Kisah Raja Tribhuwana Tunggadewi Mempercayakan Perempuan Memimpin di Majapahit
Senin, 27 Oktober 2025 - 05:43 WIB
loading...
Tribhuwana Tunggadewi merupakan raja perempuan pertama di di Kerajaan Majapahit. Saat naik tahta, dia menjadikan perempuan memiliki peran penting. Penampakan Tribhuwana Tunggadewi versi AI. Foto/@ainusantara
A
A
A
JAKARTA - TRIBHUWANA Tunggadewi merupakan raja perempuan pertama di di Kerajaan Majapahit. Saat naik tahta, dia menjadikan perempuan memiliki peran penting. Sejumlah daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit mulai dipercayakan kepada para pemimpin perempuan yang di masyarakat Jawa kala itu masih dianggap tabu.
Prasasti Waringin Pitu menuturkan mengenai sosok perempuan penguasa daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Total 14 kerajaan di daerah sembilan di daerah dipimpin oleh perempuan. Para perempuan itu memimpin beberapa daerah kekuasaan Majapahit seperti Daha, Jagaraga, hingga Keling.
Baca juga: Kisah Tribhuwana Tunggadewi, Perempuan Pertama Jadi Raja Majapahit Paling Terkenal
Di wilayah Daha misalnya Jayawarddhani Jayeswari menjadi penguasanya, Dyah Wijayaduhita Wijayendudewi yang menguasai Jagaraga, Dyah Wijayakumara Rajasawarddhana menguasai Kahuripan, Dyah Suragharini Manggalawarddhani menguasai daerah Tanjungpura. Hal itu sebagaimana dikutip dari "Sandyakala di Timur Jawa (1042 - 1527 M): Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Hindu dari Mataram Kuno II hingga Majapahit".
Kemudian ada Dyah Sureswari yang menguasai daerah Pajang, Dyah Sudharmmini Rajanandaneswari yang menguasai Kembang Jenar, Dyah Suryyawikrama Girisawarddhana yang menguasai daerah Wengker.
Selanjutnya daerah Kabalan yang dikuasai oleh Dyah Sawitri Mahamisi, Singhapura yang dikuasai oleh Dyah Sripura Rajasawarddhanadewi, Dyah Suraprabhawa Singhaaikramawarddhanadewi yang menguasai Tumapel.
Baca juga: Kisah Tribhuwana Tunggadewi Jadi Raja Majapahit usai Gayatri Tak Mau Naik Tahta
Berikutnya Dyah Samarawijaya Wijayaparakrama yang menguasai Metahun, Dyah Pureswari Rajasawarddhanendudewi yang menjadi penguasa Wirabhumi, Dyah Wijayakrama Girindrawardhana yang kuasai Keling, dan Dyah Suyadita Kamalawarnnadewi yang menguasai daerah Kalinggapura.
Penguasa daerah itu merupakan kerabat dekat Tribhuwana Tunggadewi, serta banyak juga yang masih berhubungan sebagai saudara sepupu. Di antara mereka ada juga yang terikat perkawinan.
Sementara khusus kerajaan daerah Lasem, wilayah ini didominasi oleh penguasa perempuan. Daerah ini melingkupi bagian utara Kerajaan Majapahit dan sebelah barat negara daerah Matahun, yaitu daerah Lasem sekarang.
Menurut Kakawin Negarakertagama dan Pararaton semua penguasa Lasem adalah perempuan. Sri Rajasadhitedudewi sebagai Bhre Lasem I, adik perempuan Hayam Wuruk. Sementara Kusumawarddhani sebagai Bhre Lasem II yang dalam Pararaton disebut Bhre Lasem sang alemu atau Bhre Lasem yang gemuk.
Selanjutnya yang disebut sebagai Bhre Lasem adalah putri Bhre Wirabhumi, sedangkan Bhre Lasem terakhir adalah putri Bhre Pandan Salas yang diperistri oleh Bhre Tumapel. Di dalam perundang-undangan Majapahit memang tak disinggung soal perempuan berstatus inferior hingga tak boleh memegang jabatan tinggi.
Prasasti Waringin Pitu menuturkan mengenai sosok perempuan penguasa daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Total 14 kerajaan di daerah sembilan di daerah dipimpin oleh perempuan. Para perempuan itu memimpin beberapa daerah kekuasaan Majapahit seperti Daha, Jagaraga, hingga Keling.
Baca juga: Kisah Tribhuwana Tunggadewi, Perempuan Pertama Jadi Raja Majapahit Paling Terkenal
Di wilayah Daha misalnya Jayawarddhani Jayeswari menjadi penguasanya, Dyah Wijayaduhita Wijayendudewi yang menguasai Jagaraga, Dyah Wijayakumara Rajasawarddhana menguasai Kahuripan, Dyah Suragharini Manggalawarddhani menguasai daerah Tanjungpura. Hal itu sebagaimana dikutip dari "Sandyakala di Timur Jawa (1042 - 1527 M): Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan Hindu dari Mataram Kuno II hingga Majapahit".
Kemudian ada Dyah Sureswari yang menguasai daerah Pajang, Dyah Sudharmmini Rajanandaneswari yang menguasai Kembang Jenar, Dyah Suryyawikrama Girisawarddhana yang menguasai daerah Wengker.
Selanjutnya daerah Kabalan yang dikuasai oleh Dyah Sawitri Mahamisi, Singhapura yang dikuasai oleh Dyah Sripura Rajasawarddhanadewi, Dyah Suraprabhawa Singhaaikramawarddhanadewi yang menguasai Tumapel.
Baca juga: Kisah Tribhuwana Tunggadewi Jadi Raja Majapahit usai Gayatri Tak Mau Naik Tahta
Berikutnya Dyah Samarawijaya Wijayaparakrama yang menguasai Metahun, Dyah Pureswari Rajasawarddhanendudewi yang menjadi penguasa Wirabhumi, Dyah Wijayakrama Girindrawardhana yang kuasai Keling, dan Dyah Suyadita Kamalawarnnadewi yang menguasai daerah Kalinggapura.
Penguasa daerah itu merupakan kerabat dekat Tribhuwana Tunggadewi, serta banyak juga yang masih berhubungan sebagai saudara sepupu. Di antara mereka ada juga yang terikat perkawinan.
Sementara khusus kerajaan daerah Lasem, wilayah ini didominasi oleh penguasa perempuan. Daerah ini melingkupi bagian utara Kerajaan Majapahit dan sebelah barat negara daerah Matahun, yaitu daerah Lasem sekarang.
Menurut Kakawin Negarakertagama dan Pararaton semua penguasa Lasem adalah perempuan. Sri Rajasadhitedudewi sebagai Bhre Lasem I, adik perempuan Hayam Wuruk. Sementara Kusumawarddhani sebagai Bhre Lasem II yang dalam Pararaton disebut Bhre Lasem sang alemu atau Bhre Lasem yang gemuk.
Selanjutnya yang disebut sebagai Bhre Lasem adalah putri Bhre Wirabhumi, sedangkan Bhre Lasem terakhir adalah putri Bhre Pandan Salas yang diperistri oleh Bhre Tumapel. Di dalam perundang-undangan Majapahit memang tak disinggung soal perempuan berstatus inferior hingga tak boleh memegang jabatan tinggi.
(shf)
Lihat Juga :