Kisah Jenderal Kopassus Hendropriyono Duel Maut dengan Pimpinan Pemberontak di Belantara Hutan Kalimantan Utara
Selasa, 25 November 2025 - 07:17 WIB
loading...
A
A
A
Dalam kisah yang dirangkum SindoNews dari buku “Operasi Sandi Yudha”, awalnya diceritakan saat Kapten Hendropriyono dan pasukannya harus merayap sejauh 4,5 kilometer di belantara hutan Kalimantan Utara. Mereka mendapat tugas untuk menangkap pimpinan pasukan pemberontak Sukirjan alias Siauw Ah San.
Melalui perjuangan merayah tengah malam di tengah hutan belantara, Hendropriyono dan timnya berhasil menjangkau persembunyian pimpinan pemberontak tersebut. Namun, mereka harus menyabung nyawa duel maut dengan Siauw Ah San yang menolak untuk ditangkap.
Baca juga: Kisah Heroik Letjen Soegito Perintahkan Anak Buah Tembak Dirinya Jika Gagal Negosiasi dengan Fretilin
Ketika itu, Hendropriyono yang memberikan komando untuk menyerbu dan mendobrak jendela. Sedangkan Abdullah alias Pelda Ahmad Kongsenlani yang lari lebih cepat dan mendahuluinya mendobrak pintu.
Nahas, perut Kongsenlani sobek oleh bayonet Siauw Ah San. Melihat usus Kongsenlani terburai Hendropriyono dengan sigap melemparkan pisau komando ke tubuh Siauw Ah San.
Sayangnya, pisau komando yang dilemparkan tidak menancap telak dan hanya memberikan luka ringan di dada kanannya. ”Saat itu saya tanpa senjata di tangan dan harus merebut bayonet dari Siauw Ah San. Sedangkan pistol masih terselip di belakang bawah punggung,” kenangnya.
Untuk meraih pistol, abituren Akmil 1967 ini khawatir keduluan oleh tikaman bayonet Siauw Ah San. Perlahan, Hendropriyono mundur beberapa langkah lalu melompat tinggi dan menendang dada musuhnya. Meski jatuh, Siauw Ah San masih sempat menghujamkan bayonet ke paha kirinya.
“Ngilu rasanya baja dingin itu menembus daging dan menusuk tulang paha saya. Daging saya tersembul keluar dan darah mengalir dari paha kiri kaki,” tuturnya.
Melalui perjuangan merayah tengah malam di tengah hutan belantara, Hendropriyono dan timnya berhasil menjangkau persembunyian pimpinan pemberontak tersebut. Namun, mereka harus menyabung nyawa duel maut dengan Siauw Ah San yang menolak untuk ditangkap.
Baca juga: Kisah Heroik Letjen Soegito Perintahkan Anak Buah Tembak Dirinya Jika Gagal Negosiasi dengan Fretilin
Ketika itu, Hendropriyono yang memberikan komando untuk menyerbu dan mendobrak jendela. Sedangkan Abdullah alias Pelda Ahmad Kongsenlani yang lari lebih cepat dan mendahuluinya mendobrak pintu.
Nahas, perut Kongsenlani sobek oleh bayonet Siauw Ah San. Melihat usus Kongsenlani terburai Hendropriyono dengan sigap melemparkan pisau komando ke tubuh Siauw Ah San.
Sayangnya, pisau komando yang dilemparkan tidak menancap telak dan hanya memberikan luka ringan di dada kanannya. ”Saat itu saya tanpa senjata di tangan dan harus merebut bayonet dari Siauw Ah San. Sedangkan pistol masih terselip di belakang bawah punggung,” kenangnya.
Untuk meraih pistol, abituren Akmil 1967 ini khawatir keduluan oleh tikaman bayonet Siauw Ah San. Perlahan, Hendropriyono mundur beberapa langkah lalu melompat tinggi dan menendang dada musuhnya. Meski jatuh, Siauw Ah San masih sempat menghujamkan bayonet ke paha kirinya.
“Ngilu rasanya baja dingin itu menembus daging dan menusuk tulang paha saya. Daging saya tersembul keluar dan darah mengalir dari paha kiri kaki,” tuturnya.
Lihat Juga :