CHC Hidupkan Kembali Kopi Karst dari Kabupaten Maros
Selasa, 15 September 2020 - 21:10 WIB
loading...
A
A
A
“Kopi karst ini memiliki banyak narasi yang menurut kami sangat luar biasa, karena menurut yang saya tahu, mungkin satu-satunya di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara . Kopi ini tumbuh di dataran rendah di sela karst, yang memang berfungsi sebagai penampung air. Jika diolah dengan baik, kopi ini kualitasnya bisa bersaing,” jelasnya.
Selama ini, tanaman kopi yang banyak ditemukan bertebaran di kaki gunung karst, sudah tidak lagi dirawat oleh warga. Karena petani lebih memilih mengurus kebun lain yang lebih menjanjikan. Sebab, harga kopi yang mereka olah sendiri itu, tidak bisa lagi bersaing dengan kualitas kopi dari tempat lain.
Baca juga: Warga Rammang-rammang Dapat Layanan Keesehatan Gratis
“Jadi kebun kopi mereka sudah terbengkalai lama sekali. Karena memang harganya sudah tidak menjanjikan lagi. Kami dari komunitas CHC lalu datang untuk memperkenalkan kembali potensi itu ke mereka dan sekarang sudah mulai lagi tertarik,” terangnya.
Selain mengajak warga untuk kembali mengurus tanaman kopi mereka, komunitas CHC juga membeli hasil panen kopi petani di Leang-leang dengan harga yang cukup tinggi, setelah itu mereka mengolahnya menjadi sebuah produk kopi pilhan yang kini cukup banyak diminati oleh penikmat kopi Tanah Air.
“Kami dari CHC ini yang membeli hasil panen mereka dalam bentuk green bean. Lalu kami olah dengan baik hingga menjadi sebuah produk yang saat ini cukup bersaing dengan kopi lain dari Sulsel. Yah selain rasa, narasi kopi karst ini memang menjadi daya tarik tersendiri,” katanya.
Upaya memperkenalkan kembali kopi karst ini sudah dilakukan oleh CHC sejak tahun 2018. Sejauh inipun, para petani kopi sudah mulai menggeliat untuk merawat tanaman kopi mereka yang telah lama ditinggalkan.
Selama ini, tanaman kopi yang banyak ditemukan bertebaran di kaki gunung karst, sudah tidak lagi dirawat oleh warga. Karena petani lebih memilih mengurus kebun lain yang lebih menjanjikan. Sebab, harga kopi yang mereka olah sendiri itu, tidak bisa lagi bersaing dengan kualitas kopi dari tempat lain.
Baca juga: Warga Rammang-rammang Dapat Layanan Keesehatan Gratis
“Jadi kebun kopi mereka sudah terbengkalai lama sekali. Karena memang harganya sudah tidak menjanjikan lagi. Kami dari komunitas CHC lalu datang untuk memperkenalkan kembali potensi itu ke mereka dan sekarang sudah mulai lagi tertarik,” terangnya.
Selain mengajak warga untuk kembali mengurus tanaman kopi mereka, komunitas CHC juga membeli hasil panen kopi petani di Leang-leang dengan harga yang cukup tinggi, setelah itu mereka mengolahnya menjadi sebuah produk kopi pilhan yang kini cukup banyak diminati oleh penikmat kopi Tanah Air.
“Kami dari CHC ini yang membeli hasil panen mereka dalam bentuk green bean. Lalu kami olah dengan baik hingga menjadi sebuah produk yang saat ini cukup bersaing dengan kopi lain dari Sulsel. Yah selain rasa, narasi kopi karst ini memang menjadi daya tarik tersendiri,” katanya.
Upaya memperkenalkan kembali kopi karst ini sudah dilakukan oleh CHC sejak tahun 2018. Sejauh inipun, para petani kopi sudah mulai menggeliat untuk merawat tanaman kopi mereka yang telah lama ditinggalkan.
Lihat Juga :