Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Malang Benar! Hidup Nek Saniyem Bergantung pada Para Dermawan

loading...
Malang Benar! Hidup Nek Saniyem Bergantung pada Para Dermawan
Malang Benar! Hidup Nek Saniyem Bergantung pada Para Dermawan. Foto/ SINDOnews. Fadly Pelka
BATUBARA - Nasib baik dan nasib buruk seseorang memang sudah menjadi takdir kehidupan insan manusia. Namun bila terdengar pengakuan seseorang yang tekadang tak makan karena tidak ada penghasilan, ini sudah masuk kategori ekonomi paling parah.

Lalu, masih adakah sosok warga yang nasibnya 'semalang' polesan itu Kabupaten Batubara?

Jawabnya ada, Saniyem namanya, 80 tahun sudah usianya. Nenek renta yang tinggal di rumah reot peninggalan almarhum suaminya, di Dusun Pulau Putri, Desa Antara, Kec Lima Puluh, Kab Batubara.

Memang, sejak sepeninggalan suaminya, Saniyem masih bisa mempalar usaha dengan mengutip biji sawit (brondolan) di sekitar perkebunan. Hasil usahanya itulah ia manfaatkan untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari.



Maklum saja, nenek yang hidup sebatang kara itu tidak kecipratan bantuan pemerintah baik PKH maupun bantuan jenis lainnya. (Baca juga : Miris! Pasutri Lansia Hidup dengan Menjual Lidi Rp2.800 per Hari )

Namun malang tak dapat ia tolak, diusianya yang semakin senja Saniyem mengaku kini dirinya tidak lagi mempunyai penghasilan. Sebab mau mencari berondolan sudah tidak bisa, mau menjual ayam yang dipeliharanya masih kecil dan tidak laku sehingga untuk bertahan hidup Nek Saniyem hanya mengharapkan belas kasih orang-orang dermawan.

"Arep nggolek brondolan wes ora iso, arep dol ayam sek cilik, ora payu. Gawe mangan yo ngerep di ka'i uwong", kata Saniyem dengan logat Jawanya.

"Kalau sakit kek mana nek? Entalah, awaq pasrah aja. Mau beli obat ngak ada uangnya," jawab Saniyem polos-polos saja.

Begitulah Saniyem, meski hidup banyak kekurangan, ia tidak melupakan pemberian orang.

Ia mengaku pernah mendapat bantuan bahan sembako namun ia tidak tahu persis dari siapa bantuan itu didapatkannya. Namun pastinya hingga kini bantuan PKH tak berpihak padanya.



Tidak hanya Saniyem, sejumlah janda tua renta yang tinggal di Dusun sama juga nyaris bernasib sama pula.

Marmi (82) janda renta yang sudah terganggu pendengarannya, Runi (88) yang namanya lenyap dari daftar penerima PKH serta Tia (75) yang harus menjalani hidup tanpa penglihatan yang nyata.

Ketiga janda berusia senja ini tidak mempunyai penghasilan dan patut menjadi perhatian pemerintah terutama pemerintahan desa.

"Terima kasih bapak-bapak, semoga Allah memberikan keluasan rezeki dan semoga bapak-bapak sehat selalu," doa para janda tua itu kepada Tim Wappress Batubara saat menyambanginya.
(nfl)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top