Aktivitas Terus Meningkat, 4 Gunung di Indonesia Berstatus Siaga

loading...
Aktivitas Terus Meningkat, 4 Gunung di Indonesia Berstatus Siaga
Ilustrasi/SINDOnews/Dok
BANDUNG - Selain Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berstatus siaga, ternyata ada tiga gunung lainnya di Indonesia yang berstatus siaga atau level 3.

Ketiga gunung itu adalah Gunung Merapi di Yogyakarta, Gunung Sinabung di Sumatera Utara , dan Gunung Karangetang di Pulau Siau, Sulawesi Utara.

Gunung Ili Lewotolok, tercatat mengalami kenaikan status menjadi level 3 atau siaga sejak 29 November 2020.

Data kegempaan dalam tiga bulan terakhir terekam fliktuatif, kegempaan didominasi oleh gempa vulkanik dalam yang terekam maksimal sebanyak 26 kejadian pada tanggal 14 September 2020.



Namun, relatif menurun dan rata-rata terekam sebanyak 1 hingga 12 kejadian per hari. Gunung Api Ili Lewotolok mengalami erupsi pertama pada tanggal 27 November 2020 pukul 05:57 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 500 m di atas puncak (± 1.923 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

Erupsi kedua terjadi pada tanggal 29 November 2020 pukul 09:45 WITA dengan tinggi kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam tinggi 4000 m di atas puncak (± 5.423 m di atas permukaan laut) dengan intensitas tebal condong ke arah barat di kolom bagian bawah dan ke arah timur di kolom bagian atas.

Selanjutnya Gunung Sinabung tercatat berstatus siaga sejak 20 Mei 2019. Gunung Sinabung hingga kini terus menunjukkan peningkatan aktivitas.



Terakhir, terjadi erupsi G. Sinabung, Sumatera Utara pada tanggal 29 November 2020 pukul 18:02 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 400 m di atas puncak (± 2.860 m di atas permukaan laut).

Erupsi tersebut menyebabkan Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi ± 1 menit 27 detik.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kasbani meminta masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radiusl 3 km dari puncak Gunung Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

Kemudian Gunung Merapi ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) berlaku mulai tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB.

Peningkatan status ini berdasarkan evaluasi data pemantauan bahwa aktivitas vulkanik saat ini dapat berlanjut ke erupsi yang membahayakan penduduk.

Sejak bulan Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif. Pada 4 November 2020 rata-rata gempa VB 29 kali/hari, MP 272 kali/hari, Guguran (RF) 57 kali/hari, Hembusan (DG) 64 kali/hari. Laju pemendekan EDM Babadan mencapai 11 cm/hari. Energi kumulatif gempa (VT dan MP) dalam setahun sebesar 58 GJ.

"Kondisi data pemantauan di atas sudah melampaui kondisi menjelang munculnya kubah lava 26 April 2006, tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi sebelum erupsi 2010," kata dia.

Sampai saat ini kegempaan dan deformasi masih terus meningkat. Berdasarkan hal tersebut dimungkinkan terjadi proses ekstrusi magma secara cepat atau letusan eksplosif. Potensi ancaman bahaya berupa guguran lava, lontaran material dan awan panas sejauh maksimal 5 km.

Terakhir, Badan Geologi memberikan status Gunung Karangetang masih tetap berada di Level III (Siaga). Namun dilakukan perubahan penambahan zona bahayanya.

Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi.

(Baca juga: Bisnis Makin Moncer, Kenali Tantangan dan Peluang Startup Ini)

Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016 dimana pusat erupsinya saat itu di Kawah Utama (Kawah Selatan) dan ancaman bahaya utamanya berupa guguran lava maupun awan panas guguran ke arah Timur-Tenggara dan Barat daya.

Pada erupsinya di tahun 2015, dilakukan evakuasi Desa Kola-kola di Wilayah Bebali (sebelah Timur-Tenggara G. Karangetang).

Pasca evakuasi, desa ini terlanda awan panas guguran sehingga kemudian desa ini direlokasi. Setelah 2 tahun tidak erupsi, kini Gunung Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.

(Baca juga: Kegiatan Megamendung Habib Rizieq Masuk Penyidikan, Polda Bakal Panggil Saksi)

Hingga November, ternyata 3 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 8-18 mm, dan lama gempa 20-36 detik. 1 kali gempa Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-3 mm, dominan 1 mm.

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
(boy)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top