Kemendukbangga/BKKBN Kerahkan TPK Atasi Trauma Keluarga Terdampak Bencana Sumatera
Rabu, 31 Desember 2025 - 07:28 WIB
loading...
A
A
A
Dalam praktiknya, Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh melaksanakan trauma healing melalui permainan sederhana, bernyanyi, dan aktivitas yang ramah anak, sambil melibatkan para kader, remaja Generasi Berencana (Genre) dan anggota keluarga. Salah satu aspek paling penting dari komitmen Kemendukbangga/BKKBN adalah jaminan bahwa pemulihan bukan sekadar respons jangka pendek.
Wihaji memberikan pernyataan tegas pendampingan trauma ini akan terus berlanjut. “Trauma tidak bisa dibatasi waktu, selama membutuhkan kehadiran dari pemerintah khususnya Kemendukbangga/BKKBN, maka kita wajib hadir memberikan jalan keluar.”
Sebagai informasi penguat, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Provinsi Sumatera Barat mencatat 40 dari 61 anak di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, mengalami gangguan tidur pascabencana. Tak hanya gangguan tidur, pada screening lanjutan yang melibatkan 55 anak berusia 3-18 tahun di lokasi yang sama, menunjukkan 49 anak atau 89 persen termasuk dalam kategori Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
IDAI menilai temuan ini mengidentifikasi tingginya beban psikologis anak yang terdampak bencana. Inilah mengapa kekhawatiran menteri atas kondisi psikis keluarga dan anak di lokasi bencana harus diperhatikan khusus. Menjadikan keluarga sebagai pusat pemulihan trauma dengan pendampingan TPK dan lintas sektor merupakan langkah paling logis yang bisa ditempuh saat ini.
Wihaji memberikan pernyataan tegas pendampingan trauma ini akan terus berlanjut. “Trauma tidak bisa dibatasi waktu, selama membutuhkan kehadiran dari pemerintah khususnya Kemendukbangga/BKKBN, maka kita wajib hadir memberikan jalan keluar.”
Sebagai informasi penguat, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Provinsi Sumatera Barat mencatat 40 dari 61 anak di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, mengalami gangguan tidur pascabencana. Tak hanya gangguan tidur, pada screening lanjutan yang melibatkan 55 anak berusia 3-18 tahun di lokasi yang sama, menunjukkan 49 anak atau 89 persen termasuk dalam kategori Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
IDAI menilai temuan ini mengidentifikasi tingginya beban psikologis anak yang terdampak bencana. Inilah mengapa kekhawatiran menteri atas kondisi psikis keluarga dan anak di lokasi bencana harus diperhatikan khusus. Menjadikan keluarga sebagai pusat pemulihan trauma dengan pendampingan TPK dan lintas sektor merupakan langkah paling logis yang bisa ditempuh saat ini.
(cip)
Lihat Juga :