Terkubur 61 Tahun, Jejak Trem Malang Kembali Muncul ke Permukaan
Rabu, 11 November 2020 - 17:57 WIB
loading...
A
A
A
"Sangat disayangkan hilangnya trem sebagai alat transportasi di Malang Raya ini, karena adanya trem saya yakini akan dapat memecah kemacetan lalulintas dan mengatasi kebutuhan transportasi masal," ujar Endiarto. (Baca juga: Mengintip Petilasan Ken Dedes, Ibu Para Raja Nusantara )
![Terkubur 61 Tahun, Jejak Trem Malang Kembali Muncul ke Permukaan]()
Mantan Kepala Stasiun Trem Tumpang, Sujatno yang pernah ditemui pada tahun 2009 silam, mengungkapkan pada zamannya trem berfungsi untuk angkutan manusia dan barang, utamanya hasil kebun baik arang, ketela, maupun gula dan kopi.
Pria uzur yang saat ditemui 11 tahun silam masih tinggal di perumahan kuno di depan bekas Stasiun Trem Tumpang itu, menyebutkan pada masa jayanya jalur trem Malang-Tumpang melayani hingga empat pemberangkatan.
Stasiun Trem Tumpang merupakan pemberhentian terakhir trem dari Malang. Ada sekitar empat sampai lima rangkaian gerbong yang ditarik, tiga di antaranya untuk angkutan manusia, sisanya untuk mengangkut barang.
Saat ini kondisi Stasiun Trem Tumpang sendiri cukup mengenaskan, selain hanya tersisa jendela besi dan loket pembelian karcis yang masih ditulis dengan ejakan lama, bangunannya juga sudah berubah total dan menjadi tempat penjualan sayur mayur.
Trem Malang-Tumpang, menurut Sujatno yang akrab disapa Pak Chef, berakhir beroperasi sekitar tahun 1969, penyebabnya karena jalurnya rusak berat setelah dihantam banjir bandang. (Baca juga: Belajar Islam dan Kemerdekaan Beragama Dari KH Oesman Mansoer )
Banjirnya terjadi di wilayah Tumpang, dan air bahnya sangat besar, sehingga rel trem melesat dari jalurnya sekitar 100 meter. Banjir bandang ini terjadi di akhir tahun 1968. Setelah banjir bandang yang menerpa wilayah Tumpang berakhir, jalur trem berhenti sementara untuk perbaikan jalur selama dua bulan.
Pasca perbaikan trem hanya mampu beroperasi selama tiga bulan kemudian ditutup. Ditutupnya trem jalur Malang-Tumpang tersebut, terjadi sekitar tahun 1969. Sebagian jalurnya sempat masih dimanfaatkan untuk angkutan bahan bakar dari Jagalan ke Lanud Abdulrachman Saleh.
Banyak memori dan manfaat yang besar dari trem bagi masyarakat pada waktu itu. Mungkin apabila jalur tersebut masih beroperasi, kemacetan lalulintas yang selama ini menjadi momok di Malang Raya dapat terurai.

Mantan Kepala Stasiun Trem Tumpang, Sujatno yang pernah ditemui pada tahun 2009 silam, mengungkapkan pada zamannya trem berfungsi untuk angkutan manusia dan barang, utamanya hasil kebun baik arang, ketela, maupun gula dan kopi.
Pria uzur yang saat ditemui 11 tahun silam masih tinggal di perumahan kuno di depan bekas Stasiun Trem Tumpang itu, menyebutkan pada masa jayanya jalur trem Malang-Tumpang melayani hingga empat pemberangkatan.
Stasiun Trem Tumpang merupakan pemberhentian terakhir trem dari Malang. Ada sekitar empat sampai lima rangkaian gerbong yang ditarik, tiga di antaranya untuk angkutan manusia, sisanya untuk mengangkut barang.
Saat ini kondisi Stasiun Trem Tumpang sendiri cukup mengenaskan, selain hanya tersisa jendela besi dan loket pembelian karcis yang masih ditulis dengan ejakan lama, bangunannya juga sudah berubah total dan menjadi tempat penjualan sayur mayur.
Trem Malang-Tumpang, menurut Sujatno yang akrab disapa Pak Chef, berakhir beroperasi sekitar tahun 1969, penyebabnya karena jalurnya rusak berat setelah dihantam banjir bandang. (Baca juga: Belajar Islam dan Kemerdekaan Beragama Dari KH Oesman Mansoer )
Banjirnya terjadi di wilayah Tumpang, dan air bahnya sangat besar, sehingga rel trem melesat dari jalurnya sekitar 100 meter. Banjir bandang ini terjadi di akhir tahun 1968. Setelah banjir bandang yang menerpa wilayah Tumpang berakhir, jalur trem berhenti sementara untuk perbaikan jalur selama dua bulan.
Pasca perbaikan trem hanya mampu beroperasi selama tiga bulan kemudian ditutup. Ditutupnya trem jalur Malang-Tumpang tersebut, terjadi sekitar tahun 1969. Sebagian jalurnya sempat masih dimanfaatkan untuk angkutan bahan bakar dari Jagalan ke Lanud Abdulrachman Saleh.
Banyak memori dan manfaat yang besar dari trem bagi masyarakat pada waktu itu. Mungkin apabila jalur tersebut masih beroperasi, kemacetan lalulintas yang selama ini menjadi momok di Malang Raya dapat terurai.
(eyt)
Lihat Juga :