Pedagang Dukung Rencana Pemprov DKI Jakarta Revitalisasi Pasar Rawamangun
Rabu, 01 Oktober 2025 - 17:25 WIB
loading...
Ketua Koperasi Pedagang Pasar (KOPPAS) Rawamangun Kasih Mulyadi mengatakan kondisi pasar saat ini masih aman dan nyaman untuk aktivitas jual beli. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan merevitalisasi Pasar Rawamangun , Jakarta Timur. Hal itu dilakukan lantaran kondisi pasar yang dibangun pada 1990 tersebut kini sudah berusia 35 tahun.
Meski menyambut baik rencana tersebut, para pedagang menyuarakan kekhawatiran terkait beban biaya yang harus mereka tanggung.
Ketua Koperasi Pedagang Pasar (KOPPAS) Rawamangun Kasih Mulyadi mengatakan kondisi pasar saat ini masih aman dan nyaman untuk aktivitas jual beli. ”Alhamdulillah, kondisinya aman. Pengunjungnya sampai saat ini ramai, tidak ada kendala apa pun,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).
Kasih menepis anggapan pasar tersebut kumuh. Menurut dia, tim kebersihan setiap hari turun ke lapangan untuk membersihkan area pasar. "Kalau ada yang bau-bau, disiram, dikasih karbol. Jadi untuk kenyamanan pengunjung, ada instruksi dari kelola pasar bahwa pasarnya harus bersih, rapi, dan wangi,” ucapnya.
Baca juga: Bangunan Sudah 18 Tahun, Pasar Jaya Akan Revitalisasi Pasar Induk Kramat Jati
Kasih mengakui bangunan pasar yang sudah berusia 35 tahun wajar mengalami kerusakan. “Sudah ada pembicaraan dari PD Pasar Jaya bahwa pasar ini akan direnovasi atau dibangun ulang. Pedagang semuanya setuju, jadi kami nunggu dari pusat kapan realisasinya,” tuturnya.
Namun, di balik dukungan terhadap revitalisasi, para pedagang menghadapi masalah serius terkait pembayaran. Kasih mengungkapkan ada dua jenis pembayaran yang membebani, yakni semacam service charge pasar (CMS) dan Pembayaran Hak Pakai (PHP).
“PHP ini, pedagang lumayan terbebani karena yang ditagih itu sudah 12 tahun yang lalu. Jadi setiap kios dikalikan 12 tahun. Di situ pedagang agak berat,” paparnya.
Baca juga: Deretan Kombes Pol Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan dari Kapolri, Ini Namanya
Kasih menjelaskan hak pakai yang seharusnya habis pada 2011 tidak dilanjutkan pembayarannya per tahun oleh PD Pasar Jaya. Akibatnya, pedagang kini ditagih akumulasi 12 tahun dari 2011 hingga 2023.
“Seandainya pasar dibangun ke depannya, otomatis PHP dibayar dulu. Setelah itu, setelah pasar dibangun, dibayar lagi pembayaran kios yang baru. Untuk menembus itu, pedagang saat ini agak sulit,” ungkapnya.
Enok salah satu pedagang mengatakan, penjualan sekarang agak menurun, pembeli mulai mengurang biasanya yang paling ramai sabtu atau minggu sedangkan untuk hari biasa pembeli tidak banyak.
”Pembeli dalam berbelanja tidak seperti dulu, mungkin pasar sudah tua dan ekonomi masyarakat juga lemah, jadi mungkin itu penyebab pembelian masyarakat berkurang," ujar enok.
Enok berharap pengelola mengadakan kegiatan atau acara agar masyarakat dapat lebih banyak datang ke pasar.
Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) Andrian Lame Muhar mengatakan meski bangunan sudah memasuki tahap akhir dan strukturnya harus diperbaiki, kondisi pasar saat ini masih layak dan nyaman.
“Pasar Rawamangun ini masih layak untuk ditempati para pedagang. Pengunjung tidak usah khawatir dari segi kenyamanannya, semuanya masih oke,” ujarnya
Andrian berharap agar dalam proses revitalisasi, pedagang tidak dibebani biaya yang besar. “Jangan sampai memberatkan pedagang. Setiap direvitalisasi itu, pasti pedagang akan mengeluarkan kos atau biaya untuk mengambil alih kios kembali,” tuturnya.
Andrian mengusulkan agar koperasi pedagang pasar dilibatkan dalam proses revitalisasi, termasuk dalam hal kolaborasi pembangunan dan cicilan kepemilikan kios. "Koperasi memiliki anggota yang notabene ada tabungan mereka di dalamnya, yang bisa berkolaborasi baik dalam pembangunan, cicilan kepemilikan kios, maupun pengelolaan pasar,” ucapnya.
Dengan melibatkan koperasi, kata dia, diharapkan revitalisasi dapat berjalan tanpa memberatkan pedagang yang telah berdagang puluhan tahun di sana.
"Untuk pedagang kebutuhan pokok, aktivitas jual beli masih berjalan normal dan ramai. Namun pedagang tekstil dan pakaian mengalami penurunan omzet karena kalah bersaing dengan toko online," katanya.
Meski menyambut baik rencana tersebut, para pedagang menyuarakan kekhawatiran terkait beban biaya yang harus mereka tanggung.
Ketua Koperasi Pedagang Pasar (KOPPAS) Rawamangun Kasih Mulyadi mengatakan kondisi pasar saat ini masih aman dan nyaman untuk aktivitas jual beli. ”Alhamdulillah, kondisinya aman. Pengunjungnya sampai saat ini ramai, tidak ada kendala apa pun,” ujarnya, Rabu (1/10/2025).
Kasih menepis anggapan pasar tersebut kumuh. Menurut dia, tim kebersihan setiap hari turun ke lapangan untuk membersihkan area pasar. "Kalau ada yang bau-bau, disiram, dikasih karbol. Jadi untuk kenyamanan pengunjung, ada instruksi dari kelola pasar bahwa pasarnya harus bersih, rapi, dan wangi,” ucapnya.
Baca juga: Bangunan Sudah 18 Tahun, Pasar Jaya Akan Revitalisasi Pasar Induk Kramat Jati
Kasih mengakui bangunan pasar yang sudah berusia 35 tahun wajar mengalami kerusakan. “Sudah ada pembicaraan dari PD Pasar Jaya bahwa pasar ini akan direnovasi atau dibangun ulang. Pedagang semuanya setuju, jadi kami nunggu dari pusat kapan realisasinya,” tuturnya.
Namun, di balik dukungan terhadap revitalisasi, para pedagang menghadapi masalah serius terkait pembayaran. Kasih mengungkapkan ada dua jenis pembayaran yang membebani, yakni semacam service charge pasar (CMS) dan Pembayaran Hak Pakai (PHP).
“PHP ini, pedagang lumayan terbebani karena yang ditagih itu sudah 12 tahun yang lalu. Jadi setiap kios dikalikan 12 tahun. Di situ pedagang agak berat,” paparnya.
Baca juga: Deretan Kombes Pol Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan dari Kapolri, Ini Namanya
Kasih menjelaskan hak pakai yang seharusnya habis pada 2011 tidak dilanjutkan pembayarannya per tahun oleh PD Pasar Jaya. Akibatnya, pedagang kini ditagih akumulasi 12 tahun dari 2011 hingga 2023.
“Seandainya pasar dibangun ke depannya, otomatis PHP dibayar dulu. Setelah itu, setelah pasar dibangun, dibayar lagi pembayaran kios yang baru. Untuk menembus itu, pedagang saat ini agak sulit,” ungkapnya.
Enok salah satu pedagang mengatakan, penjualan sekarang agak menurun, pembeli mulai mengurang biasanya yang paling ramai sabtu atau minggu sedangkan untuk hari biasa pembeli tidak banyak.
”Pembeli dalam berbelanja tidak seperti dulu, mungkin pasar sudah tua dan ekonomi masyarakat juga lemah, jadi mungkin itu penyebab pembelian masyarakat berkurang," ujar enok.
Enok berharap pengelola mengadakan kegiatan atau acara agar masyarakat dapat lebih banyak datang ke pasar.
Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) Andrian Lame Muhar mengatakan meski bangunan sudah memasuki tahap akhir dan strukturnya harus diperbaiki, kondisi pasar saat ini masih layak dan nyaman.
“Pasar Rawamangun ini masih layak untuk ditempati para pedagang. Pengunjung tidak usah khawatir dari segi kenyamanannya, semuanya masih oke,” ujarnya
Andrian berharap agar dalam proses revitalisasi, pedagang tidak dibebani biaya yang besar. “Jangan sampai memberatkan pedagang. Setiap direvitalisasi itu, pasti pedagang akan mengeluarkan kos atau biaya untuk mengambil alih kios kembali,” tuturnya.
Andrian mengusulkan agar koperasi pedagang pasar dilibatkan dalam proses revitalisasi, termasuk dalam hal kolaborasi pembangunan dan cicilan kepemilikan kios. "Koperasi memiliki anggota yang notabene ada tabungan mereka di dalamnya, yang bisa berkolaborasi baik dalam pembangunan, cicilan kepemilikan kios, maupun pengelolaan pasar,” ucapnya.
Dengan melibatkan koperasi, kata dia, diharapkan revitalisasi dapat berjalan tanpa memberatkan pedagang yang telah berdagang puluhan tahun di sana.
"Untuk pedagang kebutuhan pokok, aktivitas jual beli masih berjalan normal dan ramai. Namun pedagang tekstil dan pakaian mengalami penurunan omzet karena kalah bersaing dengan toko online," katanya.
(cip)
Lihat Juga :