Kisah Jenderal Kopassus Hendropriyono Duel Maut dengan Pimpinan Pemberontak di Belantara Hutan Kalimantan Utara
Selasa, 25 November 2025 - 07:17 WIB
loading...
A
A
A
Siauw Ah San kemudian berdiri dan mencoba menusuk dada kiri Hendropriyono. Mendapat serangan itu, Hendropriyono langsung melindungi dengan tangan kiri hingga daging lengan kiri dan hasta kirinya sobek. Darah kembali mengucur.
Tangan kanannya dengan sigap membantu merebut bayonet. Akibatnya, daging kelima jarinya tersembul keluar. Bahkan, ruas jari kelingking kanan Hendropriyono nyaris putus.
Sementara pistol M46 yang semula terselip di pinggang belakang di bawah punggung merosot ke dalam celana. Dengan menahan sakit karena darah yang terus mengucur dan jari yang nyaris putus Hendropriyono berhasil mencabut pistol dan menembakannya ke tubuh Siauw Ah San.
“Dor…saya tembak Siauw Ah San dengan dua kali tarikan picu tapi hanya satu peluru yang melesat menembus perutnya karena yang satu lagi macet. Siauw Ah San pun terhuyung-huyung,” ucapnya.
Jari yang terluka membuat Hendropriyono tak bisa lagi menggenggam. Pistol yang dipegangnya pun jatuh. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Hendropriyono membanting Siauw Ah San hingga terjatuh dan bayonetnya pun akhirnya lepas. Bersamaan dengan itu, kelompok pembersih pimpinan Mahmud dan Welly Rustiman masuk.
“Cepat bawa komandan keluar!,” teriak Welly. “Padamkan api,” perintahnya lagi. Sebab, gubuk tempatnya berduel menyabung nyawa dengan Siauw Ah San tiba-tiba sudah dikepung api.
Hendropriyono kemudian memerintahkan Mahmud mengikat keras pangkal lengannya dengan tali plastik untuk menghentikan darah yang terus mengucur dari 11 luka yang dideritanya.
Bersama Kongsenlani, Hendropriyono yang terluka parah kemudian digotong menggunakan sarung oleh Pardi dan Jatmiko. Perlahan pengelihatan semakin buram. Rasa dingin mulai menjalar dari kedua kaki terus bergerak naik ke perut, dada dan kemudian terlelap hingga tak sadarkan diri hingga mendapat perawatan medis.
Tangan kanannya dengan sigap membantu merebut bayonet. Akibatnya, daging kelima jarinya tersembul keluar. Bahkan, ruas jari kelingking kanan Hendropriyono nyaris putus.
Sementara pistol M46 yang semula terselip di pinggang belakang di bawah punggung merosot ke dalam celana. Dengan menahan sakit karena darah yang terus mengucur dan jari yang nyaris putus Hendropriyono berhasil mencabut pistol dan menembakannya ke tubuh Siauw Ah San.
“Dor…saya tembak Siauw Ah San dengan dua kali tarikan picu tapi hanya satu peluru yang melesat menembus perutnya karena yang satu lagi macet. Siauw Ah San pun terhuyung-huyung,” ucapnya.
Jari yang terluka membuat Hendropriyono tak bisa lagi menggenggam. Pistol yang dipegangnya pun jatuh. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Hendropriyono membanting Siauw Ah San hingga terjatuh dan bayonetnya pun akhirnya lepas. Bersamaan dengan itu, kelompok pembersih pimpinan Mahmud dan Welly Rustiman masuk.
“Cepat bawa komandan keluar!,” teriak Welly. “Padamkan api,” perintahnya lagi. Sebab, gubuk tempatnya berduel menyabung nyawa dengan Siauw Ah San tiba-tiba sudah dikepung api.
Hendropriyono kemudian memerintahkan Mahmud mengikat keras pangkal lengannya dengan tali plastik untuk menghentikan darah yang terus mengucur dari 11 luka yang dideritanya.
Bersama Kongsenlani, Hendropriyono yang terluka parah kemudian digotong menggunakan sarung oleh Pardi dan Jatmiko. Perlahan pengelihatan semakin buram. Rasa dingin mulai menjalar dari kedua kaki terus bergerak naik ke perut, dada dan kemudian terlelap hingga tak sadarkan diri hingga mendapat perawatan medis.
(shf)
Lihat Juga :