PNM Peduli Salurkan Bantuan Sosial kepada Guru Honorer SDK Wukur di NTT
Selasa, 19 Mei 2026 - 20:22 WIB
loading...
Guru honorer SDK Wukur, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto/istimewa
A
A
A
NTT - Jalan menuju ruang kelas di pelosok Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur tidak selalu mudah dilalui. Bagi guru honorer SDK Wukur, Sikka, Nusa Tenggara Timur Yustina Yuniarti, perjalanan menuju tempat mengajar adalah bentangan panjang pengabdian.
Setiap hari, Yustina menempuh sekitar 6 kilometer menuju sekolah, melewati jalan setapak, hutan, dan medan yang tidak ringan, namun tetap membawa semangat yang sama dan memastikan anak-anak di SDK Wukur tetap belajar dan berani bermimpi.
Yustina mengabdikan diri di sekolah tersebut. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, Yustina memilih tetap bertahan sebagai pendidik. SDK Wukur saat ini menjadi ruang belajar bagi 34 siswa dengan didampingi delapan tenaga pendidik.
Baca juga: DPR Minta Pemerintah Prioritaskan Guru Honorer dalam Seleksi PPPK
Di tempat yang sederhana itu, proses belajar tidak hanya dibangun dari buku dan papan tulis, tetapi juga dari ketulusan para guru yang terus hadir meski harus menempuh perjalanan panjang setiap hari.
“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati,” tutur Yustina, Selasa (19/5/2026).
Kisah Yustina menjadi potret kecil dari keteguhan para pendidik di daerah yang terus menjaga nyala pendidikan meski berada dalam keterbatasan. Perjuangannya juga mengingatkan pada semangat ibu-ibu Mekaar, perempuan-perempuan prasejahtera yang setiap hari berjuang dengan cara masing-masing untuk keluarga, pendidikan anak, dan masa depan yang lebih baik.
Setiap hari, Yustina menempuh sekitar 6 kilometer menuju sekolah, melewati jalan setapak, hutan, dan medan yang tidak ringan, namun tetap membawa semangat yang sama dan memastikan anak-anak di SDK Wukur tetap belajar dan berani bermimpi.
Yustina mengabdikan diri di sekolah tersebut. Di tengah keterbatasan akses dan kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, Yustina memilih tetap bertahan sebagai pendidik. SDK Wukur saat ini menjadi ruang belajar bagi 34 siswa dengan didampingi delapan tenaga pendidik.
Baca juga: DPR Minta Pemerintah Prioritaskan Guru Honorer dalam Seleksi PPPK
Di tempat yang sederhana itu, proses belajar tidak hanya dibangun dari buku dan papan tulis, tetapi juga dari ketulusan para guru yang terus hadir meski harus menempuh perjalanan panjang setiap hari.
“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Namun, kami bertahan karena panggilan hati,” tutur Yustina, Selasa (19/5/2026).
Kisah Yustina menjadi potret kecil dari keteguhan para pendidik di daerah yang terus menjaga nyala pendidikan meski berada dalam keterbatasan. Perjuangannya juga mengingatkan pada semangat ibu-ibu Mekaar, perempuan-perempuan prasejahtera yang setiap hari berjuang dengan cara masing-masing untuk keluarga, pendidikan anak, dan masa depan yang lebih baik.
Lihat Juga :