Awas Longsor Susulan! Dwikorita: Terdeteksi Retakan Tapal Kuda di Atas Lokasi Longsor
Sabtu, 15 November 2025 - 13:46 WIB
loading...
Pencarian korban longsor di Cilacap, Jawa Tengah. Foto/Tangkapan layar YouTube SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM Prof. Dwikorita Karnawati melaporkan bahwa pada bagian atas tebing yang sebelumnya sudah longsor kini terdeteksi retakan tanah berbentuk Tapal Kuda. Pola retakan ini tampak jelas mengarah ke jalur longsoran yang sudah terjadi, menandakan gejala awal pergerakan tanah menuju longsor susulan.
“Retakan Tapal Kuda adalah batas antara lereng yang masih stabil dan bagian yang mulai bergeser. Bila hujan turun dan air meresap ke dalam retakan tersebut, pergerakan tanah bisa makin cepat dan memicu longsor susulan,” tegas Dwikorita di Cilacap, Sabtu (15/11/2025)
Dwikorita menekankan bahwa kondisi ini sangat berbahaya, terutama karena saat ini masih berlangsung proses evakuasi dan pencarian korban yang tertimbun di area bawah tebing. Kestabilan lereng dapat berubah dalam hitungan menit ketika hujan mulai turun.
Baca juga: Update Longsor Cilacap, 2 Korban Ditemukan, 18 Orang Masih Hilang
Dwikorita meminta seluruh petugas, relawan, dan masyarakat untuk segera meningkatkan kewaspadaan. Ia menegaskan bahwa area longsor harus segera dijauhi begitu hujan mulai turun, bahkan jika hanya berupa hujan rintik, karena air yang masuk ke celah retakan dapat mempercepat pergerakan tanah.
Seluruh aktivitas di bawah lereng yang sudah menunjukkan retakan Tapal Kuda diminta untuk dihentikan demi mencegah risiko tertimpa longsor susulan. Selain itu, kata dia, warga diminta menjaga jarak aman dengan mengambil posisi berada di area datar setidaknya dua kali tinggi tebing dari titik retakan, agar tetap berada di luar zona kemungkinan luncuran massa tanah.
Baca juga: Teuku Faisal Fathani Dilantik Jadi Kepala BMKG Gantikan Dwikorita Karnawati
"Situasi ini kritis. Air hujan adalah pemicu utama longsor susulan. Bila retakan Tapal Kuda sudah muncul, artinya lereng sedang dalam kondisi tidak stabil dan bisa bergerak sewaktu-waktu,” ujarnya.
Dwikorita mengingatkan bahwa pemantauan visual terhadap retakan dan kondisi lereng harus dilakukan secara terus-menerus selama proses evakuasi berlangsung untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.
“Retakan Tapal Kuda adalah batas antara lereng yang masih stabil dan bagian yang mulai bergeser. Bila hujan turun dan air meresap ke dalam retakan tersebut, pergerakan tanah bisa makin cepat dan memicu longsor susulan,” tegas Dwikorita di Cilacap, Sabtu (15/11/2025)
Dwikorita menekankan bahwa kondisi ini sangat berbahaya, terutama karena saat ini masih berlangsung proses evakuasi dan pencarian korban yang tertimbun di area bawah tebing. Kestabilan lereng dapat berubah dalam hitungan menit ketika hujan mulai turun.
Baca juga: Update Longsor Cilacap, 2 Korban Ditemukan, 18 Orang Masih Hilang
Dwikorita meminta seluruh petugas, relawan, dan masyarakat untuk segera meningkatkan kewaspadaan. Ia menegaskan bahwa area longsor harus segera dijauhi begitu hujan mulai turun, bahkan jika hanya berupa hujan rintik, karena air yang masuk ke celah retakan dapat mempercepat pergerakan tanah.
Seluruh aktivitas di bawah lereng yang sudah menunjukkan retakan Tapal Kuda diminta untuk dihentikan demi mencegah risiko tertimpa longsor susulan. Selain itu, kata dia, warga diminta menjaga jarak aman dengan mengambil posisi berada di area datar setidaknya dua kali tinggi tebing dari titik retakan, agar tetap berada di luar zona kemungkinan luncuran massa tanah.
Baca juga: Teuku Faisal Fathani Dilantik Jadi Kepala BMKG Gantikan Dwikorita Karnawati
"Situasi ini kritis. Air hujan adalah pemicu utama longsor susulan. Bila retakan Tapal Kuda sudah muncul, artinya lereng sedang dalam kondisi tidak stabil dan bisa bergerak sewaktu-waktu,” ujarnya.
Dwikorita mengingatkan bahwa pemantauan visual terhadap retakan dan kondisi lereng harus dilakukan secara terus-menerus selama proses evakuasi berlangsung untuk mencegah jatuhnya korban tambahan.
(rca)
Lihat Juga :