Kisah Cinta Jenderal Bibit Waluyo, Mantan Pangkostrad yang Terpesona Gadis SMA pada Pandangan Pertama
Sabtu, 22 November 2025 - 14:25 WIB
loading...
Presiden Prabowo Subianto memberikan penganugerahan pangkat Jenderal Kehormatan kepada mantan Pangkostrad Jenderal TNI (Purn) Bibit Waluyo. Foto/Dok BPMI Setpres
A
A
A
JENDERAL (Letjen) Purn Bibit Waluyo merupakan mantan perwira tinggi TNI dengan karir militer yang moncer. Dia pernah menjabat sebagai Panglima Kostrad (Pangkostrad) dan saat pensiun jadi Gubernur Jawa Tengah.
![Kisah Cinta Jenderal Bibit Waluyo, Mantan Pangkostrad yang Terpesona Gadis SMA pada Pandangan Pertama]()
Foto pernikahan Bibit Waluyo dan Sri Suharti. Repro/Love Story (Kisah Cinta Tokoh-Tokoh Terkemuka).
Siapa sangka dalam perjalanan cintanya, Bibit Waluyo pernah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA bernama Sri Suharti.
Baca juga: Kisah Cinta Jenderal Sudirman dengan Siti Alfiah, Gambaran Tentang Cinta yang Tak Memandang Harta
Sejak saat itu, perasaan kagum dan cinta tumbuh dalam hatinya sejak pandangan pertama, yang kemudian membawanya pada perjalanan cinta yang mengesankan.
“Saat pertama kali melihat Sri, saya merasa ada perasaan yang berbeda. Dia masih SMA saat itu, tapi kecantikannya membuat saya terpesona,” ungkap Bibit Waluyo dalam buku Love Story terbitan Koran SINDO (2009), dikutip Sabtu (22/11/2025).
Bibit, yang kala itu masih menjadi Taruna AKABRI Darat (sekarang jadi Akademi Militer atau Akmil) di Magelang, berusaha mendekati Sri Suharti. Namun, mendekati gadis ini tidaklah mudah karena latar belakang keluarga Sri yang disiplin sebagai anak tentara.
Baca juga: Kisah Cinta Jenderal Kopassus AM Hendropriyono, Pinjamkan Topi untuk Taklukkan Hati Tati Mulya
Setiap pria yang mendekati harus melewati seleksi ketat. Beruntung, dengan bantuan saudara dari ayah Sri, Bibit akhirnya bisa berkenalan dengan gadis pujaannya.
”Ketika bertemu langsung, semakin kuat rasanya. Saya melihat Sri semakin cantik, dan mungkin dia juga merasa saya cukup menarik. Dari situlah hubungan kami mulai berkembang,” tutur Bibit yang saat itu menjabat sebagai Komandan Peleton Tempur Kodam II Bukit Barisan.
Hubungan mereka tidak dimulai dengan ungkapan cinta yang langsung, melainkan mengalir secara alami. Kedekatan mereka semakin kuat tanpa harus diucapkan secara formal.
Selain wajah yang ayu, Bibit juga kagum pada sikap sederhana dan tidak manja dari Sri, meskipun ia anak tunggal. Kelebihan lainnya, Sri rajin memasak dan selalu mengirimkan makanan kepada Bibit, yang sangat menyukai hidangan sederhana seperti tempe dan tahu.
Masa pacaran mereka penuh dengan kesederhanaan. Bibit rajin apel setiap malam minggu tanpa mengajak teman-temannya dari Akmil, dengan alasan tidak ingin ada saingan.
Gaya pacaran mereka juga tidak berlebihan, lebih sering menghabiskan waktu di rumah, bercengkerama dengan keluarga, atau menikmati makanan sederhana seperti bakso dan ketupat tahu ketika memiliki uang lebih.
Namun, kebersamaan mereka harus diuji ketika Bibit lulus dari AKABRI Darat pada 1972 dan ditugaskan di Medan, Sumatera Utara. Hubungan jarak jauh (LDR) menjadi tantangan, namun mereka tetap berkomitmen dengan saling berkirim surat seminggu sekali.
“Kami menjaga komitmen. Di Medan, saya tidak pernah pacaran dengan orang lain. Kami hanya terhubung melalui surat,” kenang Bibit.
Tiga tahun menjalani hubungan jarak jauh, Bibit memberanikan diri melamar Sri ketika ia lulus SMA pada usia 19 tahun. Mereka akhirnya menikah pada Juni 1975 dalam suasana yang sangat sederhana, dengan maskawin berupa Al-Quran.
Setelah menikah, kehidupan sederhana menjadi bagian dari awal perjalanan mereka, seiring dengan karier Bibit yang perlahan menanjak di dunia militer.
Bibit sempat menjabat di berbagai posisi strategis, mulai dari Danyonif 407/Padma Kusuma, Dandim 0703/Cilacap, Danrem 043/Garuda Hitam, hingga akhirnya menjadi Pangkostrad.
Setelah pensiun dari militer, Bibit terjun ke dunia politik. Pada Pilgub Jawa Tengah 2008, ia terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah bersama Rustriningsih. Namun, karier politiknya tidak berlanjut setelah ia kalah dari Ganjar Pranowo pada Pilgub Jateng 2013.
Kini, Bibit menikmati masa pensiunnya dengan berbagai kegiatan sosial, sambil tetap menjaga kenangan indah dari cinta pertamanya.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto memberikan kenaikan pangkat istimewa atau kehormatan kepada 11 purnawirawan TNI di atas Kapal Markas KRI dr Radjiman Wedyodiningrat-992 pada Kamis (2/10/2025). Lima di antaranya mendapatkan kenaikan pangkat Jenderal Kehormatan (HOR).
Salah satu dari lima nama tersebut adalah Bibit Waluyo. Selama di militer, dia pernah dipercaya mengemban beberapa jabatan setelah lulus dari AKABRI Darat Magelang tahun 1972, antara lain Dantonpur Kodam II/Bukit Barisan (1973), Danyonif 407/Padma Kusuma (1986–1988). Kemudian, Dandim 0703/Cilacap (1992–1993), Danrem 043/Garuda Hitam (1996–1997), Kasdam IV/Diponegoro[6] (1997–1999), Pangdam IV/Diponegoro (1999–2000), Komandan Seskoad (2000–2001), Panglima Kodam Jaya (2001–2002), dan Panglima Kostrad (2002–2004).

Foto pernikahan Bibit Waluyo dan Sri Suharti. Repro/Love Story (Kisah Cinta Tokoh-Tokoh Terkemuka).
Siapa sangka dalam perjalanan cintanya, Bibit Waluyo pernah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA bernama Sri Suharti.
Baca juga: Kisah Cinta Jenderal Sudirman dengan Siti Alfiah, Gambaran Tentang Cinta yang Tak Memandang Harta
Sejak saat itu, perasaan kagum dan cinta tumbuh dalam hatinya sejak pandangan pertama, yang kemudian membawanya pada perjalanan cinta yang mengesankan.
“Saat pertama kali melihat Sri, saya merasa ada perasaan yang berbeda. Dia masih SMA saat itu, tapi kecantikannya membuat saya terpesona,” ungkap Bibit Waluyo dalam buku Love Story terbitan Koran SINDO (2009), dikutip Sabtu (22/11/2025).
Bibit, yang kala itu masih menjadi Taruna AKABRI Darat (sekarang jadi Akademi Militer atau Akmil) di Magelang, berusaha mendekati Sri Suharti. Namun, mendekati gadis ini tidaklah mudah karena latar belakang keluarga Sri yang disiplin sebagai anak tentara.
Baca juga: Kisah Cinta Jenderal Kopassus AM Hendropriyono, Pinjamkan Topi untuk Taklukkan Hati Tati Mulya
Setiap pria yang mendekati harus melewati seleksi ketat. Beruntung, dengan bantuan saudara dari ayah Sri, Bibit akhirnya bisa berkenalan dengan gadis pujaannya.
”Ketika bertemu langsung, semakin kuat rasanya. Saya melihat Sri semakin cantik, dan mungkin dia juga merasa saya cukup menarik. Dari situlah hubungan kami mulai berkembang,” tutur Bibit yang saat itu menjabat sebagai Komandan Peleton Tempur Kodam II Bukit Barisan.
Hubungan mereka tidak dimulai dengan ungkapan cinta yang langsung, melainkan mengalir secara alami. Kedekatan mereka semakin kuat tanpa harus diucapkan secara formal.
Selain wajah yang ayu, Bibit juga kagum pada sikap sederhana dan tidak manja dari Sri, meskipun ia anak tunggal. Kelebihan lainnya, Sri rajin memasak dan selalu mengirimkan makanan kepada Bibit, yang sangat menyukai hidangan sederhana seperti tempe dan tahu.
Masa pacaran mereka penuh dengan kesederhanaan. Bibit rajin apel setiap malam minggu tanpa mengajak teman-temannya dari Akmil, dengan alasan tidak ingin ada saingan.
Gaya pacaran mereka juga tidak berlebihan, lebih sering menghabiskan waktu di rumah, bercengkerama dengan keluarga, atau menikmati makanan sederhana seperti bakso dan ketupat tahu ketika memiliki uang lebih.
Namun, kebersamaan mereka harus diuji ketika Bibit lulus dari AKABRI Darat pada 1972 dan ditugaskan di Medan, Sumatera Utara. Hubungan jarak jauh (LDR) menjadi tantangan, namun mereka tetap berkomitmen dengan saling berkirim surat seminggu sekali.
“Kami menjaga komitmen. Di Medan, saya tidak pernah pacaran dengan orang lain. Kami hanya terhubung melalui surat,” kenang Bibit.
Tiga tahun menjalani hubungan jarak jauh, Bibit memberanikan diri melamar Sri ketika ia lulus SMA pada usia 19 tahun. Mereka akhirnya menikah pada Juni 1975 dalam suasana yang sangat sederhana, dengan maskawin berupa Al-Quran.
Setelah menikah, kehidupan sederhana menjadi bagian dari awal perjalanan mereka, seiring dengan karier Bibit yang perlahan menanjak di dunia militer.
Bibit sempat menjabat di berbagai posisi strategis, mulai dari Danyonif 407/Padma Kusuma, Dandim 0703/Cilacap, Danrem 043/Garuda Hitam, hingga akhirnya menjadi Pangkostrad.
Setelah pensiun dari militer, Bibit terjun ke dunia politik. Pada Pilgub Jawa Tengah 2008, ia terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah bersama Rustriningsih. Namun, karier politiknya tidak berlanjut setelah ia kalah dari Ganjar Pranowo pada Pilgub Jateng 2013.
Kini, Bibit menikmati masa pensiunnya dengan berbagai kegiatan sosial, sambil tetap menjaga kenangan indah dari cinta pertamanya.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto memberikan kenaikan pangkat istimewa atau kehormatan kepada 11 purnawirawan TNI di atas Kapal Markas KRI dr Radjiman Wedyodiningrat-992 pada Kamis (2/10/2025). Lima di antaranya mendapatkan kenaikan pangkat Jenderal Kehormatan (HOR).
Salah satu dari lima nama tersebut adalah Bibit Waluyo. Selama di militer, dia pernah dipercaya mengemban beberapa jabatan setelah lulus dari AKABRI Darat Magelang tahun 1972, antara lain Dantonpur Kodam II/Bukit Barisan (1973), Danyonif 407/Padma Kusuma (1986–1988). Kemudian, Dandim 0703/Cilacap (1992–1993), Danrem 043/Garuda Hitam (1996–1997), Kasdam IV/Diponegoro[6] (1997–1999), Pangdam IV/Diponegoro (1999–2000), Komandan Seskoad (2000–2001), Panglima Kodam Jaya (2001–2002), dan Panglima Kostrad (2002–2004).
(shf)
Lihat Juga :