Kemenag Pasok Naskah Khutbah Jumat, DMI Blitar Sebut Khatib Independen
Rabu, 25 November 2020 - 20:06 WIB
loading...
A
A
A
Begitu juga dengan khatib-khatibnya beserta isi khotbahnya. Mereka, kata Kiai Farhan tidak terbiasa diinstruksi, yakni termasuk oleh ormas yang menaungi. Isi khutbah Jumat yang dibaca rata rata cerminan dari situasi dan kondisi jamaah. Karenanya, mereka tidak mungkin melakukan khotbah panjang. Sebab hal itu justru menimbulkan kegaduhan. (Baca juga: Lewat Lukisan, Satpol PP Jatim Ajak Seniman Jadi Duta Protokol Kesehatan )
"Walaupun baik isinya, kegaduhan bukan karena isi, tapi durasi waktu yang terlalu panjang," jelas Kiai Farhan yang berharap naskah khutbah Jumat juga memperhatikan durasi. Dalam kesempatan itu Kiai Farhan juga terang terangan mengatakan, upaya negara melakukan deradikalisasi sejak dini melalui naskah khutbah Jumat layak diparesiasi. Ia mencontohkan di Blitar Raya.
Potensi gerakan radikalisme diakui ada. Namun tidak dalam situasi yang mengkhawatirkan seperti di kota besar, Jakarta misalnya. Kendati demikian, menurut Kiai Farhan upaya deradikalisasi harus terus dilakukan. Termasuk salah satunya melalui tempat ibadah. Bisa jadi potensi besar ada di media sosial. Namun jika tidak dicegah dari segala lini, apa yang terjadi di media sosial, kata Kiai Farhan bisa teraktualisasi di kehidupan nyata.
"Pada konteks pencegahan, upaya yang dilakukan tentu lebih baik daripada menunggu situasi mengkhawatirkan," terang Kiai Farhan. Dalam kesempatan itu Kiai Farhan juga menyampaikan pandangan, bahwa upaya deradikalisasi seyogyanya tidak hanya melalui pendekatan agama. Sebab akar radikalisme tidak lepas dari faktor ekonomi dan keadilan global. (Baca juga: Demi Bisa Wisuda Sarjana di Usia 78 Tahun, Adik Wapres Try Sutrisno Rela Mandi Jam 1 Pagi )
Kalau hanya dihubungkan dengan pola pikir pandangan beragama, Kiai Farhan khawatir tingkat keberhasilan upaya deradikalisasi tidak bisa berjalan optimal. "Sebagai upaya layak diparesiasi. Cuma efektifitasnya itu sejauh mana," pungkas Kiai Farhan.
"Walaupun baik isinya, kegaduhan bukan karena isi, tapi durasi waktu yang terlalu panjang," jelas Kiai Farhan yang berharap naskah khutbah Jumat juga memperhatikan durasi. Dalam kesempatan itu Kiai Farhan juga terang terangan mengatakan, upaya negara melakukan deradikalisasi sejak dini melalui naskah khutbah Jumat layak diparesiasi. Ia mencontohkan di Blitar Raya.
Potensi gerakan radikalisme diakui ada. Namun tidak dalam situasi yang mengkhawatirkan seperti di kota besar, Jakarta misalnya. Kendati demikian, menurut Kiai Farhan upaya deradikalisasi harus terus dilakukan. Termasuk salah satunya melalui tempat ibadah. Bisa jadi potensi besar ada di media sosial. Namun jika tidak dicegah dari segala lini, apa yang terjadi di media sosial, kata Kiai Farhan bisa teraktualisasi di kehidupan nyata.
"Pada konteks pencegahan, upaya yang dilakukan tentu lebih baik daripada menunggu situasi mengkhawatirkan," terang Kiai Farhan. Dalam kesempatan itu Kiai Farhan juga menyampaikan pandangan, bahwa upaya deradikalisasi seyogyanya tidak hanya melalui pendekatan agama. Sebab akar radikalisme tidak lepas dari faktor ekonomi dan keadilan global. (Baca juga: Demi Bisa Wisuda Sarjana di Usia 78 Tahun, Adik Wapres Try Sutrisno Rela Mandi Jam 1 Pagi )
Kalau hanya dihubungkan dengan pola pikir pandangan beragama, Kiai Farhan khawatir tingkat keberhasilan upaya deradikalisasi tidak bisa berjalan optimal. "Sebagai upaya layak diparesiasi. Cuma efektifitasnya itu sejauh mana," pungkas Kiai Farhan.
(eyt)
Lihat Juga :