Kasatgas PRR: Penanganan Pengungsi Banjir Sumatera Hampir Tuntas
Rabu, 25 Maret 2026 - 21:24 WIB
loading...
A
A
A
“Nah, bagaimana kita menghitungnya? Ya, hitung saja 171 orang sekarang ini dibagi 2,1 juta pada saat 2 Desember data pada waktu mengungsi ya itu lebih kurang 0,008% sehingga bisa dikatakan 99,96% ada lagi tenda. Makanya ada kata-kata hampir atau mendekati 100%. Kita tidak mengklaim 100%,” jelasnya.
Tito menjelaskan bahwa sisa pengungsi saat ini berada di dua wilayah, yakni Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Bireuen. Di Aceh Tamiang, sebelumnya tercatat sebanyak 26 kepala keluarga atau 96 jiwa di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, yang sempat menjadi perhatian publik.
Namun demikian, kondisi tersebut telah ditangani, dan tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah turun langsung ke lokasi untuk menyiapkan solusi penanganan.
“Sebelum viral pun kami sudah menyampaikan bahwa memang ada 26 KK, 96 jiwa yang ada di Tamiang yang di Desa Sekumur yang ada ibu-ibu dan sudah didatangi oleh tim dari BNPB. Solusinya sudah ada. Nah, ini kira-kira mudah-mudahan ini bisa menjelaskan dan juga bisa menyelesaikan, artinya solusinya sudah ada,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa penyelesaian hunian di wilayah tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dekat. “Insya Allah paling lambat 2 minggu ke depan, tapi lagi diupayakan oleh Pak Kepala BNPB minggu depan mudah-mudahan bisa selesai karena perlu ada listrik juga perlu ada air, air minum dan lain-lain di sana,” tambahnya.
Sementara itu, di Kabupaten Bireuen masih terdapat 17 kepala keluarga atau sekitar 75 jiwa yang berada di tenda, tepatnya di area halaman kantor bupati yang dijadikan lokasi penampungan sementara. Tito menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh adanya perbedaan preferensi masyarakat terkait skema hunian yang diinginkan.
Menurutnya, sebagian masyarakat tidak bersedia menerima skema Dana Tunggu Hunian (DTH) dan menginginkan agar langsung dibangunkan hunian tetap maupun hunian sementara. Di sisi lain, pemerintah kabupaten pada awalnya mendorong agar masyarakat langsung menempati hunian tetap.
Namun, dari keseluruhan 403 kepala keluarga terdampak, terdapat 17 kepala keluarga yang memilih untuk dibangunkan hunian sementara terlebih dahulu sebelum nantinya beralih ke hunian tetap.
Tito menjelaskan bahwa sisa pengungsi saat ini berada di dua wilayah, yakni Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Bireuen. Di Aceh Tamiang, sebelumnya tercatat sebanyak 26 kepala keluarga atau 96 jiwa di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, yang sempat menjadi perhatian publik.
Namun demikian, kondisi tersebut telah ditangani, dan tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah turun langsung ke lokasi untuk menyiapkan solusi penanganan.
“Sebelum viral pun kami sudah menyampaikan bahwa memang ada 26 KK, 96 jiwa yang ada di Tamiang yang di Desa Sekumur yang ada ibu-ibu dan sudah didatangi oleh tim dari BNPB. Solusinya sudah ada. Nah, ini kira-kira mudah-mudahan ini bisa menjelaskan dan juga bisa menyelesaikan, artinya solusinya sudah ada,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa penyelesaian hunian di wilayah tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dekat. “Insya Allah paling lambat 2 minggu ke depan, tapi lagi diupayakan oleh Pak Kepala BNPB minggu depan mudah-mudahan bisa selesai karena perlu ada listrik juga perlu ada air, air minum dan lain-lain di sana,” tambahnya.
Sementara itu, di Kabupaten Bireuen masih terdapat 17 kepala keluarga atau sekitar 75 jiwa yang berada di tenda, tepatnya di area halaman kantor bupati yang dijadikan lokasi penampungan sementara. Tito menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh adanya perbedaan preferensi masyarakat terkait skema hunian yang diinginkan.
Menurutnya, sebagian masyarakat tidak bersedia menerima skema Dana Tunggu Hunian (DTH) dan menginginkan agar langsung dibangunkan hunian tetap maupun hunian sementara. Di sisi lain, pemerintah kabupaten pada awalnya mendorong agar masyarakat langsung menempati hunian tetap.
Namun, dari keseluruhan 403 kepala keluarga terdampak, terdapat 17 kepala keluarga yang memilih untuk dibangunkan hunian sementara terlebih dahulu sebelum nantinya beralih ke hunian tetap.
Lihat Juga :