Prof Al Makin: Keberagaman Adalah Kunci Kemajuan Peradaban
Rabu, 13 Mei 2020 - 07:43 WIB
loading...
A
A
A
Ia menyebutkan contoh adaptasi tersebut melalui arsitektur Masjid di Kudus peninggalan Sunan Kudus yang mirip dengan tempat suci di Bali. Sunan Kudus, kata Al Makin, tidak merubah arsitektur masjid bernuansa Jawa, Hindu dan Budha.
Menurut Al Makin, Orang berperilaku ekstrim atau tidak mau menerima unsur lain karena tidak menyadari sejarah.
Ia menekankan bahwa menanamkan moderasi, yang pertama adalah mengenalkan keragaman lewat sejarah.
"Kalau kita menyadari sejarah, kita runut pelan-pelan seperti tadi, maka kita akan menjadi moderat, sikap kita akan di tengah-tengah. Oh ternyata Islam seribu tahun lalu tidak menolak eksistensi yang lain," kata Al Makin.
Al Makin menambhakan, untuk menumbuhkan kesadaran keberagaman kita diperlukan pembiasaan diri, pengalaman berupa interaksi dengan orang yang berbeda, entah suku atau agama.
Ia mencontohkan hal tersebut sebagaimana dipraktekkan kehidupan masyarakat di Singapura dan Malaysia. Di dua negara tersebut telah diterapkan sistem kuota.
"Misalnya di Singapura, apartemen itu harus dihuni sekian persen sekian persen etnis China, sekian persen etnis Melayu, sekian persen etnis Bule, sekian persen etnis India, sekian persen etnis yang lain," jelas Al Makin.
"Dengan begitu, pengalaman hidup bergaul dengan budaya dan tradisi yang berbeda itu terbentuk," tambah Al Makin.
Menurut Al Makin, Orang berperilaku ekstrim atau tidak mau menerima unsur lain karena tidak menyadari sejarah.
Ia menekankan bahwa menanamkan moderasi, yang pertama adalah mengenalkan keragaman lewat sejarah.
"Kalau kita menyadari sejarah, kita runut pelan-pelan seperti tadi, maka kita akan menjadi moderat, sikap kita akan di tengah-tengah. Oh ternyata Islam seribu tahun lalu tidak menolak eksistensi yang lain," kata Al Makin.
Al Makin menambhakan, untuk menumbuhkan kesadaran keberagaman kita diperlukan pembiasaan diri, pengalaman berupa interaksi dengan orang yang berbeda, entah suku atau agama.
Ia mencontohkan hal tersebut sebagaimana dipraktekkan kehidupan masyarakat di Singapura dan Malaysia. Di dua negara tersebut telah diterapkan sistem kuota.
"Misalnya di Singapura, apartemen itu harus dihuni sekian persen sekian persen etnis China, sekian persen etnis Melayu, sekian persen etnis Bule, sekian persen etnis India, sekian persen etnis yang lain," jelas Al Makin.
"Dengan begitu, pengalaman hidup bergaul dengan budaya dan tradisi yang berbeda itu terbentuk," tambah Al Makin.
(nun)
Lihat Juga :