Jelang Ramadan, Kemenag Percepat Pemulihan Tempat Ibadah Terdampak Banjir Sumatera
Rabu, 14 Januari 2026 - 16:36 WIB
loading...
A
A
A
Di sektor pendidikan keagamaan, Abu memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung. Peninjauan dilakukan di MIN 4 Pidie Jaya yang telah direnovasi oleh LAZ, termasuk dukungan penyediaan madrasah sementara agar aktivitas pendidikan tidak terhenti. “Madrasah harus tetap menjadi ruang aman dan harapan bagi anak-anak,” katanya.
Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, Kemenag meninjau dapur umum yang melayani puluhan hingga ratusan keluarga, penyaluran beras, serta penyediaan air bersih melalui sumur bor. Abu menilai masjid dan meunasah berperan strategis sebagai simpul layanan sosial-keagamaan sekaligus pusat pemulihan psikososial masyarakat.
Selain itu, pembinaan keagamaan dan dukungan psikologis turut menjadi perhatian. Di sejumlah lokasi dilakukan pengajian, pembagian Al-Qur’an dan Iqra, serta kegiatan trauma healing yang melibatkan relawan dan pemangku kepentingan zakat dan wakaf. Fasilitas pendukung seperti tandon air, filter air minum, dan perangkat suara juga disiapkan untuk mendukung aktivitas ibadah.
“Peran KUA menjadi perhatian khusus. Kami memastikan layanan pencatatan nikah, konsultasi keagamaan, zakat, wakaf, hingga mediasi sosial tetap berjalan. KUA adalah garda terdepan layanan keagamaan di tingkat akar rumput, terutama saat masyarakat menghadapi krisis,” imbuhnya.
Komitmen pemulihan layanan keagamaan juga diwujudkan di Sumatra Barat. Pada Senin (12/1/2026), Bimas Islam Kementerian Agama menyalurkan bantuan pascabencana senilai Rp1,075 miliar di Padang.
Bantuan tersebut bersumber dari anggaran Kementerian Agama dan dukungan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI), meliputi rehabilitasi KUA terdampak di tiga titik, bantuan meubelair melalui skema SBSN, serta donasi bagi penghulu, tokoh agama, dan majelis taklim terdampak bencana.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ahmad Zayadi mengatakan, kehadiran Kementerian Agama tidak hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga memastikan pelayanan dasar masyarakat tetap berjalan. “Kehadiran kami selain memberikan bantuan, juga ingin memastikan pelayanan dasar masyarakat, khususnya keagamaan, tidak terhenti,” ujar Zayadi.
Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, Kemenag meninjau dapur umum yang melayani puluhan hingga ratusan keluarga, penyaluran beras, serta penyediaan air bersih melalui sumur bor. Abu menilai masjid dan meunasah berperan strategis sebagai simpul layanan sosial-keagamaan sekaligus pusat pemulihan psikososial masyarakat.
Selain itu, pembinaan keagamaan dan dukungan psikologis turut menjadi perhatian. Di sejumlah lokasi dilakukan pengajian, pembagian Al-Qur’an dan Iqra, serta kegiatan trauma healing yang melibatkan relawan dan pemangku kepentingan zakat dan wakaf. Fasilitas pendukung seperti tandon air, filter air minum, dan perangkat suara juga disiapkan untuk mendukung aktivitas ibadah.
“Peran KUA menjadi perhatian khusus. Kami memastikan layanan pencatatan nikah, konsultasi keagamaan, zakat, wakaf, hingga mediasi sosial tetap berjalan. KUA adalah garda terdepan layanan keagamaan di tingkat akar rumput, terutama saat masyarakat menghadapi krisis,” imbuhnya.
Komitmen pemulihan layanan keagamaan juga diwujudkan di Sumatra Barat. Pada Senin (12/1/2026), Bimas Islam Kementerian Agama menyalurkan bantuan pascabencana senilai Rp1,075 miliar di Padang.
Bantuan tersebut bersumber dari anggaran Kementerian Agama dan dukungan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI), meliputi rehabilitasi KUA terdampak di tiga titik, bantuan meubelair melalui skema SBSN, serta donasi bagi penghulu, tokoh agama, dan majelis taklim terdampak bencana.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ahmad Zayadi mengatakan, kehadiran Kementerian Agama tidak hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga memastikan pelayanan dasar masyarakat tetap berjalan. “Kehadiran kami selain memberikan bantuan, juga ingin memastikan pelayanan dasar masyarakat, khususnya keagamaan, tidak terhenti,” ujar Zayadi.
Lihat Juga :