Roy Suryo Pakai Kaus Bertuliskan Raja Jawa saat Jadi Saksi Sidang Ijazah Jokowi di PN Surakarta
Rabu, 18 Februari 2026 - 11:51 WIB
loading...
Roy Suryo mengenakan kaus bertuliskan Raja Jawa saat datang ke PN Surakarta untuk menjadi saksi sidang perkara ijazah mantan Presiden Jokowi, Rabu (18/2/2026). Foto/Ary Wahyu Wibowo
A
A
A
SOLO - Pakar Telematika, Roy Suryo datang ke Pengadilan Negeri (PN) Surakarta untuk menjadi saksi yang dihadirkan kuasa hukum pengugat Citizen Lawsuit (CLS) ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu (18/2/2026). Roy datang mengenakan kaus bertuliskan Raja Jawa.
"Karena sama Pak Dr Taufik (kuasa hukum penggugat) nggak boleh membuka-buka yang banyak, saya buka kaus saja hari ini. Jadi hari ini saya akan membuktikan untuk kesaksian, insya Allah kita akan bersama-sama melawan kezoliman Raja Jawa. Makanya Raja Jawa yang benar tuh adil bukan zolim," kata Roy Suryo.
Baca juga: Eks Wakapolri Oegroseno Sebut Penetapan Tersangka Roy Suryo Cs Kriminalisasi
Roy Suryo mengatakan, dirinya akan mengikuti apa yang nanti diinginkan oleh para kuasa hukum dirinya akan menjelaskan tentang ilmu telematika.
Sebelumnya di tempat terpisah, Roy Suryo membandingkan sejumlah penelitiannya selama ini dengan meneliti ijazah Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tersangka kasus tudingan ijazah palsu Jokowi ini pernah meneliti rekaman suara Presiden ke-3 RI BJ Habibie dan foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Saya melakukan ini (penelitian) bukan soal ijazah atau lewat pendidikan Gibran saja," ungkap Roy Suryo dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (17/2/2026).
Roy mengungkapkan sejak 1999 dirinya sudah melakukan sejumlah penelitian. Salah satunya yaitu rekaman suara Presiden ke-3 RI BJ Habibie dengan Jaksa Agung saat itu Andi Muhammad Ghalib.
Baca juga: Ketum Jokman Jelaskan Logika 'Kertas Lusuh' dan Gelar Profesor di Skripsi Jokowi
“Waktu itu saya yang memeriksa rekaman suaranya, jadi bocor rekaman di istana, tidak ada orang yang berani meneliti, dan saya orang yang berani meneliti," ucap Roy Suryo.
Namun, menurut Roy Suryo, respons pemerintah saat itu luar biasa. Roy mengaku diundang ke Badan Intelijen ABRI untuk menjelaskan penelitiannya.
"Saya mempresentasikan kenapa bisa meyakinkan dengan itu 100%, waktu itu saya bilang 100%. Kesimpulannya klir itu rekaman kebocoran di istana, jadi benar. Jadi apresiasi yang diterima, kemudian penyelidikan ke dalam jangan sampai berikutnya bocor lagi," jelas Roy Suryo.
Setahun kemudian pada 2000, ia kembali melakukan penelitian dengan skandal foto Gus Dur bersama seorang wanita bernama Aryanti Sitepu. Meskipun banyak kalangan yang tidak suka dengan penelitiannya, namun hal itu berujung baik juga.
"Saya juga yang memeriksa, dan itu tak mudah, pertama banyak sekali teman-teman Banser yang mau nyerang, mau nyerang tapi mempertanyakan, bagus, mereka tidak menghujat saya," jelas Roy.
"Saya jelaskan detailnya, dan Gus Dur dijebak nama hotelnya Hotel Raden di Jalan Raden Saleh, klir, hotelnya kita datengin semua. Blablabla selesai," ungkap dia.
Bahkan sejumlah skandal anggota dewan juga pernah diungkapnya dalam menggunakan penelitian. Anehnya, kata Roy, hanya Jokowi lah objek penelitian yang dinilainya keberatan dan bahkan melakukan pelaporan terhadap dirinya.
"Anggota DPR puluhan yang saya periksa, bahkan saya dihadirkan di MKD untuk meneliti, ada yang sama artis, teman sesama anggota dewan," kata Roy.
"Baru kali ini ada kita menerbitkan sampai buku pertama judulnya adalah Jokowi's White Paper dan itu bersama Rismon dan Tifauzia kemudian orangnya (Jokowi) keberatan dan tidak hanya keberatan tapi langsung dituntut," ujar Roy.
Kendati demikian, Roy mengaku hanya bisa tersenyum melihat respons dari Jokowi. Ia hanya meyakinkan bahwa penelitiannya didasarkan oleh metodologi yang sah.
"Kami senyum saja, jadi artinya semua (penelitian) juga menggunakan program yang reliable, program yang sudah terpercaya," tandas Roy Suryo.
"Karena sama Pak Dr Taufik (kuasa hukum penggugat) nggak boleh membuka-buka yang banyak, saya buka kaus saja hari ini. Jadi hari ini saya akan membuktikan untuk kesaksian, insya Allah kita akan bersama-sama melawan kezoliman Raja Jawa. Makanya Raja Jawa yang benar tuh adil bukan zolim," kata Roy Suryo.
Baca juga: Eks Wakapolri Oegroseno Sebut Penetapan Tersangka Roy Suryo Cs Kriminalisasi
Roy Suryo mengatakan, dirinya akan mengikuti apa yang nanti diinginkan oleh para kuasa hukum dirinya akan menjelaskan tentang ilmu telematika.
Sebelumnya di tempat terpisah, Roy Suryo membandingkan sejumlah penelitiannya selama ini dengan meneliti ijazah Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tersangka kasus tudingan ijazah palsu Jokowi ini pernah meneliti rekaman suara Presiden ke-3 RI BJ Habibie dan foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Saya melakukan ini (penelitian) bukan soal ijazah atau lewat pendidikan Gibran saja," ungkap Roy Suryo dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (17/2/2026).
Roy mengungkapkan sejak 1999 dirinya sudah melakukan sejumlah penelitian. Salah satunya yaitu rekaman suara Presiden ke-3 RI BJ Habibie dengan Jaksa Agung saat itu Andi Muhammad Ghalib.
Baca juga: Ketum Jokman Jelaskan Logika 'Kertas Lusuh' dan Gelar Profesor di Skripsi Jokowi
“Waktu itu saya yang memeriksa rekaman suaranya, jadi bocor rekaman di istana, tidak ada orang yang berani meneliti, dan saya orang yang berani meneliti," ucap Roy Suryo.
Namun, menurut Roy Suryo, respons pemerintah saat itu luar biasa. Roy mengaku diundang ke Badan Intelijen ABRI untuk menjelaskan penelitiannya.
"Saya mempresentasikan kenapa bisa meyakinkan dengan itu 100%, waktu itu saya bilang 100%. Kesimpulannya klir itu rekaman kebocoran di istana, jadi benar. Jadi apresiasi yang diterima, kemudian penyelidikan ke dalam jangan sampai berikutnya bocor lagi," jelas Roy Suryo.
Setahun kemudian pada 2000, ia kembali melakukan penelitian dengan skandal foto Gus Dur bersama seorang wanita bernama Aryanti Sitepu. Meskipun banyak kalangan yang tidak suka dengan penelitiannya, namun hal itu berujung baik juga.
"Saya juga yang memeriksa, dan itu tak mudah, pertama banyak sekali teman-teman Banser yang mau nyerang, mau nyerang tapi mempertanyakan, bagus, mereka tidak menghujat saya," jelas Roy.
"Saya jelaskan detailnya, dan Gus Dur dijebak nama hotelnya Hotel Raden di Jalan Raden Saleh, klir, hotelnya kita datengin semua. Blablabla selesai," ungkap dia.
Bahkan sejumlah skandal anggota dewan juga pernah diungkapnya dalam menggunakan penelitian. Anehnya, kata Roy, hanya Jokowi lah objek penelitian yang dinilainya keberatan dan bahkan melakukan pelaporan terhadap dirinya.
"Anggota DPR puluhan yang saya periksa, bahkan saya dihadirkan di MKD untuk meneliti, ada yang sama artis, teman sesama anggota dewan," kata Roy.
"Baru kali ini ada kita menerbitkan sampai buku pertama judulnya adalah Jokowi's White Paper dan itu bersama Rismon dan Tifauzia kemudian orangnya (Jokowi) keberatan dan tidak hanya keberatan tapi langsung dituntut," ujar Roy.
Kendati demikian, Roy mengaku hanya bisa tersenyum melihat respons dari Jokowi. Ia hanya meyakinkan bahwa penelitiannya didasarkan oleh metodologi yang sah.
"Kami senyum saja, jadi artinya semua (penelitian) juga menggunakan program yang reliable, program yang sudah terpercaya," tandas Roy Suryo.
(shf)
Lihat Juga :