Kepala BSKDN Ajak Kaimana Tiru Inovasi Mojokerto dan Blora
Selasa, 18 November 2025 - 19:32 WIB
loading...
A
A
A
“Gempa Genting itu sudah lima tahun berjalan, tetapi selalu ada pembaruan fitur, perluasan manfaat, dan penyempurnaan. Inovasi seperti itu tidak pernah mati karena ia terus mengikuti perkembangan masalah,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Baca juga: Gelar IGA 2025, BSKDN Nilai Balangan Daerah dengan Inovasi Kuat dan Terarah
Yusharto juga menegaskan, daerah tidak boleh ragu untuk berinovasi. Menurut Yusharto, inovasi merupakan proses yang berlangsung dalam suatu ekosistem, sehingga keberlanjutannya sangat dipengaruhi oleh kemauan daerah memperbarui dan mengembangkan gagasan yang sudah ada.
“Jangan ragu untuk berinovasi. Inovasi itu ada, dan tidak pernah mati. Atau kalau kata masyarakat Kaimana, ‘terada mati,” tegasnya.
Selain Mojokerto, Yusharto turut menampilkan contoh inovasi berkelanjutan dari Kabupaten Blora, yakni inovasi “Sejuta Kotak Umat” yang berfokus pada pengelolaan limbah ternak.
Dia menceritakan bagaimana Bupati Blora merespons persoalan bau menyengat akibat tingginya populasi ternak, lalu melahirkan inovasi sederhana namun berdampak besar berupa kotak komunal berukuran 2x3 meter untuk fermentasi kotoran sapi menjadi pupuk organik. Inovasi ini terbukti mampu menurunkan ketergantungan pupuk kimia hingga 30% dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.
Baca juga: Gelar IGA 2025, BSKDN Nilai Balangan Daerah dengan Inovasi Kuat dan Terarah
Yusharto juga menegaskan, daerah tidak boleh ragu untuk berinovasi. Menurut Yusharto, inovasi merupakan proses yang berlangsung dalam suatu ekosistem, sehingga keberlanjutannya sangat dipengaruhi oleh kemauan daerah memperbarui dan mengembangkan gagasan yang sudah ada.
“Jangan ragu untuk berinovasi. Inovasi itu ada, dan tidak pernah mati. Atau kalau kata masyarakat Kaimana, ‘terada mati,” tegasnya.
Selain Mojokerto, Yusharto turut menampilkan contoh inovasi berkelanjutan dari Kabupaten Blora, yakni inovasi “Sejuta Kotak Umat” yang berfokus pada pengelolaan limbah ternak.
Dia menceritakan bagaimana Bupati Blora merespons persoalan bau menyengat akibat tingginya populasi ternak, lalu melahirkan inovasi sederhana namun berdampak besar berupa kotak komunal berukuran 2x3 meter untuk fermentasi kotoran sapi menjadi pupuk organik. Inovasi ini terbukti mampu menurunkan ketergantungan pupuk kimia hingga 30% dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.
Lihat Juga :