LIPA' Project Eksplorasi Makna Sarung ke Bentuk Seni Kolaborasi
Jum'at, 23 Oktober 2020 - 21:02 WIB
loading...
A
A
A
Workshop intensif akan mempertemukan para seniman dengan para praktisi sarung, diantaranya Ridwan Alimuddin (Motif dan Mitos Sarung Mandar), Nurwahidah-Ida EL Bahra (Sarung, Seni, dan Panggung), Dinny Jusuf (Makna Corak Sarung Toraja), Juwita Purnamasari (Serba-Serbi Sarung Sutera Bugis), dan Dahri Dahlan (Peranan Perempuan Penenun di Mandar).
Berbekal hasil workshop, para seniman yang terlibat akan berkolaborasi memproduksi karya yang menjadikan sarung sabagai subjek utama penceritaannya.
Baca Juga: Majukan Suatu Daerah Perlu Merangkul Semua Elemen Termasuk Seniman
Seniman dan Project Leader, Rachmat Mustamin menyampaikan harapannya agar LIPA’ Project dapat menjadi proyek seni kolaboratif yang berdampak baik bagi seniman, penonton, dan pelestarian sarung.
“Harapan saya untuk LIPA' Project ini adalah kita dapat mengetahui serta mempelajari lebih jauh bahwa sarung tidak hanya sekadar selembar kain penutup tubuh, tetapi ada cerita, peristiwa dan bacaan yang terkandung di dalamnya baik dari segi motif maupun dalam konteks sosial-politiknya," ujarnya.
Mempresentasikan hasil workshop dalam bentuk seni berbasis digital/virtual, lanjut dia, akan lebih mendekatkan seniman dengan penontonnya, apalagi di masa-masa pandemi seperti ini.
"Saya juga berharap akan lahirnya diskusi-diskusi yang membicarakan sarung baik dari segi estetika maupun konteks lain, sepanjang proyek ini berlangsung," katanya.
Berbekal hasil workshop, para seniman yang terlibat akan berkolaborasi memproduksi karya yang menjadikan sarung sabagai subjek utama penceritaannya.
Baca Juga: Majukan Suatu Daerah Perlu Merangkul Semua Elemen Termasuk Seniman
Seniman dan Project Leader, Rachmat Mustamin menyampaikan harapannya agar LIPA’ Project dapat menjadi proyek seni kolaboratif yang berdampak baik bagi seniman, penonton, dan pelestarian sarung.
“Harapan saya untuk LIPA' Project ini adalah kita dapat mengetahui serta mempelajari lebih jauh bahwa sarung tidak hanya sekadar selembar kain penutup tubuh, tetapi ada cerita, peristiwa dan bacaan yang terkandung di dalamnya baik dari segi motif maupun dalam konteks sosial-politiknya," ujarnya.
Mempresentasikan hasil workshop dalam bentuk seni berbasis digital/virtual, lanjut dia, akan lebih mendekatkan seniman dengan penontonnya, apalagi di masa-masa pandemi seperti ini.
"Saya juga berharap akan lahirnya diskusi-diskusi yang membicarakan sarung baik dari segi estetika maupun konteks lain, sepanjang proyek ini berlangsung," katanya.
Lihat Juga :