BNPT Dorong Siswa Banyumas Jadi Duta Toleransi Digital
Sabtu, 01 November 2025 - 22:54 WIB
loading...
A
A
A
Peran Sekolah dalam Menjaga Toleransi dan Kebhinnekaan
Irfan menegaskan, sekolah memiliki peran yang sangat vital dalam memperkokoh semangat kebangsaan, terutama dalam membangun toleransi di kalangan pelajar. "Toleransi tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Mulailah dari hal sederhana, seperti menghargai teman yang berbeda keyakinan atau menghentikan perundungan karena perbedaan," katanya.
Menurutnya, dengan adanya keterbukaan informasi dan media sosial, tantangan kebangsaan semakin kompleks, dengan mudahnya narasi kebencian menyebar dan mengancam persatuan bangsa. Oleh karena itu, Prof. Irfan mengajak sekolah-sekolah di Indonesia untuk menjadi zona nol bagi intoleransi, radikalisme, dan kekerasan.
"Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan kondusif untuk semua. Harus ada komitmen bersama untuk menjaga sekolah sebagai benteng kebhinnekaan dan moderasi beragama," tegasnya.
Selain mengingatkan peran siswa, Irfan juga menyoroti pentingnya pembekalan bagi tenaga pendidik. "Jika guru terpapar paham radikal, dampaknya bisa sangat berbahaya. Oleh karena itu, penguatan wawasan kebangsaan bagi pendidik harus menjadi prioritas," tambahnya. Pembekalan kepada para guru sangat penting untuk menghindari adanya radikalisasi di kalangan tenaga pendidik yang nantinya bisa mempengaruhi para siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Yanuar Arif Wibowo, Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKS menyoroti pentingnya dialog antara guru dan siswa untuk memperkuat ketahanan mental dan moral generasi muda terhadap berbagai pengaruh negatif. Menurutnya, banyak kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah melibatkan pelajar sebagai pelaku.
Irfan menegaskan, sekolah memiliki peran yang sangat vital dalam memperkokoh semangat kebangsaan, terutama dalam membangun toleransi di kalangan pelajar. "Toleransi tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Mulailah dari hal sederhana, seperti menghargai teman yang berbeda keyakinan atau menghentikan perundungan karena perbedaan," katanya.
Menurutnya, dengan adanya keterbukaan informasi dan media sosial, tantangan kebangsaan semakin kompleks, dengan mudahnya narasi kebencian menyebar dan mengancam persatuan bangsa. Oleh karena itu, Prof. Irfan mengajak sekolah-sekolah di Indonesia untuk menjadi zona nol bagi intoleransi, radikalisme, dan kekerasan.
"Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan kondusif untuk semua. Harus ada komitmen bersama untuk menjaga sekolah sebagai benteng kebhinnekaan dan moderasi beragama," tegasnya.
Selain mengingatkan peran siswa, Irfan juga menyoroti pentingnya pembekalan bagi tenaga pendidik. "Jika guru terpapar paham radikal, dampaknya bisa sangat berbahaya. Oleh karena itu, penguatan wawasan kebangsaan bagi pendidik harus menjadi prioritas," tambahnya. Pembekalan kepada para guru sangat penting untuk menghindari adanya radikalisasi di kalangan tenaga pendidik yang nantinya bisa mempengaruhi para siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Yanuar Arif Wibowo, Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKS menyoroti pentingnya dialog antara guru dan siswa untuk memperkuat ketahanan mental dan moral generasi muda terhadap berbagai pengaruh negatif. Menurutnya, banyak kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah melibatkan pelajar sebagai pelaku.
Lihat Juga :