Wakil Ketua DPRD Minta Pemprov Jabar Antisipasi Kekeringan Ekstrem
Senin, 20 April 2026 - 12:51 WIB
loading...
A
A
A
Lihat video: Sebab Terjadinya Kemarau Basah di Indonesia, Kepala BMKG Beri Penjelasan
Lebih lanjut, Iwan menyatakan kekhawatirannya yang paling mendalam terletak pada sektor pertanian. Sebagai lumbung pangan nasional, gangguan iklim di Jawa Barat dipastikan akan memberikan efek domino terhadap stabilitas pasokan beras di tingkat pusat maupun daerah lain di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Barat merupakan produsen padi terbesar kedua di Indonesia. Pada tahun 2025, produksi beras nasional mencapai rekor 34,77 juta ton, di mana kontribusi Jawa Barat secara konsisten menyumbang sekitar 16% hingga 18% dari total produksi nasional tersebut.
"Angka kontribusi kita terhadap stok nasional sangat besar. Jika 93% wilayah kita kering, maka ancaman gagal panen atau puso akan sangat masif. Ini bukan hanya masalah perut warga Jabar, tapi masalah ketahanan pangan Indonesia," tegasnya.
Iwan mendorong Pemprov Jabar untuk segera melakukan audit terhadap kondisi irigasi dan bendungan di seluruh kabupaten/kota. Iwan meminta agar program pompanisasi dan penyediaan benih tahan kekeringan segera didistribusikan kepada para petani sebelum dampak kemarau semakin parah. Iwan juga menyarankan agar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan mulai dipertimbangkan lebih awal melalui kerja sama dengan BRIN dan BMKG.
Menurut Iwan, investasi dalam modifikasi cuaca jauh lebih murah dibandingkan menanggung kerugian akibat rusaknya ribuan hektare lahan produktif.Iwan mengingatkan stabilitas harga pangan di pasar sangat bergantung pada kelancaran produksi di hulu. Jika suplai dari Jawa Barat terganggu, inflasi bahan pokok diprediksi akan melonjak tajam dan membebani daya beli masyarakat yang baru saja pulih.
"Pemerintah pusat melalui kementerian terkait harus memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk subsidi pupuk yang tepat sasaran maupun asuransi usaha tani. Petani kita adalah pahlawan yang paling rentan terdampak oleh perubahan iklim ini," tambahnya.
Lebih lanjut, Iwan menyatakan kekhawatirannya yang paling mendalam terletak pada sektor pertanian. Sebagai lumbung pangan nasional, gangguan iklim di Jawa Barat dipastikan akan memberikan efek domino terhadap stabilitas pasokan beras di tingkat pusat maupun daerah lain di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Barat merupakan produsen padi terbesar kedua di Indonesia. Pada tahun 2025, produksi beras nasional mencapai rekor 34,77 juta ton, di mana kontribusi Jawa Barat secara konsisten menyumbang sekitar 16% hingga 18% dari total produksi nasional tersebut.
"Angka kontribusi kita terhadap stok nasional sangat besar. Jika 93% wilayah kita kering, maka ancaman gagal panen atau puso akan sangat masif. Ini bukan hanya masalah perut warga Jabar, tapi masalah ketahanan pangan Indonesia," tegasnya.
Iwan mendorong Pemprov Jabar untuk segera melakukan audit terhadap kondisi irigasi dan bendungan di seluruh kabupaten/kota. Iwan meminta agar program pompanisasi dan penyediaan benih tahan kekeringan segera didistribusikan kepada para petani sebelum dampak kemarau semakin parah. Iwan juga menyarankan agar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan mulai dipertimbangkan lebih awal melalui kerja sama dengan BRIN dan BMKG.
Menurut Iwan, investasi dalam modifikasi cuaca jauh lebih murah dibandingkan menanggung kerugian akibat rusaknya ribuan hektare lahan produktif.Iwan mengingatkan stabilitas harga pangan di pasar sangat bergantung pada kelancaran produksi di hulu. Jika suplai dari Jawa Barat terganggu, inflasi bahan pokok diprediksi akan melonjak tajam dan membebani daya beli masyarakat yang baru saja pulih.
"Pemerintah pusat melalui kementerian terkait harus memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk subsidi pupuk yang tepat sasaran maupun asuransi usaha tani. Petani kita adalah pahlawan yang paling rentan terdampak oleh perubahan iklim ini," tambahnya.
Lihat Juga :