Kisah Jenderal Kopassus Moeng Parhadimulyo, Spartan Perintis Seragam Loreng Darah Mengalir Khas Baret Merah
Jum'at, 07 November 2025 - 07:32 WIB
loading...
A
A
A
"Aslinya pakaiaan loreng itu buatan Amerika yang diproduksi pada masa Perang Dunia I dalam jumlah besar untuk US Marines," tulis buku 'Kopassus untuk Indonesia: Profesionalisme Prajurit Kopassus' karya Iwan Santosa dan EA Natanegara dikutip Jumat (7/11/2025).
Baca juga: Kisah Mualaf Jenderal Kopassus Lodewijk Freidrich Paulus, Sempat Ditentang Keluarga dan Disebut Bakal Masuk Neraka
Selanjutnua ketika berakhirnya perang dunia II, pakaian seragam itu diberikan sebagai bantuan kepada tentara Kerajaan Belanda, yang akhirnya diserahkan juga kepada angkatan perang Indonesia sesuai perjanjian Konferensi Meja Bundar. Pakaian inilah yang lantas digunakan sebagai seragam khusus prajurit satuan komando (Kopassus).
Loreng Macan Tutul ini dikenal sebagai ciri khas prajurit Baret Merah, terutama di Jawa Barat karena dikenakan dalam berbagai operasi tempur, termasuk menumpas gerombolan DI/TII. Namun beberapa tahun kemudian muncul persoalan, yakni menipisnya stok.
Seiring semakin berkurangnya persediaan seragam loreng macan tutul, sementara di negara aslinya (AS) tidak diproduksi lagi, muncul gagasan untuk membuat sendiri pakaian seragam khusus bagi prajurit Baret Merah.
Komandan RPKAD (1958-1964) Kolonel Inf Moeng Parhadimulyo menyetujui penggunaan seragam dengan corak baru yang lantas disebut dengan motif 'loreng darah mengalir'. Seragam ini dikenalkan resmi pada HUT ABRI, 5 Oktober 1964.
Diketahui Moeng merupakan salah satu prajurit legendaris Pasukan Baret Merah. Selain kenyang pengalaman di medan tempur, serdadu kelahiran Yogyakarta ini ternyata sosok yang sangat luar biasa sederhana dan lurus hidupnya.
Keteladanan Jenderal Moeng dikisahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Moeng, kata dia, tidak memiliki pembantu rumah tangga sehingga pukul 04.30 dia telah bangun untuk menyapu dan mengepel rumah sebelum berangkat ke kantor.
Baca juga: Kisah Mualaf Jenderal Kopassus Lodewijk Freidrich Paulus, Sempat Ditentang Keluarga dan Disebut Bakal Masuk Neraka
Selanjutnua ketika berakhirnya perang dunia II, pakaian seragam itu diberikan sebagai bantuan kepada tentara Kerajaan Belanda, yang akhirnya diserahkan juga kepada angkatan perang Indonesia sesuai perjanjian Konferensi Meja Bundar. Pakaian inilah yang lantas digunakan sebagai seragam khusus prajurit satuan komando (Kopassus).
Loreng Macan Tutul ini dikenal sebagai ciri khas prajurit Baret Merah, terutama di Jawa Barat karena dikenakan dalam berbagai operasi tempur, termasuk menumpas gerombolan DI/TII. Namun beberapa tahun kemudian muncul persoalan, yakni menipisnya stok.
Seiring semakin berkurangnya persediaan seragam loreng macan tutul, sementara di negara aslinya (AS) tidak diproduksi lagi, muncul gagasan untuk membuat sendiri pakaian seragam khusus bagi prajurit Baret Merah.
Komandan RPKAD (1958-1964) Kolonel Inf Moeng Parhadimulyo menyetujui penggunaan seragam dengan corak baru yang lantas disebut dengan motif 'loreng darah mengalir'. Seragam ini dikenalkan resmi pada HUT ABRI, 5 Oktober 1964.
Moeng Parhadimulyo Jenderal Spartan
Diketahui Moeng merupakan salah satu prajurit legendaris Pasukan Baret Merah. Selain kenyang pengalaman di medan tempur, serdadu kelahiran Yogyakarta ini ternyata sosok yang sangat luar biasa sederhana dan lurus hidupnya.
Keteladanan Jenderal Moeng dikisahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Moeng, kata dia, tidak memiliki pembantu rumah tangga sehingga pukul 04.30 dia telah bangun untuk menyapu dan mengepel rumah sebelum berangkat ke kantor.
Lihat Juga :