Kisah Moksa Mahapatih Gajah Mada di Air Terjun Madakaripura
Sabtu, 03 Januari 2026 - 06:34 WIB
loading...
A
A
A
Meski terpisah, namun keduanya intens bertemu. Patni setiap hari mengunjungi sang suami untuk mengantarkan sarapan dan kebutuhan harian lainnya. Hingga pada suatu hari kejadian tidak biasa terjadi di antara keduanya.
Saat hendak menyantap masakan sang istri, tanpa sengaja gelas tersenggol dan air pun tumpah. Melihat hal itu, Curadharmayogi pun pergi mencari air minum. Patni ditinggal sendirian.
Proses kehamilan Patni diawali dengan perbuatan Hyang Brahma (Dewa Api) yang tergoda untuk bersetubuh dengan Patni. Maka berubahlah wujud sang Dewa ini menyerupai Curadharmayogi dan mendatangi Patni, di saat suaminya yang asli sedang pergi mencari air minum.
Kehamilan Patni seolah tamparan bagi keduanya. Bagaimana tidak, keduanya sudah berjanji untuk meninggalkan kenikmatan dunia demi agama. Karena didorong rasa malu itulah keduanya memutuskan kabur ke hutan.
Pelarian mereka berakhir di dekat Gunung Semeru. Dari sana keduanya menuju ke arah Barat Daya, lalu sampai di Desa Maddha. Si jabang bayi akhirnya melahirkan di sebuah balai agung yang terletak di desa tersebut di tahun 1299.
Usai melahirkan, Patni bersama suaminya meninggalkan buah hati mereka seorang diri. Keduanya melanjutkan pelarian menuju gunung. Beruntung, tersebut dipungut oleh pemuka desa setempat.
Kabar penemuan bayi itu sampai juga ke telinga salah satu patih tersohor dari Wilatikta. Sang patih lantas merawat dan membawa bayi yang kemudian diberi nama Maddha ini ke Majapahit.
Kisah ini terdapat dalam lontar Badad Gajah Maddha. Kopian cerita yang ditulis di atas lontar ini terdapat di perpustakaan lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Penulisan di lontas menggunakan bahasa Bali-Tengahan. Hingga kini memang belum diketahui lontar asli yang menceritakan sang patih ini.
Bayi yang dibuang itu kemudian dikenal Gajah Mada yang menjadi tokoh sentral di Kerajaan Majapahit. Masa kejayaan Majapahit tidak lepas dari figur Gajah Mada. Karir militernya di Majapahit mulai menanjak setelah dia berhasil menyelamatkan Jayanegara, Raja kedua Majapahit dalam peristiwa pemberontakan Ra Kuti tahun 1319.
Saat hendak menyantap masakan sang istri, tanpa sengaja gelas tersenggol dan air pun tumpah. Melihat hal itu, Curadharmayogi pun pergi mencari air minum. Patni ditinggal sendirian.
Proses kehamilan Patni diawali dengan perbuatan Hyang Brahma (Dewa Api) yang tergoda untuk bersetubuh dengan Patni. Maka berubahlah wujud sang Dewa ini menyerupai Curadharmayogi dan mendatangi Patni, di saat suaminya yang asli sedang pergi mencari air minum.
Kehamilan Patni seolah tamparan bagi keduanya. Bagaimana tidak, keduanya sudah berjanji untuk meninggalkan kenikmatan dunia demi agama. Karena didorong rasa malu itulah keduanya memutuskan kabur ke hutan.
Pelarian mereka berakhir di dekat Gunung Semeru. Dari sana keduanya menuju ke arah Barat Daya, lalu sampai di Desa Maddha. Si jabang bayi akhirnya melahirkan di sebuah balai agung yang terletak di desa tersebut di tahun 1299.
Usai melahirkan, Patni bersama suaminya meninggalkan buah hati mereka seorang diri. Keduanya melanjutkan pelarian menuju gunung. Beruntung, tersebut dipungut oleh pemuka desa setempat.
Kabar penemuan bayi itu sampai juga ke telinga salah satu patih tersohor dari Wilatikta. Sang patih lantas merawat dan membawa bayi yang kemudian diberi nama Maddha ini ke Majapahit.
Kisah ini terdapat dalam lontar Badad Gajah Maddha. Kopian cerita yang ditulis di atas lontar ini terdapat di perpustakaan lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Penulisan di lontas menggunakan bahasa Bali-Tengahan. Hingga kini memang belum diketahui lontar asli yang menceritakan sang patih ini.
Bayi yang dibuang itu kemudian dikenal Gajah Mada yang menjadi tokoh sentral di Kerajaan Majapahit. Masa kejayaan Majapahit tidak lepas dari figur Gajah Mada. Karir militernya di Majapahit mulai menanjak setelah dia berhasil menyelamatkan Jayanegara, Raja kedua Majapahit dalam peristiwa pemberontakan Ra Kuti tahun 1319.
Lihat Juga :