Prof Al Makin: Keberagaman Adalah Kunci Kemajuan Peradaban
Rabu, 13 Mei 2020 - 07:43 WIB
loading...
A
A
A
"Al Farabi dan Ibnu Khaldun telah memberi peringatan buat kita pentingnya harmoni dan pentingnya menjaga keragaman," ungkap Al Makin.
Dalam khazanah Nusantara, Al Makin, menyebut kejayaan Majapahit kuncinya terletak pada keragaman dan keselarasan. Pada masa Majapahit ada dua tradisi utama dari India, yaitu Hindu dan Budha.
Dari Majapahit inilah konsep Bhineka Tunggal Ika diadopsi dari Kitab Sutasoma, yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Al Makin menyebutkan bahwa Indonesia sejak awal sejarah berdirinya sangat menghargai keragaman. Hal itu terlihat dari sikap akomodatif para founding fathers, mulai dari Soekarno, Hatta, dan yang lain
Keragaman Indonesia terlihat dari Bahasa Indonesia, yang terdiri dari berbagai macam bahasa, yaitu bahasa daerah dan bahasa asing.
Harmoni akan keragaman di Nusantara juga ditunjukkan oleh proses sejarah masuknya Islam. Berbeda dengan di wilayah lain, di Nusantara tidak ada penaklukkan atau futuh.
Ada banyak teori bagaimana Islam itu datang, diantaranya melalui perdagangan yaitu dari Gujarat. Ada teori asimilasi, misalnya dengan China. Ada teori Islam di bawa melalui Tasawuf, yaitu melalui gerakan sufi, dan ada juga Islam itu datang dan diperkuat dengan politik, seperti di Aceh, Demak, dan Tidore. Menurut Al Makin semua teori itu menghargai keragaman.
"Artinya Islam itu dibawa ke Indonesia melalui adaptasi dengan merangkul bukan memukul," tegas Al Makin.
Dalam khazanah Nusantara, Al Makin, menyebut kejayaan Majapahit kuncinya terletak pada keragaman dan keselarasan. Pada masa Majapahit ada dua tradisi utama dari India, yaitu Hindu dan Budha.
Dari Majapahit inilah konsep Bhineka Tunggal Ika diadopsi dari Kitab Sutasoma, yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Al Makin menyebutkan bahwa Indonesia sejak awal sejarah berdirinya sangat menghargai keragaman. Hal itu terlihat dari sikap akomodatif para founding fathers, mulai dari Soekarno, Hatta, dan yang lain
Keragaman Indonesia terlihat dari Bahasa Indonesia, yang terdiri dari berbagai macam bahasa, yaitu bahasa daerah dan bahasa asing.
Harmoni akan keragaman di Nusantara juga ditunjukkan oleh proses sejarah masuknya Islam. Berbeda dengan di wilayah lain, di Nusantara tidak ada penaklukkan atau futuh.
Ada banyak teori bagaimana Islam itu datang, diantaranya melalui perdagangan yaitu dari Gujarat. Ada teori asimilasi, misalnya dengan China. Ada teori Islam di bawa melalui Tasawuf, yaitu melalui gerakan sufi, dan ada juga Islam itu datang dan diperkuat dengan politik, seperti di Aceh, Demak, dan Tidore. Menurut Al Makin semua teori itu menghargai keragaman.
"Artinya Islam itu dibawa ke Indonesia melalui adaptasi dengan merangkul bukan memukul," tegas Al Makin.
Lihat Juga :