Satu Tahun Prabowo-Gibran, Tokoh Muda Papua Apresiasi Program MBG
Rabu, 22 Oktober 2025 - 15:37 WIB
loading...
A
A
A
"MBG di Jakarta berbeda dengan di Papua. Di Papua makanan yang disajikan aman bahkan benar-benat bergizi. Justru itulah sebaiknya MBG harus lebih diperbanyak agar sekolah-sekolah yang menerimanya juga semakin banyak disana,” ujar akademisi di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta.
Baca juga: BGN Tutup 106 Dapur MBG Imbas Keracunan Massal
Meski ada kekhawatiran perubahan pola makan dari ubi yang beralih ke nasi akan memengaruhi kekuatan fisik, namun ternyata hal itu dapat ditepis. Apalagi ternyata bahan pangan lokal lebih diprioritaskan dalam penyajiannya. Hermant berharap Program MBG ini dapat lebih ditingkatkan, tentunya dengan diiringi pengawasan yang baik dan upaya meminimalisir terjadinya praktek korupsi.
Ke depan, program MBG diharapkan dapat menjadi pintu masuk, tidak sekadar pemenuhan makanan yang bernutrisi tapi juga menjadi keberlanjutan pangan lokal.
"Saya SD,SMP, sampai SMA di Papua, pernah tinggal di Timika dan Jayapura. Percaya atau tidak, kadang-kadang anak Papua berangkat sekolah tanpa makan dulu. Ketika saya di Jakarta, saya lihat sangat berbeda. Anak-anak biasanya diwajibkan untuk sarapan di rumah. Di Papua kita tidak pernah sarapan. Kalaupun sarapan, paling ubi satu buah lalu berangkat kesekolah,” tuturnya.
Selain MBG, Hermant juga menyinggung perihal pendekatan pembangunan di Tanah Papua. Ada dua hal utama yang harus dilakukan dalam membangun Papua, khususnya dalam melaksanakan program Asta Cita yaitu dengan melakukan pendekatan kepada para tokoh masyarakat seperti tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan dengan turun langsung ke lapangan.
Baca juga: BGN Tutup 106 Dapur MBG Imbas Keracunan Massal
Meski ada kekhawatiran perubahan pola makan dari ubi yang beralih ke nasi akan memengaruhi kekuatan fisik, namun ternyata hal itu dapat ditepis. Apalagi ternyata bahan pangan lokal lebih diprioritaskan dalam penyajiannya. Hermant berharap Program MBG ini dapat lebih ditingkatkan, tentunya dengan diiringi pengawasan yang baik dan upaya meminimalisir terjadinya praktek korupsi.
Ke depan, program MBG diharapkan dapat menjadi pintu masuk, tidak sekadar pemenuhan makanan yang bernutrisi tapi juga menjadi keberlanjutan pangan lokal.
"Saya SD,SMP, sampai SMA di Papua, pernah tinggal di Timika dan Jayapura. Percaya atau tidak, kadang-kadang anak Papua berangkat sekolah tanpa makan dulu. Ketika saya di Jakarta, saya lihat sangat berbeda. Anak-anak biasanya diwajibkan untuk sarapan di rumah. Di Papua kita tidak pernah sarapan. Kalaupun sarapan, paling ubi satu buah lalu berangkat kesekolah,” tuturnya.
Selain MBG, Hermant juga menyinggung perihal pendekatan pembangunan di Tanah Papua. Ada dua hal utama yang harus dilakukan dalam membangun Papua, khususnya dalam melaksanakan program Asta Cita yaitu dengan melakukan pendekatan kepada para tokoh masyarakat seperti tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan dengan turun langsung ke lapangan.
Lihat Juga :