Menguak Tabir Hubungan Rahasia Kerajaan Nusantara dan Kesultanan Persia: Diplomasi Rempah yang Mengubah Wajah Indonesia!
Senin, 06 April 2026 - 05:45 WIB
loading...
A
A
A
Tahun 1297 M: Wafatnya Sultan Malikussaleh menandai era baru. Makamnya tidak hanya menunjukkan pengaruh Gujarat, tetapi juga pola hiasan Lajevard yang populer di Persia.
Baca juga: 8 Kerajaan Islam di Indonesia, dari Samudera Pasai hingga Mataram Islam
Kehadiran tokoh besar Ibnu Battuta dalam perjalanannya di tahun 1345 M, terkejut menemukan banyak pejabat istana Pasai yang fasih berbahasa Persia. Salah satunya adalah Syarif Amir Sayyid dari Shiraz dan Tajuddin dari Isfahan. Mereka bukan sekadar tamu, melainkan pengatur strategi politik kesultanan.
Hubungan mencapai level tertinggi saat Kesultanan Aceh Darussalam muncul sebagai kekuatan besar di Selat Malaka. Pada abad ke-16, Aceh yang dipimpin Sultan Iskandar Muda memandang Kesultanan Safawi di Persia sebagai sekutu ideologis dan teknologi.
Data sejarah mencatat adanya pertukaran utusan dan teknologi persenjataan. Istilah "Syahbandar" (dari bahasa Persia: Shah berarti Raja, Bandar berarti Pelabuhan) menjadi jabatan resmi paling bergengsi di pelabuhan Aceh untuk mengatur lalu lintas kapal internasional. Pengaruh administrasi birokrasi Persia diadopsi untuk memperkuat sentralisasi kekuasaan Sultan.
Jika Anda mengenal tradisi Tabuik di Pariaman atau Tabot di Bengkulu, itulah "DNA" Persia yang paling nyata. Tradisi yang dimulai secara masif pada tahun 1685 M ini merupakan bentuk asimilasi budaya peringatan tragedi Karbala (wafatnya Husain bin Ali) yang dibawa oleh serdadu berdarah Persia-India yang bekerja untuk Inggris.
Di sektor literasi, naskah-naskah Persia seperti Gulistan karya Sa'di dan Shahnama karya Firdausi menjadi inspirasi lahirnya karya-karya Melayu klasik. Tanpa pengaruh Persia, kita mungkin tidak akan mengenal istilah "Punggawa", "Pahlawan", atau "Dewan".
Baca juga: 8 Kerajaan Islam di Indonesia, dari Samudera Pasai hingga Mataram Islam
Kehadiran tokoh besar Ibnu Battuta dalam perjalanannya di tahun 1345 M, terkejut menemukan banyak pejabat istana Pasai yang fasih berbahasa Persia. Salah satunya adalah Syarif Amir Sayyid dari Shiraz dan Tajuddin dari Isfahan. Mereka bukan sekadar tamu, melainkan pengatur strategi politik kesultanan.
Diplomasi Militer: Aceh, Safawi, dan Perlawanan Terhadap Portugis (Abad 16 M)
Hubungan mencapai level tertinggi saat Kesultanan Aceh Darussalam muncul sebagai kekuatan besar di Selat Malaka. Pada abad ke-16, Aceh yang dipimpin Sultan Iskandar Muda memandang Kesultanan Safawi di Persia sebagai sekutu ideologis dan teknologi.
Data sejarah mencatat adanya pertukaran utusan dan teknologi persenjataan. Istilah "Syahbandar" (dari bahasa Persia: Shah berarti Raja, Bandar berarti Pelabuhan) menjadi jabatan resmi paling bergengsi di pelabuhan Aceh untuk mengatur lalu lintas kapal internasional. Pengaruh administrasi birokrasi Persia diadopsi untuk memperkuat sentralisasi kekuasaan Sultan.
Warisan Budaya: Dari Literasi Hingga Tradisi "Tabuik"
Jika Anda mengenal tradisi Tabuik di Pariaman atau Tabot di Bengkulu, itulah "DNA" Persia yang paling nyata. Tradisi yang dimulai secara masif pada tahun 1685 M ini merupakan bentuk asimilasi budaya peringatan tragedi Karbala (wafatnya Husain bin Ali) yang dibawa oleh serdadu berdarah Persia-India yang bekerja untuk Inggris.
Di sektor literasi, naskah-naskah Persia seperti Gulistan karya Sa'di dan Shahnama karya Firdausi menjadi inspirasi lahirnya karya-karya Melayu klasik. Tanpa pengaruh Persia, kita mungkin tidak akan mengenal istilah "Punggawa", "Pahlawan", atau "Dewan".
(shf)
Lihat Juga :