PKBM: Jendela Ilmu di Wilayah 3T PKBM di Perbatasan

Senin, 04 Mei 2020 - 06:48 WIB
loading...
PKBM: Jendela Ilmu di...
PKBM: Jendela Ilmu di Wilayah 3T PKBM di Perbatasan.
A A A
SANGGAU - Sore itu, langit Desember 2019 di atas Balai Karangan sedikit mendung, menandakan musim penghujan akan segera tiba. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah yang tersiram air berhembus di sela dinding kayu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mustika di Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. PKBM tersebut terletak 15 Kilometer dari Pos Lintas Batas Negara atau PLBN Entikong yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan telah berdiri sejak tahun 2009.

Baleng Tinus (54) selaku Kepala PKBM Mustika mengatakan, bahwa sejak berdirinya PKBM Mustika sampai dengan saat ini, PKBM telah meluluskan 600-an peserta didik di berbagai jenjang pendidikan kesetaraan Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMA). Rata-rata dari mereka merupakan anak-anak yang putus sekolah lalu menjadi buruh di kebun kelapa sawit. Hal ini menjadikan usia dari perserta didik di PKBM Mustika cukup variatif, mulai dari mereka berusia remaja sampai dengan dewasa.

“Sudah sepuluh tahun sejak PKBM ini berdiri, sudah 600-an siswa kami luluskan dari berbagai jenjang pendidikan kesetaraan. Kebanyakan dari mereka adalah buruh di kebun kelapa sawit dan anak-anak yang putus sekolah,” ujar Baleng.

Pada akhir tahun 2019, PKBM Mustika menaungi sekitar kurang lebih 120 peserta didik di tiga tingkat pendidikan kesetaraan, yaitu Paket A, Paket B dan Paket C, serta kelas Calistung untuk buta aksara dan angka. Oleh karena hal tersebut, PKBM membuat jadwal masuk bergantian bagi para Siswa supaya bisa mendapat waktu pembelajaran yang merata.

Ibu Siriani

Mendung di sore itu menjadi riuh ketika dari kejauhan tampak berdatangan belasan peserta didik memasuki pagar PKBM. Mulai dari remaja, dewasa, bahkan terdapat seorang peremupan dewasa dengan menggunakan sepeda motor yang datang untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Sosok perempuan tersebut sangat menarik perhatian karena merupakan satu-satunya murid perempuan yang mengikuti kelas di sore itu. Bertubuh kecil dan berambut panjang, Ia sandarkan motornya di depan ruang kantor pengajar dan berbegas menuju kelas.

Duduk di depan meja komputer paling pojok dekat pintu belakang kelas. Ia berhadapan dengan komputer yang tidak menyala karena keterbatasan kapasitas meteran listrik di PKBM Mustika dan tampak canggung.

Siriani namanya, perempuan berusia 33 tahun tersebut masih semangat mengikuti kelas untuk mempersiapkan ujian kesetaraan Paket B yang akan diujikan dalam beberapa bulan kedepan.

Ibu dari tiga orang anak ini tinggal di daerah Sotok, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Jarak antara PKBM dan rumahnya adalah sekitar 10 Kilometer, mau tidak mau ia mengendarai sepeda motor untuk dapat sampai ke PKBM demi mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kadang, ia turut membawa anak bungsunya yang masih berumur 6 tahun jika sedang rewel atau tidak ada kerabat yang dapat dititipkan untuk menjaganya.

Dalam kesehariannya, Siriani bersama dengan suaminya Jaenal (40) bekerja sebagai buruh di salah satu pekerbunan kelapa sawit di Kabupaten Sanggau. Upah yang ia dapat sebesar 500 ribu Rupiah. Bersama dengan penghasilan suaminya, ia berusaha selalu mencukupkan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.

Untuk meningkatkan penghasilan yang didapat, ia berupaya menjadi Krani (administrator) di kebun sawit yang digaji sebesar satu setengah juta Rupiah perbulan. Akan tetapi, untuk menjadi seorang Krani, perusahaan tempat ia bekerja mewajibkan harus memiliki ijazah SMA atau setara (Paket C). Atas dasar itulah, ia bersemangat untuk dapat lulus sampai dengan ujian kesetaraan Paket C.

“Kalau sekarang buruh lepas gajinya satu bulan paling 500 ribu, karena kerjanya cuma tujuh hari saja. Kalau jadi Krani bisa sampai dua juta satu bulan, paling sedikit satu setengah juta,” ucap Siriani.

Beruntung, tempat Ibu Siriani bekerja memberikan ijin bagi para buruhnya untuk mengambil Paket C. Ia pun mengambil kesempatan itu dan memulai pendidikannya dari kelas Calistung (Baca Tulis dan Berhitung) karena ia buta huruf. Setelah ia menyelesaikan kelas Calistung, Ibu Siriani melanjutkan ke Paket A selama tiga tahun dan lulus. Sekarang, sudah tahun ketiga ia mengikuti kelas Paket B, dan tahun ini ia akan menghadapi ujian ke lulusan Paket B.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
5 Tradisi Unik di Dunia,...
5 Tradisi Unik di Dunia, Salah Satunya Melempar Bayi di India
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Hungaria 2026, Hapus Dahaga Gelar 266 Hari
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
Berita Terkini
3 Yayasan Sah di Bawah...
3 Yayasan Sah di Bawah UIN Jakarta, Pengacara: Klaim Sepihak Akan Berdampak Hukum
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
Keluhkan Bongkar Muat...
Keluhkan Bongkar Muat Batu Bara di Laut, Nelayan Pulau Ampel: Jadi Susah Tangkap Ikan
Makin Fleksibel! Keliling...
Makin Fleksibel! Keliling Dunia Nggak Masalah, Daftar BRImo Kini Bisa dari 15 Negara
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
Wujudkan Desa Mandiri,...
Wujudkan Desa Mandiri, BRI Peduli Dorong Wisata dan Edukasi Berbasis Masyarakat di Ketapanrame
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved