Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Minggu, 12 April 2026 - 09:27 WIB
loading...
A
A
A
Catatan harian itu, ditulis dengan aksara Jawa. Sayangnya, buku catatan harian prajurit telik sandi Mataram tersebut, turut dikubur bersama jenazah Kong Minggu.
Operasi pasukan telik sandi Mataram ini dilakukanm setelah pasukan Mataram menderita kekalahan dalam penyerbuan pertama ke Batavia, atau Koloduto I, pada tahun 1628. Sebelum penyerbuan itu, Ki Bagus Wonoboyo, bersama Tumenggung Kertiwongso diberi tugas Sultan Agung untuk mempersiapan basis pertahanan dan pusat pelatihan prajurit Mataram di hutan dekat Kali Sunter, Tapos, Kota Depok.
Koloduto I, pasukan Mataram mengalami kegagalan yang disebabkan VOC memiliki keunggulan pertahanan, persenjataan, serta adanya informasi yang berhasil dibocorkan mata-mata VOC. Mata-mata tersebut, berasal dari internal Mataram sendiri.
Selang satu tahun, yakni pada tahun 1629, Ki Bagus Wonoboyo kembali menyiapkan pasukan untuk menyerang Batavia, atau dikenal dengan sebutan Koloduto II. Dalam persiapan penyerangan Batavia yang kedua ini, Sultan Agung juga menggunakan pasukan telik sandi. Pasukan yang dikerahkan untuk melakukan penyerangan, juga jauh lebih banyak.
Operasi telik sandi yang dilakukan pasukan Dom Sumurup Ing Banyu tersebut, juga melibatkan putri Ki Bagus Wanabaya, Nyimas Utari. Tak sendirian, Nyimas Utari dikawal suaminya, Mahmudin yang juga dikenal dengan nama Wong Agung Aceh. Mahmudin merupakan tokoh intelijen dari Kesultanan Aceh.
Dalam penelitian Oral History UI disebutkan, Nyimas Utari berhasil menyusup ke dalam benteng VOC di Batavia, dengan menyamar sebagai penyanyi bar. Nyimas Utari akhirnya menjadi penyanyi favorit JP Coen. Bahkan, Nyimas Utari mampu menjadi sahabat istri JP Coen, Eva Ment.
Sedangkan Mahmudin ternyata telah lebih dahulu berhasil menyusup dan menyamar ke lingkaran JP Coen, dengan menjadi asisten dan juru tulis. Dilansir dari perpusnas.go.id, Ki Bagus Wanabaya mengirimkan putrinya sendiri, Nyimas Utari bersama menantunya, Mahmudin untuk menyusup ke dalam benteng VOC, dengan misi membunuh Gubernur Jenderal VOC, JP. Coen.
Wanita cantik Jawa yang memiliki nama lengkap Nyimas Utari Sandijayaningsih tersebut, dialiri darah sebagai telik sandi dari neneknya, Roro Pembayun. Kala itu, Roro Pembayun harus menjalankan misi penyamaran sebagai penari ledhek.
Tugas penyamaran yang dijalankan Roro Pembayun itu, datang dari Panembahan Senopati yang merupakan ayah kandung Roro Pembayun. Penyamaran berbahaya itu, dijalankan Roro Pembayun dengan misi merebut hati Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Ki Ageng Mangir Wanabaya, merupakan pemimpin tanah perdikan Mangir yang sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. Antara Panembahan Senopati, dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya, ternyata sama-sama keturunan dari Prabu Brawijaya V yang merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit.
Operasi pasukan telik sandi Mataram ini dilakukanm setelah pasukan Mataram menderita kekalahan dalam penyerbuan pertama ke Batavia, atau Koloduto I, pada tahun 1628. Sebelum penyerbuan itu, Ki Bagus Wonoboyo, bersama Tumenggung Kertiwongso diberi tugas Sultan Agung untuk mempersiapan basis pertahanan dan pusat pelatihan prajurit Mataram di hutan dekat Kali Sunter, Tapos, Kota Depok.
Koloduto I, pasukan Mataram mengalami kegagalan yang disebabkan VOC memiliki keunggulan pertahanan, persenjataan, serta adanya informasi yang berhasil dibocorkan mata-mata VOC. Mata-mata tersebut, berasal dari internal Mataram sendiri.
Selang satu tahun, yakni pada tahun 1629, Ki Bagus Wonoboyo kembali menyiapkan pasukan untuk menyerang Batavia, atau dikenal dengan sebutan Koloduto II. Dalam persiapan penyerangan Batavia yang kedua ini, Sultan Agung juga menggunakan pasukan telik sandi. Pasukan yang dikerahkan untuk melakukan penyerangan, juga jauh lebih banyak.
Operasi telik sandi yang dilakukan pasukan Dom Sumurup Ing Banyu tersebut, juga melibatkan putri Ki Bagus Wanabaya, Nyimas Utari. Tak sendirian, Nyimas Utari dikawal suaminya, Mahmudin yang juga dikenal dengan nama Wong Agung Aceh. Mahmudin merupakan tokoh intelijen dari Kesultanan Aceh.
Dalam penelitian Oral History UI disebutkan, Nyimas Utari berhasil menyusup ke dalam benteng VOC di Batavia, dengan menyamar sebagai penyanyi bar. Nyimas Utari akhirnya menjadi penyanyi favorit JP Coen. Bahkan, Nyimas Utari mampu menjadi sahabat istri JP Coen, Eva Ment.
Sedangkan Mahmudin ternyata telah lebih dahulu berhasil menyusup dan menyamar ke lingkaran JP Coen, dengan menjadi asisten dan juru tulis. Dilansir dari perpusnas.go.id, Ki Bagus Wanabaya mengirimkan putrinya sendiri, Nyimas Utari bersama menantunya, Mahmudin untuk menyusup ke dalam benteng VOC, dengan misi membunuh Gubernur Jenderal VOC, JP. Coen.
Wanita cantik Jawa yang memiliki nama lengkap Nyimas Utari Sandijayaningsih tersebut, dialiri darah sebagai telik sandi dari neneknya, Roro Pembayun. Kala itu, Roro Pembayun harus menjalankan misi penyamaran sebagai penari ledhek.
Tugas penyamaran yang dijalankan Roro Pembayun itu, datang dari Panembahan Senopati yang merupakan ayah kandung Roro Pembayun. Penyamaran berbahaya itu, dijalankan Roro Pembayun dengan misi merebut hati Ki Ageng Mangir Wanabaya.
Ki Ageng Mangir Wanabaya, merupakan pemimpin tanah perdikan Mangir yang sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit. Antara Panembahan Senopati, dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya, ternyata sama-sama keturunan dari Prabu Brawijaya V yang merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit.
Lihat Juga :