Komunitas Virtual

Jum'at, 08 Mei 2020 - 08:56 WIB
loading...
A A A
Kegiatan ini sangat menghibur dan produktif. Komunikasi dengan teman-teman tetap berlangsung. Kadang bingung untuk membuat pilihan ketika menerima beberapa undangan dalam waktu yang bersamaan yang semuanya menarik diikuti. Saya ikut tidak selalu sebagai pembicara, tetapi lebih banyak sebagai pendengar layaknya seorang mahasiswa duduk manis di kelas. Dan itu saya nikmati betul.

Dengan mengikuti berbagai forum diskusi virtual, saya semakin menyadari munculnya banyak intelektual muda dalam berbagai bidang keilmuan dengan kualitas akademik yang tidak diragukan. Atau setidaknya banyak pencinta ilmu yang serius dan terus mengembangkan dirinya.

Kondisi ini sangat jauh berbeda dari suasana keilmuan ketika saya berada pada usia mereka. Dua puluh tahun lalu, aktivis sosial dan ilmuwan yang meraih strata kesarjanaan S2/S3 masih langka. Alumni universitas luar negeri masih jarang. Hari ini beragam sarjana dengan latar belakang disiplin keilmuan bermunculan dan mereka bisa bertukar pikiran melalui diskusi virtual, tanpa semangat menggurui. Semua merasa setara karena siapa saja bisa mengakses sumber informasi keilmuan tanpa harus duduk menjadi mahasiswa, tetapi melalui e-book atau mengikuti ceramah di YouTube dari ilmuwan kelas dunia.

Komunitas virtual yang saya ikuti umumnya bersifat egaliter dan dialogis. Beda dari mendengarkan ceramah umum yang kadang bersifat ideologis dan provokatif. Di masa pandemi ini praktis tak ada kerumunan massa. Orang terkondisikan tinggal di rumah untuk melakukan kontemplasi, membaca buku, dekat pada Tuhan, dan menumbuhkan sikap empati pada teman-teman kita yang memerlukan bantuan. Ini sebuah peluang untuk belajar dan beramal.

Ada beberapa teman yang khawatir berakhirnya pandemi ini akan mengakhiri diskusi virtual yang mulai terbangun dengan bagus dan produktif ini. Mengadakan acara diskusi keilmuan off-air di atas 100 orang itu sangat mahal biayanya, termasuk melawan kemacetan di jalan. Semoga saja berbagai acara sarasehan yang dilakukan setiap minggu selama pandemi setidaknya tetap bisa dilakukan sebulan sekali. Sayang sekali jika benih tradisi budaya keilmuan yang mulai tumbuh tadi tiba-tiba layu dan mati dengan matinya Covid-19.
(nth)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tips Untuk Anda Yang...
Tips Untuk Anda Yang Akan Melakukan Ngabuburit Virtual
Rekomendasi
Jadi Kepala BGN, Nanik...
Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang: Mohon Dikoreksi Kalau Kami Salah
Timnas Indonesia Tekuk...
Timnas Indonesia Tekuk Timor Leste 3-0 di Piala AFF U-19 2026
AMI: Kebudayaan sebagai...
AMI: Kebudayaan sebagai Solusi Krisis Kepribadian Bangsa
Berita Terkini
Bripka Dedy Wiratama...
Bripka Dedy Wiratama yang Bekingi Kampung Narkoba Samarinda Dipecat
GBK Diprediksi Dipadati...
GBK Diprediksi Dipadati Puluhan Ribu Pengunjung Akhir Pekan Ini, Dishub Siapkan Rekayasa Lalin
Soal Aturan Baru Kemenkes,...
Soal Aturan Baru Kemenkes, Bupati Bondowoso Komitmen Lindungi Petani Tembakau
Mengukur Kunci Sukses...
Mengukur Kunci Sukses Daerah, RGSS Resmi Hadir
Lampung Kukuhkan Diri...
Lampung Kukuhkan Diri sebagai Sentra Semangka Nasional
PPP Banten Gelar Mukerwil...
PPP Banten Gelar Mukerwil V, Fokus Konsolidasi Hadapi Verifikasi Pemilu 2029
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved