Status Gunung Lewotobi Laki-laki Naik ke Level Awas
Jum'at, 02 Januari 2026 - 07:13 WIB
loading...
Badan Geologi Kementerian ESDM resmi menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada awal tahun 2026. Foto/Badan Geologi
A
A
A
JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) pada awal tahun 2026. Peningkatan status ini dilakukan menyusul lonjakan signifikan aktivitas vulkanik yang teramati sejak akhir Desember 2025.
Gunung Lewotobi Laki-laki yang berada di Kecamatan Wulanggitang dan memiliki ketinggian sekitar 1.584 meter di atas permukaan laut tersebut menunjukkan peningkatan kegempaan sejak 31 Desember 2025 pukul 00.00 hingga 18.00 Wita. Dalam periode tersebut, tercatat sebanyak 122 kali gempa vulkanik dalam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa peningkatan jumlah gempa tersebut mengindikasikan adanya suplai magma baru dalam jumlah besar yang bergerak cepat menuju permukaan. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya erupsi.
Baca Juga: Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, 4.088 Orang Mengungsi
"Berdasarkan analisis visual dan instrumental, aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki tergolong masih tinggi. Oleh karena itu, tingkat aktivitasnya dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas)," ujar Lana dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/1/2026).
Badan Geologi mencatat, selama periode 23–31 Desember 2025 terjadi berbagai jenis gempa, antara lain satu kali gempa guguran, 11 kali gempa hembusan, empat kali gempa harmonik, 204 kali tremor non-harmonik, lima kali gempa frekuensi rendah, 115 kali gempa vulkanik dalam, 15 kali gempa tektonik lokal, serta 53 kali gempa tektonik jauh. Erupsi terakhir Gunung Lewotobi Laki-laki tercatat pada 18 Oktober 2025 pukul 00.44 WITA.
Selain peningkatan kegempaan, data deformasi turut menunjukkan perubahan signifikan. Pengukuran menggunakan tiltmeter memperlihatkan pola inflasi yang cepat, menandakan adanya pergerakan magma yang memengaruhi tubuh gunung api.
Sementara itu, data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) mulai menunjukkan pola inflasi pada komponen vertikal selama satu minggu terakhir, namun dalam tiga hari terakhir terpantau mengalami kenaikan. "Kondisi ini mengindikasikan bahwa pergerakan magma dari kedalaman dalam ke arah dangkal masih berlangsung ke arah permukaan," jelas Lana.
Seiring kenaikan status tersebut, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi bahwa masyarakat dan wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 6 km dari pusat erupsi, serta 7 km sektoral pada arah barat laut-timur laut, serta tetap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah. Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Masyarakat di sekitar daerah rawan bencana juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar, terutama saat hujan lebat, di daerah aliran sungai yang berhulu di Gunung Lewotobi Laki-laki seperti Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen. Warga yang terdampak hujan abu diimbau menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut.
Selain berdampak ke permukiman, abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki juga berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan jika sebarannya mengarah ke wilayah tersebut.
Pemerintah daerah diharapkan terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Informasi terkini terkait aktivitas gunung api dapat diakses melalui laman resmi Magma Indonesia dan kanal media sosial Badan Geologi.
Gunung Lewotobi Laki-laki yang berada di Kecamatan Wulanggitang dan memiliki ketinggian sekitar 1.584 meter di atas permukaan laut tersebut menunjukkan peningkatan kegempaan sejak 31 Desember 2025 pukul 00.00 hingga 18.00 Wita. Dalam periode tersebut, tercatat sebanyak 122 kali gempa vulkanik dalam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa peningkatan jumlah gempa tersebut mengindikasikan adanya suplai magma baru dalam jumlah besar yang bergerak cepat menuju permukaan. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya erupsi.
Baca Juga: Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, 4.088 Orang Mengungsi
"Berdasarkan analisis visual dan instrumental, aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki tergolong masih tinggi. Oleh karena itu, tingkat aktivitasnya dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas)," ujar Lana dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/1/2026).
Badan Geologi mencatat, selama periode 23–31 Desember 2025 terjadi berbagai jenis gempa, antara lain satu kali gempa guguran, 11 kali gempa hembusan, empat kali gempa harmonik, 204 kali tremor non-harmonik, lima kali gempa frekuensi rendah, 115 kali gempa vulkanik dalam, 15 kali gempa tektonik lokal, serta 53 kali gempa tektonik jauh. Erupsi terakhir Gunung Lewotobi Laki-laki tercatat pada 18 Oktober 2025 pukul 00.44 WITA.
Selain peningkatan kegempaan, data deformasi turut menunjukkan perubahan signifikan. Pengukuran menggunakan tiltmeter memperlihatkan pola inflasi yang cepat, menandakan adanya pergerakan magma yang memengaruhi tubuh gunung api.
Sementara itu, data dari Global Navigation Satellite System (GNSS) mulai menunjukkan pola inflasi pada komponen vertikal selama satu minggu terakhir, namun dalam tiga hari terakhir terpantau mengalami kenaikan. "Kondisi ini mengindikasikan bahwa pergerakan magma dari kedalaman dalam ke arah dangkal masih berlangsung ke arah permukaan," jelas Lana.
Seiring kenaikan status tersebut, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi bahwa masyarakat dan wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 6 km dari pusat erupsi, serta 7 km sektoral pada arah barat laut-timur laut, serta tetap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah. Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Masyarakat di sekitar daerah rawan bencana juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar, terutama saat hujan lebat, di daerah aliran sungai yang berhulu di Gunung Lewotobi Laki-laki seperti Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen. Warga yang terdampak hujan abu diimbau menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut.
Selain berdampak ke permukiman, abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki juga berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan jika sebarannya mengarah ke wilayah tersebut.
Pemerintah daerah diharapkan terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Informasi terkini terkait aktivitas gunung api dapat diakses melalui laman resmi Magma Indonesia dan kanal media sosial Badan Geologi.
(zik)
Lihat Juga :