Haul ke-74 Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif Jombang, Nyai Nur Khodjah Pelopor Pendiri Ponpes Putri se-Indonesia
Minggu, 15 Maret 2026 - 11:05 WIB
loading...
Haul ke-74 Pengasuh Pondok Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Maarif Denanyar Jombang, Jawa Timur, Nyai Nur Khodijah digelar pada Sabtu, 14 Maret 2026. Foto/Ist
A
A
A
JOMBANG - Haul ke-74 Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, Jawa Timur, Nyai Nur Khodijah digelar pada Sabtu, 14 Maret 2026. Haul tersebut menguak kesalahan pencatatan tahun wafatnya mendiang istri KH Bisri Syansuri tersebut.
Menurut data, Nyai Nur Khodijah wafat kisaran 1949 , 1952, 1953, 1955, dan 1958. Menurut penelusur sanad tiga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), M Faishol bahwa zaman dahulu cara memperoleh data tokoh pendiri NU dan istrinya dengan metode patokan dari suatu peristiwa seperti kelahiran, pernikahan, gunung meletus, dan lainnya.
Baca juga: Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif Jombang Usulkan Penataan Kepemimpinan NU
"Sehingga, secara perhitungan, untuk Bu Nyai Nur Khodijah, sesuai hitungan hijriah, maka pada 2023 adalah Haul beliau yang ke-70, bukan ke-74," ujar M Faishol, Minggu (15/3/2026).
"Berdasarkan data dari ibu saya yang merupakan santri Bu Nyai Nur Khodijah bahwa saat Mbah Nyai Nur Khodijah wafat, kakak sulung saya Mbak Jamilah lahir pada Desember 1955 belum lahir. Ini komparasi saling melengkapi antara kesaksian ibu saya, dan data tertulis tahun Masehi 1955," ujarnya.
Namun setelah ditemukan buku "Risalah Akhir Sanah" yang ditemukan beberapa bulan lalu di Perpustakaan Ndalem Kasepuhan menyebut secara jelas Nyai Nur Khodijah wafat pada 1955 dengan perhitungan hijriah pada 22 Ramadhan 1374 H.
Baca juga: Bupati Cilacap Minta Sekda Kumpulkan Uang untuk THR, Terkumpul Rp610 Juta
Artinya, jika dikonversikan ke hitungan masehi, Nyai Nur Khodijah wafat pada Ahad, 15 Mei 1955 dalam usia 63 tahun. Sementara Kiai Bisri Syansuri wafat pada 10 Jumadil Akhir 1440 H, atau Jumat, 25 April 1980 dalam usia 93 tahun.
"Dalam buku "Risalah Akhir Sanah" tertulis kewafatan Nyai Nur pada 22 Ramadan 1375. Agaknya keliru sedikit terkait tahun, yang semestinya adalah 22 Ramadan 1374," sebutnya.
"Bermakna pula, bahwa lahir dan wafatnya Nyai Nur Khodijah sama-sama pada bulan yang paling mulia, Ramadan. Tanggal lahir dan wafatnya berurutan. Lahir pada 21 Ramadhan 1314, dan wafatnya pada 22 Ramadhan 1374," sambung M Faishol.
Perlu diketahui, Nyai Nur Khodijah dikenal sebagai Bu Nyai pelopor pendidikan pesantren putri pertama di Indonesia, yang lembut, sabar, cerdas, tegas, disiplin dan ahli tirakat. Sekitar 38 tahun, Nyai Nur mendampingi Kiai Bisri Syansuri dalam kepengasuhan Pesantren Denanyar.
Pernikahan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah melahirkan tujuh putra-putri yaitu Abdul Wahab, Abdul Hamid, Nur Khodijah, Abdurrohim, Fathimah, Sholihah, Zuhriyah, dan Aminaturrohiyah.
Putra pertama, Kiai Abdul Wahab lahir pada 1887, kemudian disusul Kiai Abdul Hamid sebagai putra kedua yang lahir pada 1890, dan Nyai Nur Khodijah sebagai putri yang ketiga lahir pada 1897, persisnya pada 23 Februari 1897, setelah dikonversi dari arsip ANRI, "Pendaftaran Orang Indonesia yang Terkemuka yang Ada di Jawa", yaitu 21 Ramadhan 1314 Hijriah.
Bu Nyai Nur Khodijah pada usia sekitar 17 tahun kemudian menikah dengan Kiai Bisri Syansuri yang berusia sekitar 27 tahun, pada 1914.
Dua atau tiga tahun, Kiai Bisri membantu pesantren mertuanya di Tambakberas, sebagai persiapan calon pasangan pengasuh pesantren yang tangguh hingga kemudian pada 1917, mendirikan pesantren putra di Desa Denanyar.
Pada 1919, Kiai Bisri dan Nyai Nur mendirikan pesantren khusus putri.
Pesantren ini sangat terkenal sebagai pesantren yang mendidik para perempuan agar menjadi insan bermartabat, memahami wawasan keislaman dasar melalui pengajian kitab kuning, dan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
Di antara murid Nyai Nur Khodijah adalah para keponakan beliau, antara lain putri kakaknya sendiri, yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah, yaitu Nyai Muktamaroh, dan Nyai Mahfudhoh.
Menurut data, Nyai Nur Khodijah wafat kisaran 1949 , 1952, 1953, 1955, dan 1958. Menurut penelusur sanad tiga pendiri Nahdlatul Ulama (NU), M Faishol bahwa zaman dahulu cara memperoleh data tokoh pendiri NU dan istrinya dengan metode patokan dari suatu peristiwa seperti kelahiran, pernikahan, gunung meletus, dan lainnya.
Baca juga: Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif Jombang Usulkan Penataan Kepemimpinan NU
"Sehingga, secara perhitungan, untuk Bu Nyai Nur Khodijah, sesuai hitungan hijriah, maka pada 2023 adalah Haul beliau yang ke-70, bukan ke-74," ujar M Faishol, Minggu (15/3/2026).
"Berdasarkan data dari ibu saya yang merupakan santri Bu Nyai Nur Khodijah bahwa saat Mbah Nyai Nur Khodijah wafat, kakak sulung saya Mbak Jamilah lahir pada Desember 1955 belum lahir. Ini komparasi saling melengkapi antara kesaksian ibu saya, dan data tertulis tahun Masehi 1955," ujarnya.
Namun setelah ditemukan buku "Risalah Akhir Sanah" yang ditemukan beberapa bulan lalu di Perpustakaan Ndalem Kasepuhan menyebut secara jelas Nyai Nur Khodijah wafat pada 1955 dengan perhitungan hijriah pada 22 Ramadhan 1374 H.
Baca juga: Bupati Cilacap Minta Sekda Kumpulkan Uang untuk THR, Terkumpul Rp610 Juta
Artinya, jika dikonversikan ke hitungan masehi, Nyai Nur Khodijah wafat pada Ahad, 15 Mei 1955 dalam usia 63 tahun. Sementara Kiai Bisri Syansuri wafat pada 10 Jumadil Akhir 1440 H, atau Jumat, 25 April 1980 dalam usia 93 tahun.
"Dalam buku "Risalah Akhir Sanah" tertulis kewafatan Nyai Nur pada 22 Ramadan 1375. Agaknya keliru sedikit terkait tahun, yang semestinya adalah 22 Ramadan 1374," sebutnya.
"Bermakna pula, bahwa lahir dan wafatnya Nyai Nur Khodijah sama-sama pada bulan yang paling mulia, Ramadan. Tanggal lahir dan wafatnya berurutan. Lahir pada 21 Ramadhan 1314, dan wafatnya pada 22 Ramadhan 1374," sambung M Faishol.
Perlu diketahui, Nyai Nur Khodijah dikenal sebagai Bu Nyai pelopor pendidikan pesantren putri pertama di Indonesia, yang lembut, sabar, cerdas, tegas, disiplin dan ahli tirakat. Sekitar 38 tahun, Nyai Nur mendampingi Kiai Bisri Syansuri dalam kepengasuhan Pesantren Denanyar.
Pernikahan Kiai Hasbullah dan Nyai Lathifah melahirkan tujuh putra-putri yaitu Abdul Wahab, Abdul Hamid, Nur Khodijah, Abdurrohim, Fathimah, Sholihah, Zuhriyah, dan Aminaturrohiyah.
Putra pertama, Kiai Abdul Wahab lahir pada 1887, kemudian disusul Kiai Abdul Hamid sebagai putra kedua yang lahir pada 1890, dan Nyai Nur Khodijah sebagai putri yang ketiga lahir pada 1897, persisnya pada 23 Februari 1897, setelah dikonversi dari arsip ANRI, "Pendaftaran Orang Indonesia yang Terkemuka yang Ada di Jawa", yaitu 21 Ramadhan 1314 Hijriah.
Bu Nyai Nur Khodijah pada usia sekitar 17 tahun kemudian menikah dengan Kiai Bisri Syansuri yang berusia sekitar 27 tahun, pada 1914.
Dua atau tiga tahun, Kiai Bisri membantu pesantren mertuanya di Tambakberas, sebagai persiapan calon pasangan pengasuh pesantren yang tangguh hingga kemudian pada 1917, mendirikan pesantren putra di Desa Denanyar.
Pada 1919, Kiai Bisri dan Nyai Nur mendirikan pesantren khusus putri.
Pesantren ini sangat terkenal sebagai pesantren yang mendidik para perempuan agar menjadi insan bermartabat, memahami wawasan keislaman dasar melalui pengajian kitab kuning, dan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.
Di antara murid Nyai Nur Khodijah adalah para keponakan beliau, antara lain putri kakaknya sendiri, yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah, yaitu Nyai Muktamaroh, dan Nyai Mahfudhoh.
(shf)