Melihat Wisata Kampung Cokelat Blitar yang Mulai Menggeliat
Selasa, 03 November 2020 - 19:06 WIB
loading...
Tampak wisata Kampung Cokelat di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupate Blitar. Foto/SINDOnews/Solichan Arif
A
A
A
BLITAR - Pagi belum genap pukul 7, Fauzi (43) sudah stand by di seberang jalan pintu masuk wisata Kampung Cokelat Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar, Jawa Timur . Posisinya setengah bersandar pada meja kayu tempat jualan sayuran. Tangan laki laki berkulit sawo matang itu tidak berhenti melambai lambai ke setiap kendaraan yang berlalu lalang.
"Parkir. Parkir," teriak Fauzi yang hanya berkaos oblong tanpa lengan dipadu celana pendek di bawah lutut. Terlihat sedikit raut kecewa, ketika kendaraan hanya melintas dan menjauh. Wajahnya berubah sumringah ketika sebuah mobil Toyota Kijang Inova meluncur dari arah utara melambatkan kecepatan. Mendekat. Fauzi reflek beranjak. Ia sudah hafal. (Baca juga: Khofifah Minta Rakaraki Jadi Garda Depan Promosikan Wisata Jatim )
Kendaraan yang mengurangi laju kecepatan, bisa dipastikan hendak mencari tempat parkir. "Masih longgar, masih longgar," teriak Fauzi dengan wajah bersimbah peluh. Hanya sekejap Fauzi dan sopir kijang yang kacanya terbuka separuh itu, saling beradu pandang. Seperti perkiraanya. Toyota Kijang syarat penumpang itu langsung membelok masuk ke pelataran rumahnya.
Sebuah area parkir yang cukup luas. Pada bagian atas terpasang jaring paranet yang berfungsi sebagai peneduh. Di sana sudah ada tiga roda empat lain. Fauzi mengarahkan sopir Kijang Inova untuk merapikan posisi kendaraan."Bayarnya langsung pak. Sepuluh ribu," kata Fauzi kepada sopir kijang sebelum bergegas meninggalkan lokasi parkir menuju wisata Kampung Cokelat.
Begitulah situasi parkiran tempat wisata Kampung Cokelat di masa pandemi COVID-19. Baru di bulan Oktober, kata Fauzi, situasi mulai berangsur angsur normal. Warga yang memiliki area parkir di masing masing tempat tinggalnya, mulai kembali mendapat pemasukan. "Memang belum bisa dikatakan normal. Tapi sudah lumayan," tutur Fauzi. (Baca juga: Resmi Dibuka Gubernur, MITF 2019 Semakin Agresif Mengangkat Pariwisata Jatim )
"Parkir. Parkir," teriak Fauzi yang hanya berkaos oblong tanpa lengan dipadu celana pendek di bawah lutut. Terlihat sedikit raut kecewa, ketika kendaraan hanya melintas dan menjauh. Wajahnya berubah sumringah ketika sebuah mobil Toyota Kijang Inova meluncur dari arah utara melambatkan kecepatan. Mendekat. Fauzi reflek beranjak. Ia sudah hafal. (Baca juga: Khofifah Minta Rakaraki Jadi Garda Depan Promosikan Wisata Jatim )
Kendaraan yang mengurangi laju kecepatan, bisa dipastikan hendak mencari tempat parkir. "Masih longgar, masih longgar," teriak Fauzi dengan wajah bersimbah peluh. Hanya sekejap Fauzi dan sopir kijang yang kacanya terbuka separuh itu, saling beradu pandang. Seperti perkiraanya. Toyota Kijang syarat penumpang itu langsung membelok masuk ke pelataran rumahnya.
Sebuah area parkir yang cukup luas. Pada bagian atas terpasang jaring paranet yang berfungsi sebagai peneduh. Di sana sudah ada tiga roda empat lain. Fauzi mengarahkan sopir Kijang Inova untuk merapikan posisi kendaraan."Bayarnya langsung pak. Sepuluh ribu," kata Fauzi kepada sopir kijang sebelum bergegas meninggalkan lokasi parkir menuju wisata Kampung Cokelat.
Begitulah situasi parkiran tempat wisata Kampung Cokelat di masa pandemi COVID-19. Baru di bulan Oktober, kata Fauzi, situasi mulai berangsur angsur normal. Warga yang memiliki area parkir di masing masing tempat tinggalnya, mulai kembali mendapat pemasukan. "Memang belum bisa dikatakan normal. Tapi sudah lumayan," tutur Fauzi. (Baca juga: Resmi Dibuka Gubernur, MITF 2019 Semakin Agresif Mengangkat Pariwisata Jatim )
Lihat Juga :