Haul ke-74 Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif Jombang, Nyai Nur Khodjah Pelopor Pendiri Ponpes Putri se-Indonesia
Minggu, 15 Maret 2026 - 11:05 WIB
loading...
A
A
A
Pernikahan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah melahirkan tujuh putra-putri yaitu Abdul Wahab, Abdul Hamid, Nur Khodijah, Abdurrohim, Fathimah, Sholihah, Zuhriyah, dan Aminaturrohiyah.
Putra pertama, Kiai Abdul Wahab lahir pada 1887, kemudian disusul Kiai Abdul Hamid sebagai putra kedua yang lahir pada 1890, dan Nyai Nur Khodijah sebagai putri yang ketiga lahir pada 1897, persisnya pada 23 Februari 1897, setelah dikonversi dari arsip ANRI, "Pendaftaran Orang Indonesia yang Terkemuka yang Ada di Jawa", yaitu 21 Ramadhan 1314 Hijriah.
Bu Nyai Nur Khodijah pada usia sekitar 17 tahun kemudian menikah dengan Kiai Bisri Syansuri yang berusia sekitar 27 tahun, pada 1914.
Dua atau tiga tahun, Kiai Bisri membantu pesantren mertuanya di Tambakberas, sebagai persiapan calon pasangan pengasuh pesantren yang tangguh hingga kemudian pada 1917, mendirikan pesantren putra di Desa Denanyar.
Pada 1919, Kiai Bisri dan Nyai Nur mendirikan pesantren khusus putri.
Pesantren ini sangat terkenal sebagai pesantren yang mendidik para perempuan agar menjadi insan bermartabat, memahami wawasan keislaman dasar melalui pengajian kitab kuning, dan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
Di antara murid Nyai Nur Khodijah adalah para keponakan beliau, antara lain putri kakaknya sendiri, yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah, yaitu Nyai Muktamaroh, dan Nyai Mahfudhoh.
Putra pertama, Kiai Abdul Wahab lahir pada 1887, kemudian disusul Kiai Abdul Hamid sebagai putra kedua yang lahir pada 1890, dan Nyai Nur Khodijah sebagai putri yang ketiga lahir pada 1897, persisnya pada 23 Februari 1897, setelah dikonversi dari arsip ANRI, "Pendaftaran Orang Indonesia yang Terkemuka yang Ada di Jawa", yaitu 21 Ramadhan 1314 Hijriah.
Bu Nyai Nur Khodijah pada usia sekitar 17 tahun kemudian menikah dengan Kiai Bisri Syansuri yang berusia sekitar 27 tahun, pada 1914.
Dua atau tiga tahun, Kiai Bisri membantu pesantren mertuanya di Tambakberas, sebagai persiapan calon pasangan pengasuh pesantren yang tangguh hingga kemudian pada 1917, mendirikan pesantren putra di Desa Denanyar.
Pada 1919, Kiai Bisri dan Nyai Nur mendirikan pesantren khusus putri.
Pesantren ini sangat terkenal sebagai pesantren yang mendidik para perempuan agar menjadi insan bermartabat, memahami wawasan keislaman dasar melalui pengajian kitab kuning, dan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
Di antara murid Nyai Nur Khodijah adalah para keponakan beliau, antara lain putri kakaknya sendiri, yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah, yaitu Nyai Muktamaroh, dan Nyai Mahfudhoh.
(shf)