Mengunjungi Ponpes Nurul Ummahat di Tengah Permukiman Warga Kotagede
Selasa, 05 Mei 2020 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Kiprah Kiai Abdul Muhaimin dalam berbagai kegiatan sosial ternyata juga memberi warna. Berbagai kegiatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang menghadirkan tokoh-tokoh agama lain sering digelar di pondok ini. Para santri juga diajak menggeluti wacana gender, demokrasi, dan HAM, tapi berbasis tafsir.
"Ponpes Putri Nurul Ummahat memang berbeda dengan pondok lainnya khususnya yang ada di Yogya. Pondok ini memiliki visi-misi modern, moderat, manusiawi. Ponpes ini pula terbuka untuk semua kalangan dalam arti, semua orang, baik personal atau organisasi bisa ikut belajar mengaji di sini," ujar Eva Lutfiani 'Azizah, salah satu santri di Nurul Ummahat.
Mahasiswi Manajeman Pendidikan Islam UIN Yogya ini mengakui latar belakang Kiai Abdul Muhaimin sebagai seorang aktivis memang memberi warna di pondok. Mereka secara langsung bisa melihat bagaimana bertoleransi dan berdemokrasi dari sosok kiainya.
"Umat agama lain pun tak jarang mengadakan live in di pesantren kami. Tentu, banyak pelajaran yang dapat kami amati dan fahami. Yang paling pokok adalah bagaimana kami bisa hidup di negara yang berasas Bhineka Tunggal Ika. Memahami berbagai pendapat dan perbedaan. Belajar dan mencoba berkolaborasi untuk mewujudkan cita-cita damai di negeri ini," katanya.
Zaenab, salah satu alumni, menyebut hal yang membedakan Ponpes Nurul Ummahat dengan yang lain adalah toleransi dan kedekatan antara santri dan pengasuh. "Ponpes ini terbuka untuk semua kalangan, bahkan dari para mahasiswi kampus nonmuslim banyak yang nginep untuk penelitian atau tugas kampus lainnya," ungkapnya.
"Ponpes Putri Nurul Ummahat memang berbeda dengan pondok lainnya khususnya yang ada di Yogya. Pondok ini memiliki visi-misi modern, moderat, manusiawi. Ponpes ini pula terbuka untuk semua kalangan dalam arti, semua orang, baik personal atau organisasi bisa ikut belajar mengaji di sini," ujar Eva Lutfiani 'Azizah, salah satu santri di Nurul Ummahat.
Mahasiswi Manajeman Pendidikan Islam UIN Yogya ini mengakui latar belakang Kiai Abdul Muhaimin sebagai seorang aktivis memang memberi warna di pondok. Mereka secara langsung bisa melihat bagaimana bertoleransi dan berdemokrasi dari sosok kiainya.
"Umat agama lain pun tak jarang mengadakan live in di pesantren kami. Tentu, banyak pelajaran yang dapat kami amati dan fahami. Yang paling pokok adalah bagaimana kami bisa hidup di negara yang berasas Bhineka Tunggal Ika. Memahami berbagai pendapat dan perbedaan. Belajar dan mencoba berkolaborasi untuk mewujudkan cita-cita damai di negeri ini," katanya.
Zaenab, salah satu alumni, menyebut hal yang membedakan Ponpes Nurul Ummahat dengan yang lain adalah toleransi dan kedekatan antara santri dan pengasuh. "Ponpes ini terbuka untuk semua kalangan, bahkan dari para mahasiswi kampus nonmuslim banyak yang nginep untuk penelitian atau tugas kampus lainnya," ungkapnya.
Lihat Juga :