Difablepreneur Sriekandi Patra Berdayakan Penyandang Disabilitas di Boyolali
Minggu, 11 Oktober 2020 - 16:22 WIB
loading...
A
A
A
Ketika moodnya sudah turun, maka ibu ibu relawan sosial di Sriekandi Patra harus turun tangan. “Kalau ibu ibu sudah turun tangan, maka mood mereka balik lagi,” ujar Siti Fatimah.
Produk yang dihasilkan harganya bervariasi. Seperti dompet Rp25 ribu, sandal Rp40 ribu, sarung bantal sofa Rp100 ribu, selendang Rp300 ribu, dan kain batik ukuran 2,5 meter dibanderol Rp600 ribu untuk motif biasa, dan pesanan Rp750 ribu.
Community Development Officer, PT Pertamina Fuel Terminal Boyolali Noor Azharul Fuad mengatakan, workshop Sriekandi Patra sebelum pandemi COVID-19 berlangsung Senin-Jumat pukul 09-15.00 WIB. Saat Pandemi dipersingkat menjadi pukul 09.00-13.00 WIB.
Pertamina memfasilitasi segala kebutuhan Sriekandi Patra sebagai mitra binaan, mulai dari gedung, peralatan, pelatihan. “Untuk tanahnya milik tanah kas Desa Tawangsari,” ungkap Noor Azharul Fuad.
Difabel menjadi sasaran CSR setelah melalui social maping yang dilakukan. Salah satu rekomendasinya programnya ada potensi pemberdayaan disabilitas di Desa Tawangsari. Pada 2018 terdata sebanyak 29 orang penyandang disabilitas di desa tersebut.
Namun dari 29 orang, sejauh ini baru bisa diberdayakan 5 orang. Salah satu kendalanya adalah ada yang masuk bukan usia produktif. Selain itu, ada penyandang disabilitas tuna grahita yang masuk kategori berat.
Sempat ada tambahan dua penyandang disabilitas untuk masuk. Hanya saja, baru sekali atau dua kali datang, mereka sudah tidak berminat. “Untuk grahita memang agak lebih susah. Kalau yang sudah ada di sini adalah daksa dan rungu wicara,” tutur Noor.
Selain untuk penyandang disabilitas di Desa Tawangsari, pihaknya berupaya memperluas jangkauan ke desa lain di sekitarnya. Namun sejauh ini, belum ada yang datang untuk turut mengikuti program Difablepreneur Sriekandi Patra.
Pihaknya juga akan berupaya memberdayakan para pengurus Workshop Sriekandi Patra. Mereka akan dibekali pelatihan dari profesional di bidang marketing pemasaran.
Program Difablepreneur Sriekandi Patra sudah mulai memberikan dampak kesejahteraan bagi pesertanya. Mereka yang semula diam di rumah tanpa pekerjaan, kini sudah mampu membeli handphone sendiri hingga memberikan uang bulanan kepada orangtuanya. Ke depan mereka akan terus didorong masuk level mandiri. Dan harapannya mampu berwirausaha meski hal itu diakui masih sangat jauh.
Produk yang dihasilkan harganya bervariasi. Seperti dompet Rp25 ribu, sandal Rp40 ribu, sarung bantal sofa Rp100 ribu, selendang Rp300 ribu, dan kain batik ukuran 2,5 meter dibanderol Rp600 ribu untuk motif biasa, dan pesanan Rp750 ribu.
Community Development Officer, PT Pertamina Fuel Terminal Boyolali Noor Azharul Fuad mengatakan, workshop Sriekandi Patra sebelum pandemi COVID-19 berlangsung Senin-Jumat pukul 09-15.00 WIB. Saat Pandemi dipersingkat menjadi pukul 09.00-13.00 WIB.
Pertamina memfasilitasi segala kebutuhan Sriekandi Patra sebagai mitra binaan, mulai dari gedung, peralatan, pelatihan. “Untuk tanahnya milik tanah kas Desa Tawangsari,” ungkap Noor Azharul Fuad.
Difabel menjadi sasaran CSR setelah melalui social maping yang dilakukan. Salah satu rekomendasinya programnya ada potensi pemberdayaan disabilitas di Desa Tawangsari. Pada 2018 terdata sebanyak 29 orang penyandang disabilitas di desa tersebut.
Namun dari 29 orang, sejauh ini baru bisa diberdayakan 5 orang. Salah satu kendalanya adalah ada yang masuk bukan usia produktif. Selain itu, ada penyandang disabilitas tuna grahita yang masuk kategori berat.
Sempat ada tambahan dua penyandang disabilitas untuk masuk. Hanya saja, baru sekali atau dua kali datang, mereka sudah tidak berminat. “Untuk grahita memang agak lebih susah. Kalau yang sudah ada di sini adalah daksa dan rungu wicara,” tutur Noor.
Selain untuk penyandang disabilitas di Desa Tawangsari, pihaknya berupaya memperluas jangkauan ke desa lain di sekitarnya. Namun sejauh ini, belum ada yang datang untuk turut mengikuti program Difablepreneur Sriekandi Patra.
Pihaknya juga akan berupaya memberdayakan para pengurus Workshop Sriekandi Patra. Mereka akan dibekali pelatihan dari profesional di bidang marketing pemasaran.
Program Difablepreneur Sriekandi Patra sudah mulai memberikan dampak kesejahteraan bagi pesertanya. Mereka yang semula diam di rumah tanpa pekerjaan, kini sudah mampu membeli handphone sendiri hingga memberikan uang bulanan kepada orangtuanya. Ke depan mereka akan terus didorong masuk level mandiri. Dan harapannya mampu berwirausaha meski hal itu diakui masih sangat jauh.
(awd)
Lihat Juga :