Kisah Pertarungan Sengit Santri Tebu Ireng Melawan Dukun Sakti Kebo Ireng
Minggu, 27 September 2020 - 04:57 WIB
loading...
A
A
A
Saat Wiro mengejar dan hendak memukul dengan jurus pamungkasnya, dengan cepat Abdullah mengelak sembari melepaskan pukulan beruntun kearah leher dan ulu hati Wiro.
Wiro pun ambruk menerima pukulan Abdullah. Sontak para anak buah Wiro beserta Sartini yang terlihat cemas, mendatangi Wiro yang terkapar dengan luka dalam serius. Karena Wiro tak dapat bergerak, Abdullah dinyatakan sebagai pemenang dan Wiro digotong pulang oleh anak buahnya.
Kemenangan santri padepokan KH Hasyim langsung menyebar ke masyarakat termasuk ke telinga Belanda. Sehingga belanda mulai was-was bakal kehilangan seorang yang dapat diandalkan memimpin Kebo Ireng.
Terlebih sekitar satu bulan kemudian, Wiro akhinya meninggal karena luka dalam. Seorang dukun sakti yang tidak mampu mengobati penyakitnya sendiri.
Semakin hari Kebo Ireng semakin sepi, karena tidak ada lagi pemimpin yang diandalkan, ditambah kepergian Sartini karena selalu berselisih pendapat dengan pemimpin Kebo Ireng pengganti Wiro yang ditunjuk belanda yaitu Joyo Rumpono.
Masayarkat pun mulai tertarik mendatangi padepokan KH Hasyim untuk belajar bela diri dan agama. Sehingga murid padepokan semakin banyak.
Dan tepat pada tahun 1906 atau tujuh tahun berdirinya padepokan, KH Hasyim Asy’ari resmi mengubah padepokan menjadi pesantren dengan nama Tebu Ireng.
Nama ini mempunyai filosofis yang berarti tebu yang paling baik jenisnya adalah Tebu Ireng, batang tebu yang berwarna hitam."Di Pondok Pesantren Tebu Ireng ini kita berharap anak didik yang belajar, ibarat tanaman tebu hitam yang kelak akan beguna dan bernilai tinggi di masyarakat, bangsa dan agama," ujar KH Hasyim Asy’ari.
Kemudian pada tahun 1913 karena rasa trauma Belanda terhadap perjuangan Pangeran Dipenogoro yang banyak didukung kalangan pesantren. Belanda pun menyerang Pondok Pesantren Tebu Ireng.
Dalam penyerangan tersebut, sepertinya Belanda bukan hanya ingin menangkap KH Hasyim, tapi juga membunuhnya. Namun berkat kesigapan para santri, KH Hasyim berhasil dibawa kabur keluar pesantren saat penyerangan oleh Belanda.
Pesantren yang dibangun dengan susah payah itu akhirnya rata di bakar oleh Belanda. Beberapa santri yang sempat memberikan perlawanan diperintahkan untuk mundur karena tidak mungkin mampu melawan senjata api.
Tidak butuh waktu lama, kabar peristiwa pembakaran Pondok Pesantren Tebu Ireng oleh Belanda menyebar ke seluruh Jawa dan Madura.
Berita besar-besaran tentang penyerangan ini diliput surat kabar yang beredar di Surabaya, Semarang, Batavia, Bandung dan Malang, menimbulkan simpati dan dukungan yang begitu besar terhadap KH Hasyim Asy’ari. (Baca: Misteri Pertarungan Surontanu Lawan Joko Tulus, Dua Murid Pesantren Berbeda Jalan).
Hal ini tidak terlepas dari Serikat Islam yang pada Januari 1913 mulai menerbitkan harian Oetoesan Hindia sebagai organ resminya.
Hanya dalam dua puluh hari setelah penyerangan, hampir seribu simpatisan datang dan mengirimkan bahan bangunan, uang, makanan serta tenaga untuk mendirikan kembali bangunan Pondok Pesantren Tebu Ireng.
Dukungan masyarakat yang meluas ke seantero Jawa serta tekanan dari Parlemen di negeri Belanda atas tindakan sewenang-wenang di tanah koloni, membuat aparat Belanda di Dusun Cukir tidak berkutik. Hal inilah yang menyelamatkan Hasyim Asy’ari dan pesantrennya.
Sumber:
Buku Guru Sejati Hasyim Asy'ari, penulis Masyamsul Huda, penerbit Pustaka Inspira
Diolah dari berbagai sumber
Wiro pun ambruk menerima pukulan Abdullah. Sontak para anak buah Wiro beserta Sartini yang terlihat cemas, mendatangi Wiro yang terkapar dengan luka dalam serius. Karena Wiro tak dapat bergerak, Abdullah dinyatakan sebagai pemenang dan Wiro digotong pulang oleh anak buahnya.
Kemenangan santri padepokan KH Hasyim langsung menyebar ke masyarakat termasuk ke telinga Belanda. Sehingga belanda mulai was-was bakal kehilangan seorang yang dapat diandalkan memimpin Kebo Ireng.
Terlebih sekitar satu bulan kemudian, Wiro akhinya meninggal karena luka dalam. Seorang dukun sakti yang tidak mampu mengobati penyakitnya sendiri.
Semakin hari Kebo Ireng semakin sepi, karena tidak ada lagi pemimpin yang diandalkan, ditambah kepergian Sartini karena selalu berselisih pendapat dengan pemimpin Kebo Ireng pengganti Wiro yang ditunjuk belanda yaitu Joyo Rumpono.
Masayarkat pun mulai tertarik mendatangi padepokan KH Hasyim untuk belajar bela diri dan agama. Sehingga murid padepokan semakin banyak.
Dan tepat pada tahun 1906 atau tujuh tahun berdirinya padepokan, KH Hasyim Asy’ari resmi mengubah padepokan menjadi pesantren dengan nama Tebu Ireng.
Nama ini mempunyai filosofis yang berarti tebu yang paling baik jenisnya adalah Tebu Ireng, batang tebu yang berwarna hitam."Di Pondok Pesantren Tebu Ireng ini kita berharap anak didik yang belajar, ibarat tanaman tebu hitam yang kelak akan beguna dan bernilai tinggi di masyarakat, bangsa dan agama," ujar KH Hasyim Asy’ari.
Kemudian pada tahun 1913 karena rasa trauma Belanda terhadap perjuangan Pangeran Dipenogoro yang banyak didukung kalangan pesantren. Belanda pun menyerang Pondok Pesantren Tebu Ireng.
Dalam penyerangan tersebut, sepertinya Belanda bukan hanya ingin menangkap KH Hasyim, tapi juga membunuhnya. Namun berkat kesigapan para santri, KH Hasyim berhasil dibawa kabur keluar pesantren saat penyerangan oleh Belanda.
Pesantren yang dibangun dengan susah payah itu akhirnya rata di bakar oleh Belanda. Beberapa santri yang sempat memberikan perlawanan diperintahkan untuk mundur karena tidak mungkin mampu melawan senjata api.
Tidak butuh waktu lama, kabar peristiwa pembakaran Pondok Pesantren Tebu Ireng oleh Belanda menyebar ke seluruh Jawa dan Madura.
Berita besar-besaran tentang penyerangan ini diliput surat kabar yang beredar di Surabaya, Semarang, Batavia, Bandung dan Malang, menimbulkan simpati dan dukungan yang begitu besar terhadap KH Hasyim Asy’ari. (Baca: Misteri Pertarungan Surontanu Lawan Joko Tulus, Dua Murid Pesantren Berbeda Jalan).
Hal ini tidak terlepas dari Serikat Islam yang pada Januari 1913 mulai menerbitkan harian Oetoesan Hindia sebagai organ resminya.
Hanya dalam dua puluh hari setelah penyerangan, hampir seribu simpatisan datang dan mengirimkan bahan bangunan, uang, makanan serta tenaga untuk mendirikan kembali bangunan Pondok Pesantren Tebu Ireng.
Dukungan masyarakat yang meluas ke seantero Jawa serta tekanan dari Parlemen di negeri Belanda atas tindakan sewenang-wenang di tanah koloni, membuat aparat Belanda di Dusun Cukir tidak berkutik. Hal inilah yang menyelamatkan Hasyim Asy’ari dan pesantrennya.
Sumber:
Buku Guru Sejati Hasyim Asy'ari, penulis Masyamsul Huda, penerbit Pustaka Inspira
Diolah dari berbagai sumber
(nag)
Lihat Juga :