mata mata militer Jepang pada tahun 1932. Ia sempat menyamar sebagai saudagar yang namanya cukup terkenal di Batavia. Pada tahun 1935, setelah pulang dari Jepang, Yoshizumi untuk kedua kalinya kembali ke Jawa.

Kali ini ia menyaru sebagai jurnalis koran Nichiran Shogyo Shinbun, yakni koran bisnis Jepang di Hindia Timur. Setelah perjumpaanya dengan Tan Malaka di rumah Ahmad Subardjo paska Proklamasi kemerdekaan, Yoshizumi dan Nishijima kerap bertemu Tan secara sembunyi sembunyi di Cikini Raya, Jakarta.

Sejarawan Harry A. Poeze menyebut Kaigun Bukanfu Daisangka yang dipimpin Yoshizumi, memang sangat bersimpati dengan kaum nasionalis kiri Indonesia. "Berkali kali kantor Kaigun Bukanfu digunakan sebagai tempat berlindung orang orang Indonesia dari pengejaran Kempeitai," tulis Harry A. Poeze.

Bersama Tan Malaka, Yoshizumi dan Nishijima merancang aksi militer dan gerilya. Terutama di wilayah Banten, Bogor dan Jakarta. Tujuannya satu, yakni melawan tentara sekutu (NICA) dan Belanda yang hendak kembali menduduki Indonesia. Dalam situasi politik yang tidak menentu itu (Setelah proklamasi kemerdekaan) Yoshizumi aktif membangun laskar gerilya.

Kelompok gerilyawan tersebut kemudian menyatu dengan kelompok Persatuan Perjuangan bentukan Tan Malaka. Sebelum gugur di kawasan hutan Sengon, Wlingi, Kabupaten Blitar, jejak pergerakan Yoshizumi muncul di Surabaya. Yoshizumi berhasil mempengaruhi Affandi, pimpinan PAL (Penataran Angkatan Laut).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Rekomendasi
TB Hasanuddin Kritik...
TB Hasanuddin Kritik Pelibatan Komcad dalam Pengamanan Demo Mahasiswa: Berpotensi Picu Konflik Horizontal
Rekor Sempurna Belanda...
Rekor Sempurna Belanda Terjaga di Piala Dunia, Virgil van Dijk Jadi Sorotan
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Berita Terkini
Ini Titik Demo Mahasiswa,...
Ini Titik Demo Mahasiswa, 5.955 Personel Kepolisian Dikerahkan Jaga Aksi Unjuk Rasa
Demo Mahasiswa Berlanjut!...
Demo Mahasiswa Berlanjut! BEM Universitas Bung Karno Bawa 6 Tuntutan
Polda Metro: 2 Kasino...
Polda Metro: 2 Kasino Berkedok Timezone Omzetnya Capai Rp2,1 Miliar
10 Ruas Jalan di Jakarta...
10 Ruas Jalan di Jakarta Ditutup saat Presiden Jerman Melintas Besok Pagi
Megawati Ziarah ke Makam...
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno, Hasto: Untuk Merawat Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam
Jakarta Fair 2026, Dishub...
Jakarta Fair 2026, Dishub DKI Jakarta Siapkan 6 Kantong Parkir
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved