Ancaman Rob dan Penurunan Tanah, LPBI NU Jakarta Dorong Kolaborasi Pentahelix
Kamis, 16 Oktober 2025 - 14:07 WIB
loading...
A
A
A
“Penanaman mangrove di kawasan pesisir dan penerapan zona bebas air tanah adalah dua strategi mitigasi yang bisa segera diterapkan untuk memperlambat penurunan tanah,” ucapnya.
Farizan Radhiya Yahya, akademisi Universitas Indonesia memandang kualitas dan pencemaran air tanah di Jakarta, terutama wilayah pesisir mengalami pencemaran signifikan akibat aktivitas industri dan pemanfaatan air tanah yang berlebihan. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat dan keberlanjutan sumber daya air.
“Berdasarkan indeks mutu air, pencemaran paling signifikan terjadi di Jakarta Barat dan wilayah pesisir. Kondisi ini memperburuk degradasi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” katanya.
Penanganan masalah air tanah memerlukan pendekatan berbasis data dan pemantauan rutin. Dia menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk memastikan pengelolaan air tanah yang berkelanjutan.
KH Bahauddin, perwakilan Baznas Bazis DKI Jakarta sekaligus Pengurus Tanfidz PWNU DKI Jakarta menyoroti dampak sosial dan kebutuhan edukasi terkait penurunan muka tanah dan banjir rob di Jakarta. Sebanyak 118 kelurahan di Jakarta Utara terdampak secara signifikan dan fenomena ini menimbulkan risiko bagi kehidupan masyarakat serta infrastruktur kota.
“Jakarta menghadapi ancaman penurunan muka tanah yang serius akibat ekstraksi air tanah berlebihan yang dapat mencapai 10 cm per tahun. Fenomena ini sudah berdampak pada 118 kelurahan di Jakarta Utara,” ujarnya.
“Baznas Bazis DKI Jakarta siap bekerja sama dengan LPBI untuk program sosialisasi dan edukasi agar masyarakat lebih memahami ancaman banjir rob dan langkah-langkah mitigasinya,” tambahnya.
Farizan Radhiya Yahya, akademisi Universitas Indonesia memandang kualitas dan pencemaran air tanah di Jakarta, terutama wilayah pesisir mengalami pencemaran signifikan akibat aktivitas industri dan pemanfaatan air tanah yang berlebihan. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat dan keberlanjutan sumber daya air.
“Berdasarkan indeks mutu air, pencemaran paling signifikan terjadi di Jakarta Barat dan wilayah pesisir. Kondisi ini memperburuk degradasi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” katanya.
Penanganan masalah air tanah memerlukan pendekatan berbasis data dan pemantauan rutin. Dia menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk memastikan pengelolaan air tanah yang berkelanjutan.
KH Bahauddin, perwakilan Baznas Bazis DKI Jakarta sekaligus Pengurus Tanfidz PWNU DKI Jakarta menyoroti dampak sosial dan kebutuhan edukasi terkait penurunan muka tanah dan banjir rob di Jakarta. Sebanyak 118 kelurahan di Jakarta Utara terdampak secara signifikan dan fenomena ini menimbulkan risiko bagi kehidupan masyarakat serta infrastruktur kota.
“Jakarta menghadapi ancaman penurunan muka tanah yang serius akibat ekstraksi air tanah berlebihan yang dapat mencapai 10 cm per tahun. Fenomena ini sudah berdampak pada 118 kelurahan di Jakarta Utara,” ujarnya.
“Baznas Bazis DKI Jakarta siap bekerja sama dengan LPBI untuk program sosialisasi dan edukasi agar masyarakat lebih memahami ancaman banjir rob dan langkah-langkah mitigasinya,” tambahnya.
Lihat Juga :