Inspirasi Ibu-ibu PKK Kembangkan Hidroponik di Warga Kampung Becek
Jum'at, 27 November 2020 - 13:25 WIB
loading...
Ketua Relawan Indonesia Bersatu Sandiaga Uno melihat tanaman hidroponik yang dikembangkan Kelompok Tani DSyafa, Kampung Becek, Kelurahan Malaka, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (27/11/2020). Foto/Dok. SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Menyulap ruang sempit menjadi lahan hijau memang bukan perkara mudah. Namun dengan sistem hidroponik , hal itu bisa lebih mudah direalisasikan.
Salah satu keberhasilan ini dicapai Kelompok Tani D'Syafa, Kampung Becek, Kelurahan Malaka, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Menerapkan urban farming , gerakan yang diinisiasi ibu-ibu PKK RW 05 ini mencoba memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri kala dampak pandemi Covid-19 menghantam perekonomian mereka. (Baca juga: Budidaya Sayur Hidroponik, Jadi Tren Masyarakat Era Revolusi Industri 4.0)
Melalui inovasi pertanian dengan metode aquaponik budidaya ikan dalam ember, kini lahan bekas pembuangan puing dan sampah di jadi hijau dengan tanaman teleng, kelor, pokcoy, kangkung, bayam. "Tadinya banyak puing dan sampah, akibatnya banyak orang terkena DBD di situ, akhirnya kami berinisiatif mengubahnya," kata anggota kelompok D'Syafa, Haryati, Jumat (27/11/2020).
Bagi warga, berkebun mendekatkan mereka pada sumber makanan. Sayur mayur yang ditanam sendiri lebih jelas perawatannya dan harganya pun lebih murah. Di pasaran, harga sayuran organik dibanderol 2-3 kali lipat dari sayur pada umumnya. (Baca juga: Penyuluh Harus Manfaatkan Momentum Tren Hidroponik di Perkotaan)
Ditumbuhi lebih dari 10 jenis tanaman, akhirnya seluruh sayuran bisa diperuntukan bagi warga serta dipasarkan ke sejumlah konsumennya. "Warga mengusulkan agar hasil tanaman tadi dijadikan tambahan lauk. Dari situ, saya berpikir caranya agar hasil tanam ini bisa mendapatkan nilai jual lebih lagi," tambahnya.
Salah satu keberhasilan ini dicapai Kelompok Tani D'Syafa, Kampung Becek, Kelurahan Malaka, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Menerapkan urban farming , gerakan yang diinisiasi ibu-ibu PKK RW 05 ini mencoba memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri kala dampak pandemi Covid-19 menghantam perekonomian mereka. (Baca juga: Budidaya Sayur Hidroponik, Jadi Tren Masyarakat Era Revolusi Industri 4.0)
Melalui inovasi pertanian dengan metode aquaponik budidaya ikan dalam ember, kini lahan bekas pembuangan puing dan sampah di jadi hijau dengan tanaman teleng, kelor, pokcoy, kangkung, bayam. "Tadinya banyak puing dan sampah, akibatnya banyak orang terkena DBD di situ, akhirnya kami berinisiatif mengubahnya," kata anggota kelompok D'Syafa, Haryati, Jumat (27/11/2020).
Bagi warga, berkebun mendekatkan mereka pada sumber makanan. Sayur mayur yang ditanam sendiri lebih jelas perawatannya dan harganya pun lebih murah. Di pasaran, harga sayuran organik dibanderol 2-3 kali lipat dari sayur pada umumnya. (Baca juga: Penyuluh Harus Manfaatkan Momentum Tren Hidroponik di Perkotaan)
Ditumbuhi lebih dari 10 jenis tanaman, akhirnya seluruh sayuran bisa diperuntukan bagi warga serta dipasarkan ke sejumlah konsumennya. "Warga mengusulkan agar hasil tanaman tadi dijadikan tambahan lauk. Dari situ, saya berpikir caranya agar hasil tanam ini bisa mendapatkan nilai jual lebih lagi," tambahnya.