UNJ Dampingi Penguatan Kapasitas Guru PKBM Ghaisan Cendekia
Rabu, 15 Juli 2026 - 20:14 WIB
loading...
Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat berupa workshop bagi guru-guru yang bertempat di PKBM Ghaisan Cendekia. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan workshop bagi guru-guru yang bertempat di PKBM Ghaisan Cendekia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diselenggarakan sebagai respons terhadap tantangan nyata yang dihadapi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ghaisan Cendekia dalam memberikan layanan pendidikan yang inklusif.
Di banyak PKBM, jumlah anak berkebutuhan khusus terus meningkat, sementara ketersediaan guru yang memiliki latar belakang pendidikan khusus maupun pelatihan tentang pendidikan inklusif masih sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat banyak guru harus menangani keragaman kebutuhan belajar peserta didik tanpa bekal pengetahuan dan strategi yang memadai.
Baca juga: Dilengkapi Berbagai Fasilitas, Gedung Sekolah Rakyat Siap Difungsikan untuk MPLS
Akibatnya, berbagai perilaku maladaptif yang ditunjukkan anak neurodivergen di ruang kelas masih kerap disalahartikan sebagai bentuk kenakalan, pembangkangan, atau kurangnya disiplin. Padahal, perilaku tersebut sering kali merupakan cara anak mengekspresikan kebutuhan, kesulitan, atau respons terhadap lingkungan belajar yang belum sepenuhnya mengakomodasi karakteristik mereka.
Pemahaman terhadap alasan di balik perilaku menjadi langkah penting agar guru dapat memberikan respons yang lebih tepat, empatik, dan mendukung proses belajar peserta didik.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, kegiatan bertema "Penguatan Kapasitas Guru Melalui Praktik Kolaborasi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus" dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam memahami karakteristik anak berkebutuhan khusus. Khususnya alasan di balik munculnya perilaku maladaptif, sekaligus memperkenalkan berbagai praktik baik pembelajaran berbasis kolaborasi yang dapat diterapkan di PKBM Ghaisan Cendekia.
Baca juga: Sekolah Garuda, Asa bagi Anak Cerdas Kurang Mampu Raih Masa Depan
Melalui kegiatan ini, guru didorong untuk membangun kolaborasi dengan sesama pendidik, orang tua, dan pihak terkait lainnya dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih adaptif, sehingga tercipta lingkungan belajar yang inklusif dan mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik.
Workshop ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema "Penguatan Kapasitas Guru Melalui Praktik Kolaborasi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus". Tim dosen dan mahasiswa turun bersama sebagai bentuk kolaborasi antar sesama pengajar mata kuliah yang relevan dengan tema ini.
Sesi pertama disampaikan oleh Dosen Program Studi Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ Lintang A. Sholihah mengangkat tema "Analisis Fungsi Perilaku Maladaptif Anak Berkebutuhan Khusus". Pembahasan mengangkat sebuah studi kasus yang relate bagi guru di kelas, seorang anak yang kerap dicap "kasar" dan "pemberontak" karena sering memaki dan mengancam.
Namun ketika ditelusuri lebih dalam menggunakan pendekatan Antecedent-Behavior-Consequence, gambarannya berubah total. Anak tersebut ternyata memiliki kemampuan membaca yang jauh di bawah rata-rata, dan perilaku "kasar" itu muncul justru saat ia diminta mengerjakan tugas mandiri berbasis teks, sebuah situasi yang memicu rasa malu yang kemudian ia tutupi dengan sikap defensif.
"Anak neurodivergen tidak selalu membutuhkan guru yang ahli terapi atau ahli psikologi. Mereka membutuhkan guru yang mau memahami cara mereka belajar. Ketika kita mengubah cara mengajar sedikit saja, sering kali anak tidak perlu lagi berjuang sendirian untuk mengikuti pembelajaran," ujarnya dikutip Rabu (15/7/2026).
Sesi ini ditutup dengan pengisian worksheet, memberi ruang bagi peserta untuk langsung mempraktikkan analisis serupa terhadap kasus yang mereka temui sehari-hari di kelas, sekaligus menjadi jembatan menuju sesi kedua.
Sesi kedua disampaikan oleh Wahyu Hardiani dengan judul "Penguatan Praktik Kolaborasi Guru dalam Mendukung Pembelajaran Anak Neurodivergen di PKBM Ghaisan Cendekia”.
Dalam sesi ini, peserta workshop diajak mengenal kembali anak dengan neurodivergen, mulai dari ADHD, learning disability, hingga autisme, bukan sebagai kekurangan yang harus diperbaiki, melainkan cara belajar yang berbeda. Dia membagikan sejumlah praktik sederhana yang bisa langsung diterapkan tanpa biaya besar, jadwal visual harian, kartu instruksi yang ditulis jelas di papan, penataan kelas yang minim distraksi, hingga sistem peer support yang memasangkan anak dengan teman yang bisa saling menguatkan.
Sepanjang kedua sesi, para peserta aktif berdiskusi soal kasus dan pengalaman mengajar masing-masing, sehingga materi yang dibahas tidak berhenti sebagai teori. Bagi para guru yang hadir, ini membekali cara pandang baru dalam membaca perilaku anak, bahwa di balik setiap ledakan emosi atau penolakan verbal, ada kebutuhan yang belum terpenuhi.
Program ini menjadi salah satu langkah kecil UNJ dalam mendorong pendidikan yang lebih inklusif, sekaligus berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas).
Di banyak PKBM, jumlah anak berkebutuhan khusus terus meningkat, sementara ketersediaan guru yang memiliki latar belakang pendidikan khusus maupun pelatihan tentang pendidikan inklusif masih sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat banyak guru harus menangani keragaman kebutuhan belajar peserta didik tanpa bekal pengetahuan dan strategi yang memadai.
Baca juga: Dilengkapi Berbagai Fasilitas, Gedung Sekolah Rakyat Siap Difungsikan untuk MPLS
Akibatnya, berbagai perilaku maladaptif yang ditunjukkan anak neurodivergen di ruang kelas masih kerap disalahartikan sebagai bentuk kenakalan, pembangkangan, atau kurangnya disiplin. Padahal, perilaku tersebut sering kali merupakan cara anak mengekspresikan kebutuhan, kesulitan, atau respons terhadap lingkungan belajar yang belum sepenuhnya mengakomodasi karakteristik mereka.
Pemahaman terhadap alasan di balik perilaku menjadi langkah penting agar guru dapat memberikan respons yang lebih tepat, empatik, dan mendukung proses belajar peserta didik.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, kegiatan bertema "Penguatan Kapasitas Guru Melalui Praktik Kolaborasi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus" dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam memahami karakteristik anak berkebutuhan khusus. Khususnya alasan di balik munculnya perilaku maladaptif, sekaligus memperkenalkan berbagai praktik baik pembelajaran berbasis kolaborasi yang dapat diterapkan di PKBM Ghaisan Cendekia.
Baca juga: Sekolah Garuda, Asa bagi Anak Cerdas Kurang Mampu Raih Masa Depan
Melalui kegiatan ini, guru didorong untuk membangun kolaborasi dengan sesama pendidik, orang tua, dan pihak terkait lainnya dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih adaptif, sehingga tercipta lingkungan belajar yang inklusif dan mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik.
Workshop ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema "Penguatan Kapasitas Guru Melalui Praktik Kolaborasi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus". Tim dosen dan mahasiswa turun bersama sebagai bentuk kolaborasi antar sesama pengajar mata kuliah yang relevan dengan tema ini.
Sesi pertama disampaikan oleh Dosen Program Studi Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ Lintang A. Sholihah mengangkat tema "Analisis Fungsi Perilaku Maladaptif Anak Berkebutuhan Khusus". Pembahasan mengangkat sebuah studi kasus yang relate bagi guru di kelas, seorang anak yang kerap dicap "kasar" dan "pemberontak" karena sering memaki dan mengancam.
Namun ketika ditelusuri lebih dalam menggunakan pendekatan Antecedent-Behavior-Consequence, gambarannya berubah total. Anak tersebut ternyata memiliki kemampuan membaca yang jauh di bawah rata-rata, dan perilaku "kasar" itu muncul justru saat ia diminta mengerjakan tugas mandiri berbasis teks, sebuah situasi yang memicu rasa malu yang kemudian ia tutupi dengan sikap defensif.
"Anak neurodivergen tidak selalu membutuhkan guru yang ahli terapi atau ahli psikologi. Mereka membutuhkan guru yang mau memahami cara mereka belajar. Ketika kita mengubah cara mengajar sedikit saja, sering kali anak tidak perlu lagi berjuang sendirian untuk mengikuti pembelajaran," ujarnya dikutip Rabu (15/7/2026).
Sesi ini ditutup dengan pengisian worksheet, memberi ruang bagi peserta untuk langsung mempraktikkan analisis serupa terhadap kasus yang mereka temui sehari-hari di kelas, sekaligus menjadi jembatan menuju sesi kedua.
Sesi kedua disampaikan oleh Wahyu Hardiani dengan judul "Penguatan Praktik Kolaborasi Guru dalam Mendukung Pembelajaran Anak Neurodivergen di PKBM Ghaisan Cendekia”.
Dalam sesi ini, peserta workshop diajak mengenal kembali anak dengan neurodivergen, mulai dari ADHD, learning disability, hingga autisme, bukan sebagai kekurangan yang harus diperbaiki, melainkan cara belajar yang berbeda. Dia membagikan sejumlah praktik sederhana yang bisa langsung diterapkan tanpa biaya besar, jadwal visual harian, kartu instruksi yang ditulis jelas di papan, penataan kelas yang minim distraksi, hingga sistem peer support yang memasangkan anak dengan teman yang bisa saling menguatkan.
Sepanjang kedua sesi, para peserta aktif berdiskusi soal kasus dan pengalaman mengajar masing-masing, sehingga materi yang dibahas tidak berhenti sebagai teori. Bagi para guru yang hadir, ini membekali cara pandang baru dalam membaca perilaku anak, bahwa di balik setiap ledakan emosi atau penolakan verbal, ada kebutuhan yang belum terpenuhi.
Program ini menjadi salah satu langkah kecil UNJ dalam mendorong pendidikan yang lebih inklusif, sekaligus berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas).
(shf)
Lihat Juga :