Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif Jombang Usulkan Penataan Kepemimpinan NU

Kamis, 29 Januari 2026 - 14:49 WIB
loading...
Pengasuh Pesantren Mambaul...
Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib mengeluarkan konsep penataan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU). Foto/istimewa
A A A
JATIM - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib mengeluarkan posisi penataan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga marwah ulama dan menata jam'iyah. Namun kertas posisi tersebut bukan untuk mengoreksi masa lalu, bukan pula untuk menghakimi.

"Kertas posisi saya buat dari ikhtiar menjaga marwah ulama dan merawat NU agar tetap kokoh, teduh, dan bermartabat di tengah perubahan zaman," tuturnya, Kamis (29/1/2026).

Gus Salam panggilan akrab KH Abdussalam Shohib mengingatkan NU sejak kelahirannya tidak pernah dimaksudkan sebagai organisasi administratif semata. NU lahir sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, perhimpunan keagamaan dan kemasyarakatan yang bertumpu pada kepemimpinan ulama baik dalam dimensi keilmuan, moral, maupun sosial kebangsaan.

Baca juga: Gus Yahya Ajak Rais Aam PBNU Gelar Muktamar Bersama

"Dalam tradisi NU, kepemimpinan tidak dibangun di atas kekuasaan, melainkan di atas ilmu, adab, keteladanan, dan keberkahan. Ulama bukan sekadar pengurus, melainkan penjaga nilai, penuntun umat, dan pemikul amanat sejarah. Karena itu, sejak awal NU menempatkan ulama sebagai poros utama organisasi," ujarnya.

Namun seiring perjalanan waktu, NU berkembang menjadi organisasi yang sangat besar, kompleks, dan berhadapan langsung dengan dinamika sosial, politik, dan kebangsaan yang semakin rumit.

Lihat video: Konflik Internal PBNU Memanas!


"Dalam kondisi seperti ini, ketulusan saja tidak cukup. Diperlukan sistem kelembagaan yang kuat, agar kewibawaan ulama tetap terjaga dan organisasi tidak terseret pada tarik-menarik kepentingan," ucapnya.

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur 2018-2023 ini menyebut, ada enam prinsip dasar penataan kepemimpinan NU. Yang kepenataan kelembagaan NU harus berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang selaras dengan tradisi pesantren dan ruh jam’iyyah yakni;

Supremasi Kepemimpinan Ulama

Ulama adalah penentu arah, bukan pelengkap struktur. Kepemimpinan NU harus berpijak pada otoritas keilmuan dan akhlak, bukan kekuasaan administratif.

Pemisahan Tegas Antar Otoritas

• Mustasyar → otoritas moral dan etik
• Majelis Syuriah → otoritas kebijakan
• Tanfidziyah → otoritas pelaksana

Tidak boleh terjadi percampuran peran.

Musyawarah Mufakat sebagai Prinsip Mutlak

Dalam pengambilan keputusan:

• Tidak ada voting
• Tidak ada dominasi
• Tidak ada pemaksaan kehendak

"Musyawarah mufakat adalah jalan utama,akar tradisi Wali Songo dalam membentuk peradaban, dan diwariskan menjadi tradisi ulama sejak dahulu," ucapnya.

Kepemimpinan Kolektif-Kolegial

Tidak ada figur tunggal yang dominan. Semua keputusan lahir dari majelis, bukan individu.

Antikooptasi dan Antipolitik Transaksional

Setiap mekanisme harus tertutup dari:

• politik uang,
• proxy kepentingan,
• transaksi kekuasaan.

Kesinambungan Tradisi dan Keterbukaan Zaman

Yang dijaga adalah nilai, bukan bentuk lama. Yang diperbarui adalah sistem, bukan ruh NU. Adapun arsitektur Kepemimpinan NU, ungkap Gus Salam, struktur kepemimpinan NU disusun dalam satu garis sistemik sebagai berikut:

Ahwa → Mustasyar → Majelis Syuriah → Tanfidziyah

'Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, saling menguatkan, dan tidak saling tumpang tindih," ujarnya.

Menurut Gus Salam, Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) memiliki kedudukan dan fungsi sebagai lembaga ad hoc Muktamar, bukan lembaga permanen. Fungsi utamanya:

• Menjadi pintu awal pembentukan kepemimpinan NU
• Menjadi cikal bakal Mustasyar
• Menetapkan Majelis Syuriah
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bertemu PWNU dan PCNU...
Bertemu PWNU dan PCNU se-Bengkulu, Gus Salam: Soliditasnya Bisa Jadi Teladan PBNU
Calon Ketum PBNU Gus...
Calon Ketum PBNU Gus Salam Sowan ke Rais Syuriyah dan Ketua PWNU Sulsel
Nahdliyin Muda Batang:...
Nahdliyin Muda Batang: Siapa pun Ketum PBNU Harus Bisa Memperkuat Posisi NU
Iduladha 1447 Hijriah,...
Iduladha 1447 Hijriah, PW ISNU Aceh Salurkan Hewan Kurban ke Tiga Kabupaten-Kota
Percayakan Pemotongan...
Percayakan Pemotongan Hewan Kurban ke Dharma Jaya, PWNU DKI Jakarta: Lebih Higienis
PCNU Cirebon Ajukan...
PCNU Cirebon Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU
Jelang Muktamar ke-35,...
Jelang Muktamar ke-35, Calon Ketum PBNU Gus Salam Silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-NTT
Tata Kelola Saja Tidak...
Tata Kelola Saja Tidak Cukup, Gus Ma’shum: NU juga Butuh Tata Krama
Nahdlatul Ulama: Pesantren...
Nahdlatul Ulama: Pesantren dan Kedaulatan Masyarakat Sipil
Rekomendasi
LM FEB UI Tekankan Pentingnya...
LM FEB UI Tekankan Pentingnya Merekayasa Human Performance di Era AI
Kejagung Geledah 6 Lokasi...
Kejagung Geledah 6 Lokasi terkait Korupsi MBG, Sasar Kantor dan Rumah Tersangka di Jakarta hingga Bandung
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Berita Terkini
GTV Targetkan Ribuan...
GTV Targetkan Ribuan Peserta Liga Bintang Juara, Siapkan Babak Nasional di Jakarta
Kadisdik Tangerang:...
Kadisdik Tangerang: Liga Bintang Juara Jadi Ajang Pemerataan dan Kreativitas Siswa
Wali Kota Tangerang...
Wali Kota Tangerang Apresiasi Liga Bintang Juara, Dorong Generasi Berpikir Cepat dan Tepat
Kembangkan Kasus Gading...
Kembangkan Kasus Gading Gajah, Polda Riau Telusuri Aliran Dana Rp1,8 Miliar
Pramono Buka Jakarta...
Pramono Buka Jakarta Fair Kemayoran 2026, Transaksi UMKM Ditarget Capai Rp8 Triliun
Beri Semangat Anak Pejuang...
Beri Semangat Anak Pejuang Leukemia, Polres Jakpus Wujudkan Harapan Deni Jadi Polisi Cilik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved