Kenangan Sardi, Berjibaku Menyelamatkan Diri Dari Amuk Wedhus Gembel
Minggu, 15 November 2020 - 17:10 WIB
loading...
A
A
A
Sementara saat erupsi tahun 2010, Gunung Merapi meluncurkan awan panas atau dalam bahasa lokal warga disebut wedhus gembel, ia tak berpikir dampaknya begitu dahsyat yakni menimbun kampungnya (kaliadem). (Baca juga: Belasan Pohon Tumbang Akibat Angin Kencang, 2 Mobil dan 1 Motor Rusak Parah )
"Posisi saya saat itu di rumah biasa aktivitas, tidak berpikir letusan Merapi bakal menimbun kampung seperti ini. Dibanding tahun-tahun sebelumnya erupsi Merapi tahun 2010 memang lebih parah. Suara keras bergemuruh membuat kaca jendela bergetar tanpa henti, waktu itu kejadian malam jumat," ujar Sardi.
Saat bersamaan, dirinya juga mendapat kabar di Umbulmartani juga ada letupan besar, ternyata benar. "Saya tidak bisa tidur, tahu-tahu jam 12 malam warga dari atas sudah turun dalam kondisi hujan pasir. Kemudian paginya ada warga yang naik, ternyata kampung sudah habis. Esoknya saya naik ternyata memang terpendam," ujarnya. (Baca juga: Gempar Buaya Raksasa Masuk Permukiman, Warga Ramai-ramai Menangkapnya )
Dari rentetan erupsi Merapi yang dialaminya, ia mengamati jika kejadian-kejadian letusan Gunung Merapi terjadi setiap akhir tahun. Seperti halnya di tahun 2020, BPPTG telah menaikkan status Gunung Merapi dari level II (Waspada) menjadi level III (Siaga).
"Saat ini Merapi Siaga, kita hanya akan patuh pada saran dari Pemerintah. Ada instruksi turun ya turun, tak bisa abaikan. Yang sudah-sudah jadi pelajaran. Harapan saya warga cepat menerima informasi atau himbaun," katanya.
"Posisi saya saat itu di rumah biasa aktivitas, tidak berpikir letusan Merapi bakal menimbun kampung seperti ini. Dibanding tahun-tahun sebelumnya erupsi Merapi tahun 2010 memang lebih parah. Suara keras bergemuruh membuat kaca jendela bergetar tanpa henti, waktu itu kejadian malam jumat," ujar Sardi.
Saat bersamaan, dirinya juga mendapat kabar di Umbulmartani juga ada letupan besar, ternyata benar. "Saya tidak bisa tidur, tahu-tahu jam 12 malam warga dari atas sudah turun dalam kondisi hujan pasir. Kemudian paginya ada warga yang naik, ternyata kampung sudah habis. Esoknya saya naik ternyata memang terpendam," ujarnya. (Baca juga: Gempar Buaya Raksasa Masuk Permukiman, Warga Ramai-ramai Menangkapnya )
Dari rentetan erupsi Merapi yang dialaminya, ia mengamati jika kejadian-kejadian letusan Gunung Merapi terjadi setiap akhir tahun. Seperti halnya di tahun 2020, BPPTG telah menaikkan status Gunung Merapi dari level II (Waspada) menjadi level III (Siaga).
"Saat ini Merapi Siaga, kita hanya akan patuh pada saran dari Pemerintah. Ada instruksi turun ya turun, tak bisa abaikan. Yang sudah-sudah jadi pelajaran. Harapan saya warga cepat menerima informasi atau himbaun," katanya.
(eyt)
Lihat Juga :