Novita Hardini Mochamad Serahkan Bantuan untuk Pejuang PAUD
Kamis, 07 Mei 2020 - 11:51 WIB
loading...
A
A
A
"Kenapa saya bilang Rp35.000, karena saya sudah menerima datanya," ujar Novita.
Ada sekitar 500 lebih guru PAUD yang non PNS, kurang lebih sekitar 200-an guru menerima gaji di bawah Rp50.000, itu sebelum pandemi COVID-19 ada. Mengingat pandemi ini muncul dan mereka tidak mendapatkan gaji sama sekali, jangankan Rp35.000 atau Rp50.000, Rp10.000 saja tidak dapat. PKK berusaha keras memperjuangkan hak hak mereka.
"Selama dana desa bisa dipakai, atau swadaya masyarakat itu masih bisa digerakkan kami akan tetap terus berjuang," kata Ketua TP PKK Trenggalek ini.
Pendidik PAUD di Pertiwi Pule, Sarti, membenarkan selama pandemi corona ini dirinya belum menerima gaji sama sekali. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya mengandalkan kegiatan di hutan. "Kami menanam beberapa sayuran di hutan untuk sekedar mengurangi beban hidup setiap hari," kata dia.
Kondisi ini diperparah karena adanya pembelajaran di rumah tentunya harus banyak pulsa untuk mengirimkan materi pembelajaran kepada siswa. Bahkan juga untuk berkomunikasi dengan para orang tua untuk menanyakan perkembangan anak selama pembelajaran dirumah berlangsung.
Belum lagi bila orang tua murid yang tidak memiliki alat komunikasi telepon seluler (ponsel) atau ponselnya tidak mendukung, sehingga perlu dilakukan pendekatan lebih. Meskipun ikhlas dan tetap semangat untuk menjalankan tugas ini, Sarti berharap ada uluran pemerintah untuk meringankan beban hidupnya.
Ada sekitar 500 lebih guru PAUD yang non PNS, kurang lebih sekitar 200-an guru menerima gaji di bawah Rp50.000, itu sebelum pandemi COVID-19 ada. Mengingat pandemi ini muncul dan mereka tidak mendapatkan gaji sama sekali, jangankan Rp35.000 atau Rp50.000, Rp10.000 saja tidak dapat. PKK berusaha keras memperjuangkan hak hak mereka.
"Selama dana desa bisa dipakai, atau swadaya masyarakat itu masih bisa digerakkan kami akan tetap terus berjuang," kata Ketua TP PKK Trenggalek ini.
Pendidik PAUD di Pertiwi Pule, Sarti, membenarkan selama pandemi corona ini dirinya belum menerima gaji sama sekali. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya mengandalkan kegiatan di hutan. "Kami menanam beberapa sayuran di hutan untuk sekedar mengurangi beban hidup setiap hari," kata dia.
Kondisi ini diperparah karena adanya pembelajaran di rumah tentunya harus banyak pulsa untuk mengirimkan materi pembelajaran kepada siswa. Bahkan juga untuk berkomunikasi dengan para orang tua untuk menanyakan perkembangan anak selama pembelajaran dirumah berlangsung.
Belum lagi bila orang tua murid yang tidak memiliki alat komunikasi telepon seluler (ponsel) atau ponselnya tidak mendukung, sehingga perlu dilakukan pendekatan lebih. Meskipun ikhlas dan tetap semangat untuk menjalankan tugas ini, Sarti berharap ada uluran pemerintah untuk meringankan beban hidupnya.
(nth)