Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sabtu, 25 April 2026 - 07:14 WIB
loading...
A
A
A
"Sampingnya?" tanya Soeharto lagi.
"Juga sudah, Pak," kata Sjafrie sambil memegang rompi dan helm pengamanan untuk Soeharto.
"Helmnya nanti masukkan ke Taman Mini ya. Nanti helmnya masukkan ke Museum Purna Bhakti," kata Soeharto.
"Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (tenteng) saja. Kamu cangking saja," sambung Soeharto yang menandakan enggan memakai rompi antipeluru seberat 12 kg yang mampu menahan tembakan M-16.
Soeharto hanya mengenakan jas dan kopiah dalam lawatan ke negeri perang Bosnia. Padahal, pengamatan Sjafrie dari balik jendela pesawat menjelang turun di Sarajevo, dia melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk menembak jatuh pesawat berputar-putar mengikuti pesawat yang ditumpangi Pak Harto.
Dalam situasi itu, jenderal lulusan Akademi Militer (Akmil) 1974 ini langsung memutar otak untuk melindungi Soeharto yang enggan mengenakan rompi dan helm pengamanan. Sjafrie yang memiliki kemampuan di bidang intelijen kemudian meminjam jas dan peci hitam sama persis dengan yang dipakai Soeharto. "Ini untuk menghindari sniper mengenali sasaran utamanya dengan mudah," ucap Sjafrie.
Pesawat yang ditumpangi rombongan Soeharto akhirnya sampai di bandara Sarajevo, Ibu Kota Bosnia. Rombongan dijemput Pasukan Kontingen Garuda XIV yaitu prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Bosnia dengan menggunakan dengan VAB, panser buatan Prancis yang mirip dengan Panser Anoa 6x6 produk PT Pindad.
Rombongan Soeharto kemudian menuju Istana Kepresidenan Bosnia untuk bertemu Presiden Bosnia Alja Izetbegovic. Untuk mencapai tujuan, panser-panser itu harus melewati Sniper Valley, tempat para penembak jitu dari kedua belah pihak yang berperang.
"Juga sudah, Pak," kata Sjafrie sambil memegang rompi dan helm pengamanan untuk Soeharto.
"Helmnya nanti masukkan ke Taman Mini ya. Nanti helmnya masukkan ke Museum Purna Bhakti," kata Soeharto.
"Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (tenteng) saja. Kamu cangking saja," sambung Soeharto yang menandakan enggan memakai rompi antipeluru seberat 12 kg yang mampu menahan tembakan M-16.
Soeharto hanya mengenakan jas dan kopiah dalam lawatan ke negeri perang Bosnia. Padahal, pengamatan Sjafrie dari balik jendela pesawat menjelang turun di Sarajevo, dia melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk menembak jatuh pesawat berputar-putar mengikuti pesawat yang ditumpangi Pak Harto.
Dalam situasi itu, jenderal lulusan Akademi Militer (Akmil) 1974 ini langsung memutar otak untuk melindungi Soeharto yang enggan mengenakan rompi dan helm pengamanan. Sjafrie yang memiliki kemampuan di bidang intelijen kemudian meminjam jas dan peci hitam sama persis dengan yang dipakai Soeharto. "Ini untuk menghindari sniper mengenali sasaran utamanya dengan mudah," ucap Sjafrie.
Pesawat yang ditumpangi rombongan Soeharto akhirnya sampai di bandara Sarajevo, Ibu Kota Bosnia. Rombongan dijemput Pasukan Kontingen Garuda XIV yaitu prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Bosnia dengan menggunakan dengan VAB, panser buatan Prancis yang mirip dengan Panser Anoa 6x6 produk PT Pindad.
Rombongan Soeharto kemudian menuju Istana Kepresidenan Bosnia untuk bertemu Presiden Bosnia Alja Izetbegovic. Untuk mencapai tujuan, panser-panser itu harus melewati Sniper Valley, tempat para penembak jitu dari kedua belah pihak yang berperang.
Lihat Juga :