Gading Serpong Perkuat Posisi sebagai Koridor Komersial
Rabu, 17 Juni 2026 - 16:31 WIB
loading...
Pertumbuhan investasi di Kabupaten Tangerang ikut mendorong perubahan wajah Gading Serpong dari kawasan hunian menjadi salah satu koridor komersial baru. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Pertumbuhan investasi di Kabupaten Tangerang ikut mendorong perubahan wajah Gading Serpong dari kawasan hunian menjadi salah satu koridor komersial baru di barat Jakarta. Sepanjang 2025, realisasi investasi di Kabupaten Tangerang mencapai Rp37,62 triliun.
Dari jumlah tersebut, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menyumbang Rp11,78 triliun, sementara sektor perdagangan dan reparasi mencapai Rp4,86 triliun. Sektor tersier, yang mencakup jasa, perdagangan, logistik, dan properti, mendominasi dengan porsi 57,9 % dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
Baca juga: Diterima di ITB, Siswa MAN IC Serpong Pecahkan Rekor Nasional Skor PK UTBK 2026
Meningkatnya aktivitas usaha, pembukaan bisnis baru, serta kebutuhan ruang komersial yang lebih representatif menjadi dasar pengembangan Serpong Central Business District (CBD), dengan City Gate sebagai salah satu proyek utamanya.
Di Gading Serpong, pertumbuhan aktivitas komersial juga terlihat dari pembukaan 1.464 bisnis baru sepanjang 2025. Angka tersebut menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap ruang usaha, terutama dari sektor ritel, kuliner, layanan profesional, dan bisnis berbasis kunjungan langsung.
Pertumbuhan kawasan komersial di Gading Serpong merupakan bagian dari siklus alami pengembangan kawasan properti. Menurut dia, kawasan yang semula bertumpu pada hunian akan berkembang ke fungsi lain seiring bertambahnya populasi, mobilitas, dan kebutuhan layanan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
“Pertumbuhan ini terbilang normal. Siklus pengembangan properti diawali dengan hunian, kemudian diikuti kantor, ruko, hotel, dan lain-lain,” kata Head of Research & Consulting CBRE, Anton Sitorus dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Anton menjelaskan, wilayah Tangerang, termasuk Serpong dan Gading Serpong, sejak lama dikenal sebagai kawasan penyangga Jakarta yang berkembang pesat. Perkembangan itu ditopang oleh kualitas hunian, rencana pengembangan kawasan yang matang dari sejumlah pengembang, serta konektivitas dengan kawasan lain di sekitarnya.
“Memang beberapa pengembang di sana memiliki rencana pengembangan yang cukup bagus. Masyarakat juga tahu bahwa daerah barat, seperti Serpong dan sekitarnya, memiliki potensi besar. Di timur juga ada yang bagus. Ini karena di dalam kota Jakarta harga tanah dan properti sangat tinggi, sementara penyangga Jakarta menawarkan opsi yang lebih terjangkau,” jelas Anton.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, Summarecon Serpong menyiapkan Serpong CBD sebagai pusat aktivitas bisnis baru di kawasan Gading Serpong. Executive Director Summarecon Serpong, Albert Luhur mengatakan, pengembangan kawasan bisnis ini dilakukan untuk merespons perubahan kebutuhan ruang usaha yang semakin beragam.
Menurut Albert, pelaku usaha saat ini tidak hanya membutuhkan tempat operasional, tetapi juga lokasi yang memiliki visibilitas tinggi, akses mudah, fasilitas pendukung, dan ruang yang mampu memperkuat identitas merek. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan City Gate di kawasan Summarecon Serpong.
City Gate dikembangkan di atas lahan seluas 40 hektare dan diposisikan sebagai gerbang Serpong CBD. Kawasan ini terhubung dengan Gading Serpong Boulevard, Symphonia Boulevard, dan City Gate Boulevard. Dari sisi akses, City Gate didukung konektivitas menuju Tol Jakarta-Tangerang, Tol Serpong-Balaraja, serta pengembangan akses Melody-Diklat Pemda.
Dengan posisi tersebut, City Gate tidak hanya berfungsi sebagai area komersial baru, tetapi juga sebagai etalase bisnis di Gading Serpong. Kawasan ini berada pada jalur penghubung antara Summarecon Serpong, BSD, Alam Sutera, dan Lippo Karawaci, sehingga dinilai memiliki potensi untuk menarik arus pengunjung dari berbagai kawasan sekitar.
Pengembangan City Gate disiapkan untuk memperkuat ekosistem bisnis di Serpong CBD, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan ruang komersial yang lebih fleksibel, mudah diakses, dan memiliki daya tarik visual.
Dari jumlah tersebut, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menyumbang Rp11,78 triliun, sementara sektor perdagangan dan reparasi mencapai Rp4,86 triliun. Sektor tersier, yang mencakup jasa, perdagangan, logistik, dan properti, mendominasi dengan porsi 57,9 % dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
Baca juga: Diterima di ITB, Siswa MAN IC Serpong Pecahkan Rekor Nasional Skor PK UTBK 2026
Meningkatnya aktivitas usaha, pembukaan bisnis baru, serta kebutuhan ruang komersial yang lebih representatif menjadi dasar pengembangan Serpong Central Business District (CBD), dengan City Gate sebagai salah satu proyek utamanya.
Di Gading Serpong, pertumbuhan aktivitas komersial juga terlihat dari pembukaan 1.464 bisnis baru sepanjang 2025. Angka tersebut menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap ruang usaha, terutama dari sektor ritel, kuliner, layanan profesional, dan bisnis berbasis kunjungan langsung.
Pertumbuhan kawasan komersial di Gading Serpong merupakan bagian dari siklus alami pengembangan kawasan properti. Menurut dia, kawasan yang semula bertumpu pada hunian akan berkembang ke fungsi lain seiring bertambahnya populasi, mobilitas, dan kebutuhan layanan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
“Pertumbuhan ini terbilang normal. Siklus pengembangan properti diawali dengan hunian, kemudian diikuti kantor, ruko, hotel, dan lain-lain,” kata Head of Research & Consulting CBRE, Anton Sitorus dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Anton menjelaskan, wilayah Tangerang, termasuk Serpong dan Gading Serpong, sejak lama dikenal sebagai kawasan penyangga Jakarta yang berkembang pesat. Perkembangan itu ditopang oleh kualitas hunian, rencana pengembangan kawasan yang matang dari sejumlah pengembang, serta konektivitas dengan kawasan lain di sekitarnya.
“Memang beberapa pengembang di sana memiliki rencana pengembangan yang cukup bagus. Masyarakat juga tahu bahwa daerah barat, seperti Serpong dan sekitarnya, memiliki potensi besar. Di timur juga ada yang bagus. Ini karena di dalam kota Jakarta harga tanah dan properti sangat tinggi, sementara penyangga Jakarta menawarkan opsi yang lebih terjangkau,” jelas Anton.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, Summarecon Serpong menyiapkan Serpong CBD sebagai pusat aktivitas bisnis baru di kawasan Gading Serpong. Executive Director Summarecon Serpong, Albert Luhur mengatakan, pengembangan kawasan bisnis ini dilakukan untuk merespons perubahan kebutuhan ruang usaha yang semakin beragam.
Menurut Albert, pelaku usaha saat ini tidak hanya membutuhkan tempat operasional, tetapi juga lokasi yang memiliki visibilitas tinggi, akses mudah, fasilitas pendukung, dan ruang yang mampu memperkuat identitas merek. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan City Gate di kawasan Summarecon Serpong.
City Gate dikembangkan di atas lahan seluas 40 hektare dan diposisikan sebagai gerbang Serpong CBD. Kawasan ini terhubung dengan Gading Serpong Boulevard, Symphonia Boulevard, dan City Gate Boulevard. Dari sisi akses, City Gate didukung konektivitas menuju Tol Jakarta-Tangerang, Tol Serpong-Balaraja, serta pengembangan akses Melody-Diklat Pemda.
Dengan posisi tersebut, City Gate tidak hanya berfungsi sebagai area komersial baru, tetapi juga sebagai etalase bisnis di Gading Serpong. Kawasan ini berada pada jalur penghubung antara Summarecon Serpong, BSD, Alam Sutera, dan Lippo Karawaci, sehingga dinilai memiliki potensi untuk menarik arus pengunjung dari berbagai kawasan sekitar.
Pengembangan City Gate disiapkan untuk memperkuat ekosistem bisnis di Serpong CBD, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan ruang komersial yang lebih fleksibel, mudah diakses, dan memiliki daya tarik visual.
(shf)
Lihat Juga :