Kisah Mbah Manshur, Penyepuh Bambu Runcing Bertuah dalam Pertempuran 10 November
Selasa, 10 November 2020 - 20:03 WIB
loading...
A
A
A
Sejumlah orang yang tanpa sengaja melangkahi tali yang diletakkan di atas tanah begitu saja, mendadak lemas dan pingsan. "Kalau dinalar memang tidak masuk akal. Bambu runcing bisa mengalahkan senapan mesin," kata Mbah Hisyam. Soal kemampuan menyepuh atau menyuwuk bambu runcing itu tidak lepas dari perjalanan Mbah Manshur ke Pondok Pesantren Bambu Runcing, Parakan, Temanggung.
Mbah Sumagunardo atau Kiai Sumagunardo merupakan ayah dari Kiai Muhaiminan Gunardo, pendiri Ponpes Bambu Runcing. Mbah Sumagunardo terkenal memiliki ilmu hikmah menyepuh bambu runcing untuk melawan penjajah. Sepulang dari Paraan Temanggung dengan naik kereta api, kata Mbah Hisyam, ayahnya membawa bambu kuning dengan ujung sudah dilancipkan. Mungkin berbagi peran kewilayahan.
Menurut Mbah Hisyam, sejak saat itu seluruh penyepuhan bambu runcing para pejuang santri asal Jawa Timur yang sebelumnya dilakukan di Paraan, Temanggung, berpindah ke Mbah Manshur Blitar. "Tidak hanya pejuang santri Blitar dan sekitarnya. Tapi seluruh daerah di Jawa Timur," tambah Mbah Hisyam. Seingat Mbah Hisyam, masih dalam suasana perang, Bung Tomo sang orator pertempuran 10 November Surabaya, juga pernah menemui Mbah Manshur.
Gus Maksum atau Kiai Maksum Jauhari dari Lirboyo Kediri yang sekaligus pendiri perguruan silat NU Pagar Nusa, juga rutin bertemu ayahnya. Setiap bulan puasa, Gus Maksum mondok di tempat Mbah Manshur. Menurut Mbah Hisyam, ayahnya tiga kali terjun langsung ke medan pertempuran di Surabaya. Pada saat Belanda melancarkan agresi pertamanya, Mbah Manshur sempat dicari dan dikejar kejar karena ketahuan sebagai penyepuh bambu runcing.
"Kami sekeluarga sempat mengungsi di kawasan gunung gedang, daerah lereng Gunung Kelud," kenang Mbah Hisyam. Pada masa setelah kemerdekaan, Mbah Manshur aktif sebagai pengurus Partai Masyumi, mewakili unsur NU. Mbah Manshur wafat pada tahun 1964 karena sakit. Dari delapan orang putra putri Mbah Manshur, menurut Mbah Hisyam hanya tinggal dirinya yang masih hidup. Dalam perjalanan karirnya di NU, Mbah Hisyam pernah menjabat sebagai Syuriah NU Kabupaten Blitar.
Kemudian juga pernah aktif di jajaran Dewan Syuro PKB Kabupaten Blitar. Kakek enam cucu itu berharap kisah perjuangan merebut sekaligus mempertahankan kemerdekaan yang melibatkan kaum santri dan ulama, bisa menginspirasi generasi muda saat ini. "Terutama generasi muda yang datang dari kalangan pondok pesantren," pungkas Mbah Hisyam.
Mbah Sumagunardo atau Kiai Sumagunardo merupakan ayah dari Kiai Muhaiminan Gunardo, pendiri Ponpes Bambu Runcing. Mbah Sumagunardo terkenal memiliki ilmu hikmah menyepuh bambu runcing untuk melawan penjajah. Sepulang dari Paraan Temanggung dengan naik kereta api, kata Mbah Hisyam, ayahnya membawa bambu kuning dengan ujung sudah dilancipkan. Mungkin berbagi peran kewilayahan.
Menurut Mbah Hisyam, sejak saat itu seluruh penyepuhan bambu runcing para pejuang santri asal Jawa Timur yang sebelumnya dilakukan di Paraan, Temanggung, berpindah ke Mbah Manshur Blitar. "Tidak hanya pejuang santri Blitar dan sekitarnya. Tapi seluruh daerah di Jawa Timur," tambah Mbah Hisyam. Seingat Mbah Hisyam, masih dalam suasana perang, Bung Tomo sang orator pertempuran 10 November Surabaya, juga pernah menemui Mbah Manshur.
Gus Maksum atau Kiai Maksum Jauhari dari Lirboyo Kediri yang sekaligus pendiri perguruan silat NU Pagar Nusa, juga rutin bertemu ayahnya. Setiap bulan puasa, Gus Maksum mondok di tempat Mbah Manshur. Menurut Mbah Hisyam, ayahnya tiga kali terjun langsung ke medan pertempuran di Surabaya. Pada saat Belanda melancarkan agresi pertamanya, Mbah Manshur sempat dicari dan dikejar kejar karena ketahuan sebagai penyepuh bambu runcing.
"Kami sekeluarga sempat mengungsi di kawasan gunung gedang, daerah lereng Gunung Kelud," kenang Mbah Hisyam. Pada masa setelah kemerdekaan, Mbah Manshur aktif sebagai pengurus Partai Masyumi, mewakili unsur NU. Mbah Manshur wafat pada tahun 1964 karena sakit. Dari delapan orang putra putri Mbah Manshur, menurut Mbah Hisyam hanya tinggal dirinya yang masih hidup. Dalam perjalanan karirnya di NU, Mbah Hisyam pernah menjabat sebagai Syuriah NU Kabupaten Blitar.
Kemudian juga pernah aktif di jajaran Dewan Syuro PKB Kabupaten Blitar. Kakek enam cucu itu berharap kisah perjuangan merebut sekaligus mempertahankan kemerdekaan yang melibatkan kaum santri dan ulama, bisa menginspirasi generasi muda saat ini. "Terutama generasi muda yang datang dari kalangan pondok pesantren," pungkas Mbah Hisyam.
(shf)
Lihat Juga :