KKB Aniaya Guru hingga Tewas, Kawan Indonesia: Ancaman Bagi Masa Depan Anak Papua
Selasa, 10 Februari 2026 - 14:58 WIB
loading...
A
A
A
Lihat video: 3 Anggota OPM Puncak Nyatakan Ikrar Kembali ke NKRI
Arief menegaskan, tragedi pembunuhan Frengki bukan yang pertama. Pada 21 Maret 2025, seorang guru perempuan bernama Rosalia Rerek Sogen (30) juga menjadi korban serangan KKB di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, di mana ia ditemukan tewas setelah penyerangan terhadap tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di lokasi tersebut. Rosalia dikenal sebagai guru yang berdedikasi tinggi sejak bertugas di pedalaman Papua.
“Dulu Bu Guru Rosalia Rerek Sogen, kini guru Frengki. Korbannya pendidik lagi, lokasinya wilayah pendidikan. Ini menunjukkan pola teror yang berulang dan disengaja,” tegas Arief, Selasa (10/2/2026).
Menurut Arief, pembunuhan terhadap guru perempuan dan laki-laki di wilayah yang sama menunjukkan bahwa KKB menjadikan tenaga pendidik sebagai target strategis untuk menciptakan ketakutan dan kekosongan pendidikan. “Jika bu guru dan guru terus dibunuh, siapa yang mau mengajar di Yahukimo? Ini bukan kebetulan, ini strategi teror,” ujarnya.
Arief menambahkan, dalam tiga tahun terakhir, kekerasan KKB terhadap guru dan tenaga pendidikan terus terjadi, mulai dari pembunuhan, penembakan, pengusiran paksa, hingga perusakan fasilitas pendidikan di wilayah pegunungan Papua, termasuk Yahukimo.
“Setiap guru yang dibunuh atau dipaksa pergi berarti ribuan jam belajar hilang, sekolah ditutup, anak-anak putus sekolah. Ini efek domino yang merusak fondasi pembangunan SDM Papua,” katanya.
Menurut Arief, kekerasan bersenjata terhadap dunia pendidikan akan memperlebar ketertinggalan dan memperpanjang lingkaran kemiskinan struktural di Papua.
Arief menegaskan, tragedi pembunuhan Frengki bukan yang pertama. Pada 21 Maret 2025, seorang guru perempuan bernama Rosalia Rerek Sogen (30) juga menjadi korban serangan KKB di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, di mana ia ditemukan tewas setelah penyerangan terhadap tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di lokasi tersebut. Rosalia dikenal sebagai guru yang berdedikasi tinggi sejak bertugas di pedalaman Papua.
“Dulu Bu Guru Rosalia Rerek Sogen, kini guru Frengki. Korbannya pendidik lagi, lokasinya wilayah pendidikan. Ini menunjukkan pola teror yang berulang dan disengaja,” tegas Arief, Selasa (10/2/2026).
Menurut Arief, pembunuhan terhadap guru perempuan dan laki-laki di wilayah yang sama menunjukkan bahwa KKB menjadikan tenaga pendidik sebagai target strategis untuk menciptakan ketakutan dan kekosongan pendidikan. “Jika bu guru dan guru terus dibunuh, siapa yang mau mengajar di Yahukimo? Ini bukan kebetulan, ini strategi teror,” ujarnya.
Arief menambahkan, dalam tiga tahun terakhir, kekerasan KKB terhadap guru dan tenaga pendidikan terus terjadi, mulai dari pembunuhan, penembakan, pengusiran paksa, hingga perusakan fasilitas pendidikan di wilayah pegunungan Papua, termasuk Yahukimo.
“Setiap guru yang dibunuh atau dipaksa pergi berarti ribuan jam belajar hilang, sekolah ditutup, anak-anak putus sekolah. Ini efek domino yang merusak fondasi pembangunan SDM Papua,” katanya.
Menurut Arief, kekerasan bersenjata terhadap dunia pendidikan akan memperlebar ketertinggalan dan memperpanjang lingkaran kemiskinan struktural di Papua.
Lihat Juga :