Siswa SMA Ejek Guru di Purwakarta, Pakar Hipnoterapi Soroti Krisis Karakter Remaja
Senin, 20 April 2026 - 17:04 WIB
loading...
A
A
A
“Perilaku merendahkan guru di depan kamera itu bukan terjadi tiba-tiba. Itu merupakan ekspresi dari defisit regulasi emosi, krisis identitas, serta kebutuhan akan pengakuan yang salah arah,” ujarnya Senin (20/4/2026).
Lihat video: Respons Dedi Mulyadi soal Siswa SMK Purwakarta Olok-olok Guru
Menurut Dewa, remaja saat ini hidup dalam budaya viral, di mana perhatian meskipun bernilai negatif sering kali dianggap lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali. Dewa juga menilai perdebatan mengenai jenis sanksi, seperti skorsing atau hukuman membersihkan lingkungan sekolah, belum menyentuh akar persoalan jika tidak disertai pendekatan yang tepat.
“Skorsing atau hukuman bersih-bersih memang bisa menjadi bagian dari pendekatan restoratif. Namun, tanpa intervensi yang menyentuh aspek psikologis, anak hanya belajar menahan emosi, bukan memperbaiki sikap,” jelasnya.
Dewa menawarkan pendekatan hipnoterapi sebagai salah satu alternatif intervensi. Dewa menegaskan hipnoterapi merupakan metode berbasis ilmiah, bukan praktik klenik seperti yang kerap disalahpahami masyarakat.
“Hipnoterapi bekerja dalam kondisi relaksasi mendalam, di mana pikiran bawah sadar lebih terbuka terhadap sugesti positif. Metode ini efektif untuk membantu remaja membangun citra diri yang sehat serta menanamkan nilai empati dan rasa hormat,” paparnya.
Menurut Dewa, banyak remaja yang menunjukkan perilaku menyimpang sebenarnya menyimpan persoalan emosional yang tidak terselesaikan, seperti perasaan terabaikan atau kecemasan.
Lihat video: Respons Dedi Mulyadi soal Siswa SMK Purwakarta Olok-olok Guru
Menurut Dewa, remaja saat ini hidup dalam budaya viral, di mana perhatian meskipun bernilai negatif sering kali dianggap lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali. Dewa juga menilai perdebatan mengenai jenis sanksi, seperti skorsing atau hukuman membersihkan lingkungan sekolah, belum menyentuh akar persoalan jika tidak disertai pendekatan yang tepat.
“Skorsing atau hukuman bersih-bersih memang bisa menjadi bagian dari pendekatan restoratif. Namun, tanpa intervensi yang menyentuh aspek psikologis, anak hanya belajar menahan emosi, bukan memperbaiki sikap,” jelasnya.
Dewa menawarkan pendekatan hipnoterapi sebagai salah satu alternatif intervensi. Dewa menegaskan hipnoterapi merupakan metode berbasis ilmiah, bukan praktik klenik seperti yang kerap disalahpahami masyarakat.
“Hipnoterapi bekerja dalam kondisi relaksasi mendalam, di mana pikiran bawah sadar lebih terbuka terhadap sugesti positif. Metode ini efektif untuk membantu remaja membangun citra diri yang sehat serta menanamkan nilai empati dan rasa hormat,” paparnya.
Menurut Dewa, banyak remaja yang menunjukkan perilaku menyimpang sebenarnya menyimpan persoalan emosional yang tidak terselesaikan, seperti perasaan terabaikan atau kecemasan.
Lihat Juga :